Mau Tahu Cara Cepat Belajar dan Mengingat?

MEPNews.id – Siapa saja harus melatih diri keterampilan belajar jika ingin berjuang meraih semua tujuan mulia di masa depan. Tapi, beberapa di antara kita terus belajar –dan berpikir– dengan cara yang sama sepanjang hidup tanpa memperbaiki metode mereka. Padahal, sains kognitif bisa melihat bagaimana cara orang bisa benar-benar belajar, serta hasilnya cukup mengejutkan dan sangat membantu.

Nah, berikut ini Chris Weller dalam Business Insider edisi 29 Agustus 2016, menuliskan sejumlah metodenya;

Skill lebih mudah dipelajari jika sebagian-sebagian

Jika ingin belajar main gitar, jangan berpikir melakukan semua bagian sekaligus. Susah! Maka, tetapkan tujuan yang lebih kecil dan terukur lebih dulu untuk dipelajari. Misalnya, hafalkan kord yang mudah, lalu bagaimana memetik dengan benar, lalu bagaimana menempatkan kord bersama-sama. Seiring waktu, akumulasi ketiganya akan menambah kemampuan bermain gitar. Ini adalah teknik yang berlaku bagi pembelajaran mekanis serta pelajaran berbasis fakta.

Multitasking itu sulit, terutama untuk menyimpan informasi

Banyak orang sadar bahwa multitasking itu cuma mitos. Otak tidak dapat memberikan perhatian yang sama terhadap dua atau lebih tugas yang dihadapi secara bersamaan. Maka, tugas harus dipecah menjadi beberapa langkah, lalu pastikan untuk mencurahkan energi penuh ke setiap langkahnya. Bila terganggu, diperlukan sekitar 25 menit untuk mengembalikan fokus ke tugas semula. Multitasking bisa berarti umumnya kita hanya mendapatkan sedikit pemahaman tentang berbagai skill atau konsep berbeda, tanpa memperoleh pengetahuan mendalam atau penguasaan ketrampilan.

Tulis pelajaran agar memperkuatnya dalam pikiran

Jika ingin mengubah informasi menjadi pengetahuan, maka tuliskan dengan tangan apa saja yang kita sudah pelajari. Penelitian pada 2014 menemukan, siswa yang mencatat dengan pena di atas kertas bisa belajar dan mengingat lebih banyak daripada siswa yang mengetik di laptop. Dengan serangkaian tes, kelompok siswa dengan pena dan kertas lebih ahli dalam mengingat fakta, memilah ide kompleks, dan mengenkripsi informasi. Periset mengatakan, tindakan fisik menyentuhkan pena ke kertas bisa menciptakan hubungan kognitif lebih kuat pada materi. Jika mengetik di laptop, prosesnya terlalu cepat bagi berlangsungnya retensi di otak. Menulis memaksa kita menghadapi gagasan secara langsung, yang membuat kita lebih ‘lengket’ mengingatnya dari waktu ke waktu.

Kesalahan juga patut disyukuri untuk dipelajari

Sempurna itu tidak mungkin. Inti pembelajaran adalah mencoba, gagal, mencoba lagi, gagal lagi, hingga menemukan di mana letak salahnya dan bagaimana memperbaikinya. Pada 2014, penelitian tentang pembelajaran motorik menemukan bahwa otak memiliki cukup ruang untuk mengakomodasi kesalahan yang kita buat. Nantinya, kita bisa mengambil memori keliru itu untuk di lain waktu menjadi lebih baik. Jika orang tua melarang anak melakukan kesalahan, atau menyuruh anak menghindari kesalahan saat terjadi, maka anak kelak akan kehilangan banyak pengetahuan.

Optimisme membantu kesuksesan

Menekan penguatan kondisi negatif bisa membuat kita terjebak dalam kebiasaan mental negatif pula. Misalnya, ‘keraguan’ dan ‘kecemasan’ bisa menjadi racun bagi pempelajaran. “Kegelisahan menghalangi kita mengeksplorasi solusi nyata dan pola-pola pikir nyata yang menghasilkan solusi,” kata profesor Alison Wood Brooks dari Harvard Business School.

Beberapa dekade penelitian psikologi positif menunjukkan, kita akan menjadi lebih sukses dalam segala hal jika kita mendekatinya dengan pikiran terbuka dan melihat ruang nyata untuk perbaikan. Maka, orang tua harus mengajari anak-anak untuk memandang bahwa belajar itu proses eksplorasi. Ini akan membantu memberi anak rasa keteguhan, yang bisa menjadi nyali saat anak menghadapi keadaan sulit.

Topik menarik bakal lebih ‘lengket’ daripada topik membosankan

Anak-anak secara alami suka hal-hal yang aneh dan menggembirakan. Tapi, begitu menghadapi hafalan yang membuat mereka berpikir sulit, maka rasa gembira itu bisa padam. Orang tua jangan biarkan hal itu terjadi pada anak. Sedini mungkin, anak-anak harus mendapat apresiasi dari orang tua mengapa mereka bisa mengingat bau aneh rumah Nenek atau celana pendek kuning yang dipakai ayah pada malam hari. Apresiasi perlu diberikan karena anak-anak itu unik.

Joshua Foer, penulis yang juga mantan juara mengingat di Amerika Serikat, bisa menghafalkan tumpukan kartu dalam waktu kurang dari dua menit karena ia menghubungkan setiap lembar kartu dengan imaji yang aneh-aneh. Untuk memudahkan mengingat, kita boleh menghubungkan sesuatu dengan misalnya daftar nama presiden atau nama jalan menuju kota tertentu.

Membaca cepat bisa menyingkat waktu belajar

Jika bisa membaca lebih cepat, maka belajar bisa lebih dipercepat. Jangan takut bahwa membaca cepat itu butuh banyak usaha. Ada sejumlah pelatihan untuk otak dan mata agar bisa membaca cepat. Dengan melatih otak memproses kata-kata lebih cepat, maka orang terbiasa membaca kata-kata secara keseluruhan, daripada membayangkan masing-masing kata secara terpisah –yang memperlambat baca.

Latih, latih, dan latih terus

Etika kerja yang kuat berdampak nyata pada otak. Penelitian pada 2004 yang diterbitkan di Nature menemukan, juggling (menendang-nendang bola sehingga tidak jatuh ke tanah) menghasilkan lebih banyak materi abu-abu dalam otak. Saat berhenti juggling, materi abu-abu itu lenyap. Peneliti menyebut, tidak ada yang istimewa dari juggling. Yang istimewa adalah pengulang-ulangannya. Pakar neuroscience menyebutnya sebagai proses ‘membuka jalan’. Ini mengacu pada jalur baru dalam otak yang diukir karena tubuh fisik melakukan tindakan berulang-ulang. Pada titik tertentu, pengulang-upangan itu membentuk ‘jalur jalan’ yang bertahan selamanya di otak. Dengan kata lain, keterampilan itu mengikuti prinsip ‘use-it-or-lose-it’.

Gunakan apa yang sudah ketahui untuk mempelajari apa yang belum diketahui

Jika bengong menghadapi topik tertentu, coba pahami bagaimana kaitannya dengan sesuatu yang telah kita ketahui dan pelajari. Ini disebt associative learning. Contoh, ada anak yang suka sepak bola tapi kesulitan mempelajari kalkulus diferensial. Maka, bimbing ia untuk melihat arah bola yang ditendang melambung, lalu tunjukkan kesamaannya dengan kemiringan kurva di kalkulus diferensial. Dengan menghubungkan apa yang disukai, ia akan memiliki kesempatan lebih baik untuk memahami konsep lebih abstrak.

Lupa tidak selalu buruk, asal tahu mengatasinya

Kita harus belajar bagaimana mengatasi masalah-masalah sulit; tindakan tersebut mengajarkan kita disiplin. Tapi, bukti menunjukkan menghabiskan terlalu banyak waktu bergelibat dalam masalah ternyata juga bisa memperburuk keadaan. Pada 2008, para periset menemukan bahwa kondisi sering ‘terselip lidah’ yang tidak segera terselesaikan secara bertahap dapat membuat orang tergelincir ke dalam ‘kesalahan lidah.’ Itu terjadi karena memori tentang konsep atau fakta sudah digantikan oleh memori tentang ‘terselip lidah’ itu. contoh solusinya; jika pernah mengetahuinya tapi tidak bisa mengingatnya, manfaatkan Google saja.

Mengajari orang lain membantu kita belajar lebih banyak

Para ilmuwan menyebutnya ‘the protégé effect‘ alias ‘efek anak didik’. Bila kita mengambil memori yang telah kita pelajari lalu mengeluarkannya menggunakan kata-kata sendiri, maka kita tidak hanya menunjukkan pemahaman atas gagasan itu tapi juga memperbaiki pemahaman kita sendiri tentang hal itu. Contoh kasus; dalam menyuling informasi menjadi potongan-potongan kecil yang lebih bisa dicerna dengan mudah oleh murid, guru harus mendapatkan keintiman tertentu dengan materi pelajarannya itu. Contoh lain; kakak umumnya lebih pintar daripada adiknya kalau ia suka mengajari adiknya. Studi pada 2007 menjelaskan, kondisi lebih pintar itu karena salah satu pekerjaan kakak adalah menyampaikan pengetahuan pada adiknya setelah ia memahaminya.

Facebook Comments

POST A COMMENT.