Menyumbat Bersin, Tenggorokan Pecah

MEPNews.id – Jangan sekali-kali memencet hidung dan menutup mulut saat bersin. Ada pemuda yang bagian belakang tenggorokannya robek karena melakukan hal itu. Akibatnya, ia hampir tidak dapat berbicara atau menelan, dan merasakan sakit luar biasa.

Kasus itu dimuat dalam laporan dokter di jurnal BMJ Case Reports yang diringkas EurekAlert! edisi 15 Januari 2018. Untuk menjaga kerahasiaan pasien, laporan itu tidak mengungkap nama atau rincian kontak dari kasus dalam jurnal ini. Yang dibahas hanya kasusnya.

Kasus pecah spontan bagian belakang tenggorokan jarang terjadi. Kalau toh terjadi, biasanya disebabkan trauma antara lain terpukul. Saat terjadi, orang kadang dengan muntah atau batuk berat. Namun, pria itu mengalami pecah tenggorokan tanpa ada luka di bagian luar. Tentu saja, itu awalnya mengejutkan dokter di ruang perawatan darurat.

Saat diperiksa, pemuda itu mengaku mengalami sensasi ‘meledak’ di lehernya lalu membengkak. Itu terjadi setelah ia mencoba menahan bersin kuat dengan cara menjepit hidungnya dan menutup mulutnya pada waktu bersamaan. Beberapa saat kemudian, dia merasa sangat kesakitkan untuk menelan dan hampir tidak bisa bersuara.

Harus Dirawat

Ketika dokter memeriksanya, terdengar suara meletup dan berderak (crepitus) yang meluas dari leher sampai ke tulang rusuk. Ini pertanda gelembung udara telah menembus jaringan dalam dan otot dada. Hasil pemeriksaan kemudian dikonfirmasi oleh pemindaian tomografi komputer.

Karena risiko komplikasi serius, pria tersebut langsung dirawat di rumah sakit. Karena tidak bisa menelan, dia diberi makan lewat tabung. Ia juga diberi antibiotik intravena sampai pembengkakan dan rasa sakitnya mereda. Tujuh hari dirawat, ia cukup sehat untuk dipulangkan. Dokter menasehati agar tidak lagi menyumbat aliran udara saat bersin.

“Menghentikan bersin dengan cara menutup lubang hidung dan mulut itu manuver berbahaya, dan sebaiknya dihindari,” para penulis memperingatkan. “Ini dapat menyebabkan banyak komplikasi. Antara lain pseudomediastinum (udara terperangkap di rongga dada di antara kedua paru], perforasi membran timpani (gendang telinga berlubang), bahkan ruptur pada cerebral aneurysm (menggelembungnya pembuluh darah di otak).”

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.