Stop Baper, Mari Menulis

Oleh: M. Faruq Ubaidillah

MEPNews.id —– Apakah anda generasi milenial? Apakah anda sering merasa baper lalu menulis status ke-baper-an anda di media sosial (instagram, facebook, twitter, dll.)?
Tanpa kita sadari bersama gejala baper (bawa perasaan) saat ini banyak dilanda generasi milenial yang aktif dengan smartphone mereka. Sikap seperti ini sebetulnya wajar-wajar saja dan memang manusiawi.
Sebelum ada smartphone atau teknologi canggih lainnya, dulu pemuda-pemudi juga sama merasakan baper. Hanya yang mereka lakukan adalah menuliskannya di lembaran kertas hingga penuh berpuluh-puluh halaman. Lalu mereka usahakan untuk menebitkannya menjadi sebuah buku maupun tulisan di surat kabar.
Yang seperti ini bisa kita lihat dari tokoh-tokoh Indonesia mulai dari R.A. Kartini, Pramoediya Ananta Toer, W.S. Rendra, dan lain-lain. Mereka terkenal sebagai seorang penulis handal yang kalau kita ingin melihat perjalanannya, mereka mulai dari coretan-coretan kecil ketika masih muda. R.A Kartini misalnya, mulai gundah ketika ia tidak paham makna surat Al Baqoroh di Al Qur’an. Lalu meminta KH. Ahmad Soleh As Samarani untuk menerjemahkanya ke dalam bahasa Jawa. Setelah itu ia paham dan menulis catatan surat kepada temannya yang sekarang dikenal menjadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang.
Pramoediya Ananta Toer banyak menulis pikirannya mengenai perlakuan keji penjajah Belanda dan penderitaan rakyat Indonesia yang banyak dipekerja-paksakan, bahkan yang perempuan diperkosa. Tulisan-tulisannya berlanjut ketika ia menjadi tahanan penjara di zaman Orde Baru.
W.S Rendra yang terkenal dengan tulisan-tulisan puisinya juga melakukan hal yang sama. Sejak masih muda ia sudah mencorat-coret kertas sesuai dengan suasana hatiyang ia rasakan saat itu. Rupanya hal ini mengantarkan Rendra menjadi penyair terkenal saentero nusantara hingga saat ini.
Apa yang saya jelaskan di atas ini adalah contoh baper yang bermanfaat!
Kita bandingkan dengan generasi milenial saat ini. Banyak dari mereka yang aktif dengan media sosial dan sering menuliskan status-status ke-baper-an di instagram, facebook, maupun twitter, mulai dari tema percintaan, pernikahan, sekolah, kuliah, pencarian jodoh, keagamaan, dan lain-lain. Ini bukankanlah hal yang negatif menurut saya. Hanya saja perlu arah yang lebih baik untuk menjadikannya lebih bermanfaat bagi semua orang.
Bagaimana agar bermanfaat? Menulislah!
Saya akan memberikan satu langkah sederhana bagaimana baper ini bisa diarahkan ke dalam kegiatan menulis yang bermanfaat.
Dari pada menulis status di media sosial, lebih baik tuliskanlah perasaan saat itu di buku kecil atau, kalau punya, laptop. Tidak masalah apakah banyak atau sedikit karena intinya di akhir nanti sudah bisa dijadikan tulisan beberapa paragraf.
Dalam melakukan hal ini, menahan untuk tidak menulis status (bahasa gaulnya, nyetatus) penting sekali. Bersabar sebentar untuk hasil tulisan yang banyak (minimal dua halaman kertas A4) pasti akan lebih memuaskan. Saya pribadi mengalami hal serupa. Awalnya begitu kecanduan membuat status di facebook. Satu hari bisa lima sampai tujuh status. Dan itu dibaca dan dikomentari oleh teman-teman.
Setelah dirasa cukup banyak, kemudian mintalah teman untuk membaca tulisan kita. Lakukan revisi demi revisi agar kesalahan-kesalahan teknis penulisan tidak terjadi. Sembari melakukan hal ini, plototilah media-media online yang biasa menerima tulisan ringan kita untuk dimuat. Perlu dicatat bahwa tidak semua media tersebut memberi honor untuk tulisan kita. Tapi tak apa! Tujuan awal adalah agar terbiasa menulis dan berhenti baper di media sosial lagi.
Namun, jika tak merasa percaya diri mengirimkan tulisan ke surat kabar online. Cobalah untuk membuat blog pribadi dan mulai menulis secara teratur. Jika ini berhasil dilakukan dengan baik, nantinya Anda akan termotivasi menulis di media yang lebih ‘bergengsi’.
Menulis itu memang melelahkan. Butuh perjuangan bagi para pemula, dan disiplin yang tinggi juga bacaan yang banyak bagi yang sudah berpengalaman sekalipun.
Seorang Tere Liye tidak akan bisa menulis cerpen jia ia tak punya waktu banyak utnuk menulis, perasaan stabil untuk melhairkan ide-ide kreatif, dan tenaga yang besar untuk sekedar menggerakkan jari tangan di atas laptop.
Seorang Ahmad Fuadi tak akan bisa menulis di koran jika tak punya banyak informasi terkait topik yang ia tulis dan jam terbang tinggi dalam menemui narasumber untuk sekedar meminta informasi yang akurat.
Generasi milenial saat ini adalah mereka yang memiliki banyak peluang emas untuk menulis. Waktu yang mereka punya untuk bermain smartphone tak terbatas. Informasi yang bisa mereka peroleh sudah membludak. Jadi, apa laggi keluh kesah untuk tak menulis?
Menulis itu dapat menghilangkan stres. Pikiran yang rumit tentu saja membutuhkan media untuk dicurahkan. Terkadang, tak banyak sahabat yang bisa menjadi pendengar yang baik, untuk sekedar dicurhati. Namun, media yaitu laptop atau buku diari kecil adalah alat yang selalu setia mendengarkan keluh kesah kita kapan pun dan dimana pun!
Itulah tips sederhana dari saya bagi kamu-kamu yang suka baper di medsos. Ingat kata Imam Al Ghozali, “jika kamu bukan anak orang kaya apalagi ulama, MENULISLAH!”. Kita mulai dari hal yang sederhana ini. Ya sekarang. *
Penulis adalah aktivis pendidikan dan sosial.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.