Spion Buat Apa?

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Berbicara tentang spion, saya teringat masa lalu ketika masih suka ‘mrotholi’ bagaian-bagian sepeda motor. Menurut kebanyakan anak muda waktu itu —termasuk saya— naik motor yang tidak standar adalah lebih gaul. Misalnya; spion hanya satu, dan menggunakan spion modifan. Jok, jika masih standar, juga kurang keren, maka kudu dikepras. Shockbreaker yang standar baru disebut keren setelah dikasih pangkon atau diganti lebih tinggi. Ada berbagai macam modif ala jaman SMK saya, pokoknya.

Tapi, saya ingin fokus pada spion. Anak seusia saya, ketika SMK dulu, hampir dipastikan tidak ada yang memasang spion lengkap kiri dan kanan. Kalaupun ada, itu spion bukan bawaan dari pabrik. Biasanya sudah diganti dengan spion modifan yang cenderung tidak memperhatikan fungsi spion dengan baik. Ada yang lurus dengan handle stang, ada pula yang meski sudah agak ke atas tapi tangkai spion sangat pendek. Dampaknya saja; spion tidak berfungsi dengan baik.

Sekarang saya jadi heran mengapa dulu suka sekali mengendarai motor tanpa spion. Saya heran kenapa dulu saya harus menoleh ke kebelakang dulu ketika akan belok. Jika ingin mendahului harus menoleh ke belakang dulu. Nah, ketika malas, saya nyelonong begitu saja, sehingga tidak jarang saya dapat cacian dari pengedara lain.

Saat ini, saya mengendarai motor suka ‘ngomel-ngomel’ sendiri. Kadang mengomelnya hanya dalam hati. Kadang juga saya suarakan, tapi jelas tidak terdengar oleh pengendara lain. Mengapa saya ngomel-ngomel? Karena saya jengkel pada pengendara yang suka meludah, tapi tidak melihat ada orang di belakangnya. Saya juga jengkel pada pengendara yang ketika ada pengendara yang ingin mendahului tapi ia tidak melihat kendaraan di belakang yang sudah siap di tengah ingin mendahului. Saya jengkep pada pengendara yang seolah tanpa merasa berdosa dia nyelonong mendahului begitu saja. Padahal, para pengendara ini memiliki spion lengkap dan strandar di sepeda motornya.

Lalu, buat apa spion sebenarnya? Setidaknya, menurut pengalaman saya, spion memiliki banyak sekali manfaat. Hal ini juga yang menyebabkan saya insaf dan mengembalikan spion standar pada tempatnya, serta berjanji tidak mengganti spion dengan modif atau bahkan menghilangkannya.

Sebenarnya secara umum fungsi spion adalah untuk melihat kendaraan yang melaju di belakang kita. Namun, secara khusus, fungsinya bermacam-macam yaitu;

Pertama, untuk melihat kendaraan yang ada di belakang ketika akan belok kanan atau kiri. Cukup dengan melihat dari spion, kita sudah tahu ada dan tidaknya kendaraan yang melaju kencang di belakang. Tapi, pastikan dulu spionnya ada kacanya. Kita tidak perlu menoleh ke belakang, tapi cukup melihat di spion. Jika kurang yakin dengan spion kanan, lihat dengan spion kiti. Maka, bisa dipastikan dua kaca spion tidak akan berbohong.

Kedua, untuk melihat kendaraan yang ada di belakang ketika kita hendak mendahului kendaraan di depan kita. Penting memastikan tidak ada kendaraan di belakang yang sama-sama ingin mendahului. Atau setidaknya kita harus memastikan jika tidak ada kendaraan di belakang kita yang lebih siap melaju mendahului. Ketika sudah memastikan tidak ada kendaraan yang sama-sama ingin mendahului, selanjutnya kita harus menyalakan lampu sain (reting kanan), sekaligus untuk meyakinkan diri kita.

Ketiga, untuk melihat kendaraan yang ada di belakang, ketika ingin meludah. Ini penting. Ketika ingin meludah sambil mengendari sepeda motor, penting untuk memastikan tidak ada kendaraan yang jaraknya dekat dengan kita, sehingga tidak memungkinkan ludah kita mengenai orang lain. Meski sebaiknya tidak meludah ketika berkendara, tapi mungkin saja kita dalam kondisi darurat harus melakukan itu. Jadi, saat mau meludah, pastikan tidak ada kendaraan dekat di belakang kita melalui kaca spion.

Keempat, untuk mengechek kalau-kalau ada kendaraan di belakang yang akan mendahului kita. Berkendara tidak hanya fokus melihat ke depan, tapi lirik juga kendaraan yang ada di belakang. Jika hanya fokus dengan yang di depan, berarti kita mendholimi yang di belakang. Tentu kita pernah, ketika akan mendahului kendaraan, tiba-tiba justru kendaraan di depan kita juga mendahului. Ini bisa membuat kita panik. Jadi, berkendara dengan selalu mengecek kendaraan melalui kaca spion, bisa juga diartikan bertoleransi dalam berkendara. Tidak terkesan “sak karepe dhewe,” melainkan menghargai sesama pengguna jalan.

Kelima, untuk mengontrol rombongan ketika sedang berkendara dengan banyak orang. Tentu untuk memastikan teman ada dekat di belakang kita atau tidak tidak harus menoleh ke belakang. Nah, cukup dengan dengan melirik ke kaca spion untuk mengeceknya. Selain mudah, juga meminimalisir terjadinya laka lantas akibat lalai berkendara.

Sebenarnya masih banyak yang lainnya. antara lain; untuk dandan; cek jilbab miring atau tidak; cek gigi habis makan pecel masih ada cabenya atau tidak; hingga cek di belakang apakah dikejar polisi atau tidak saat menerobos lampu lalu lintas. Hehehe. Ups! Tidak boleh.

Intinya sebenarnya, mari berkendara dengan bijak. Tidak hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, namun juga keselamatan orang lain. Memperhatikan keselamatan orang lain sejatinya juga memperhatikan keselamatan diri kita sendiri.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.