Menikmati Proses Belajar

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Jika kita bertanya kepada semua orang, “Apakah Anda suka belajar?” pasti akan dijawab, “Iya, saya suka belajar.” Jawaban itu sangat umum, namun umumnya jarang yang bisa mempraktikkan.

Ketika kita bertanya, “Apakah Anda ingin lulus dengan predikat cumlaude?” jawabannya sangat mungkin, “Tentu, sangat ingin.” Ya, barisan orang yang hanya basah di bibir namun kering di tindakan memang sangat besar jumlahnya.

Maka, kita dapat menjawab pertanyaa mengapa sang juara itu jumlahnya tidak banyak. Juara itu hanya beberapa orang dari sekian ratus atau bahkan dari sekian ribu orang.

Keinginan untuk belajar memang dimiliki setiap orang. Namun, kemauan untuk merealisasikan belajar itu jarang dimiliki setiap orang. Kemauan untuk merealisasikan itu perlu energi sangat besar. Tidak cukup dengan kata-kata “mau” saja. Praksisnya juga harus ada. Tapi sayangnya, kebanyakan orang cenderung tidak mau susah. Apa lagi harus belajar ke sana dan ke mari —misalnya— hanya untuk belajar bahasa Inggris.

Tentu, jika ada jalan instan, kenapa harus repot-repot kursus berbulan-bulan? Uang punya; kenapa tidak beli saja? Kalau hanya sertifikat TOEFL, habis berapa ratus ribu sih? Tidak sampai jutaan kan? Begitu juga IELTS, mungkin Rp 2 juta selesai. Jadi, tidak perlu repot kursus. Ada uang, semua kebutuhan beres. Bukan begitu kah?

Bagi sang pembelajar, tentu jawabannya, “Bukan.” Bagi sang pembelajar, bukan hasil yang menjadi tujuannya, tapi proses. Proses akan melahirkan hal-hal baru selain tujuan yang hendak dicapai.

Melewati proses sama dengan melanggar sunatullah. Sebagaimana benda-benda ciptaan Allah yang akan menjadi hancur manakala proses itu dilewati. Misalnya, untuk mencapai malam, maka prosesnya harus melewati siang. Bila proses siang dilewati, maka bayangkan apa yang bakal terjadi. Kehidupan akan punah lantaran tidak mendapat pancaran sinar matahari. Ini satu contoh saja. Masih banyak contoh-contoh lain yang dapat dijadikan gambaran tentang pentingnya proses.

Untuk mencapai tujuan menjadi translator Inggris yang baik, tentu harus melewati proses belajar berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tanpa itu, mustahil akan menjadi translator yang baik. Sebagaimana banyak orang bijak mengatakan, “Sesuatu yang didapat secara instan, maka hilangnya juga instan.” Menurut saya, itu hukum alam yang tidak terbantahkan.

Hasil Sampingan

Proses belajar pasti melahirkan hal-hal indah di luar tujuan yang hendak dicapai. Misalnya, sekelompok pemuda belajar ingin menjadi translator yang baik di ELFAST Pare. Mereka banyak mendapatkan hal-hal unik dan lucu yang tidak akan mungkin mereka dapatkan ketika mereka melewati proses belajar di ELFAST. Mereka bisa kenal teman sekelas yang berbeda latar belakang, pendidikan, asal daerah, suku, pulau, bahasa, polah-tingkah dan sebagainya. Semua itu bisa menambah warna kehidupan mereka.

Ketika berencana ingin join di program translation, saya yakin tidak ada satu pun dari mereka yang punya pikiran, “Ah! nanti pasti kenalan dengan teman asal Pare, asal Jambi, asal Kalimantan, asal Sulawesi, asal Jombang, asal Bandung, asal NTT, asal Padang, asal Gresik, asal Subang, asal Bukit Tinggi, asal Malang, asal Surabaya.” Tidak pula punya pikiran nanti pasti ketemu dengan orang yang unik, dan kemungkinan kejadian lain di luar tujuan belajar translation. Tapi, dalam proses belajar, mereka bisa mendapatkan banyak hal.

Proses belajar apa saja sesungguhnya cerminan dari proses kehidupan kita. Selalu terjadi dinamika. Tidak eksak seperti matematika, namun dinamis seperti sosiologi. Tidak baku sebagaimana rumus fisika, tapi luwes sebagaimana Pendidikan Agama Islam (PAI) sholih li kulli zaman wa makan. Tidak bisa dihitung seperti ilmu akuntansi, namun mengalir layaknya bahasa kehidupan. Semboyan agama mengatakan, “Manusia hanya bisa berencana, Tuhan lah yang menentukan.”

Apa pun belajarnya, proses harus kita nikmati. Dengan catatan, proses itu harus berjalan di track yang benar, tidak menyimpang dari yang telah ditentukan atau yang menyertainya. Jangan sekali-kali berpaling dari proses, karena proses adalah penyambung antara rencana dan hasil. Proses juga menjadi penentu keberhasilan, sebagaimana kata bijak “Proses tidak pernah menghianati hasil.”

Semoga kita semua menjadi pembelajar yang tangguh dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh godaan serba instan yang menjauhkan kita dari proses. Aamiin.

Wallahu a’lam!

 

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.