Jolotundo dan Sejumput Cerita Mafia Dunia Seniman di Surabaya

Catatan Perjalanan Ritual Ke Jolotundo :

IMG-20171227-WA0001

MEPNews.id —- Candi Jolotundo, merupakan bangunan Patirtan peninggalan Raja Udayana dari Bali diperuntukan bagi Raja Airlangga setelah dinobatkan menjadi Raja Sumedang Kahuripan.

Secara geografis Candi Jolotundo berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut (Mdpl) tepatnya di bukit Bekel, lereng barat Gunung Penanggungan.

Lokasinya berada di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto, Jawa Timur.

Petirthan Jolotundo, ini memiliki sumber mata air kualitasnya terbaik setelah air zam-zam atau nomer dua dunia. Tak pelak, masyarakat Mojokerto maupun luar Mojokerto, banyak datang untuk melakukan ritual dan mengambil air dipercaya memiliki banyak khasiat ini.

Candi Jolotundo terdapat dua sendang (tempat mandi) berdindingkan batu, di sisi kiri dan sisi kanan, berukuran 2×2 meter menghadap ke Barat. Air sumber keluar dari lubang di tengah batu dinding di sisi timur. Sementara di tengah ada kolam bertingkat, dan dibawahnya terdapat kolam berukuran sekitar 6×8 meter, dan banyak terdapat ikan berukuran besar.

“Dipercaya, dua sendang di Candi Jolotundo, merupakan tempat mandi petinggi dan kerabat kerajaan untuk mensucikan diri. Kolam di sisi kiri Candi untuk tempat mandi laki laki, sedangkan di sisi kanan untuk tempat mandi “.

Jumat ( 12 /1/18 ) bertepatan dengan Jumat Pahing malam Sabtu Pon ( 13 / 1 / 18 ), Pukul 23. 00, Rombongan Komunitas Bambu Runcing Surabaya ( KBRS ) tanpa direncanakan kemudian melahirkan sepakatan malam itu untuk melakukan ” Perjalanan Ritual ” ke petilasan Jolotundo, Trowulan, Mojokerto. Perjalanan ditempuh selama 90 menit dengan mengendarai 2 mobil. Perjalanan tersebut dipandu oleh Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur ( DKJT ), Taufik Monyong. Rombongan KBRS terdiri dari 12 orang. Selain itu juga secara tidak sengaja bertemu dengan Bu Ngatinah yang biasa dipanggil Bu Tinah, Seniman Ludruk, Irama Budaya, Wisnu Budaya.

Dalam perjalanan disempatkan mampir ke Pasar Waru untuk membeli bekal peralatan ” ritual ” . Rombongan membeli bunga setaman, kinangan, dan dupa. Kembang Setaman digunakan untuk melakukan ritual mandi di sumber mata air, yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, karena kualitas airnya yang hampir sama dengan air zam zam.

Selama perjalanan, Bu Tinah banyak bercerita tentang laku yang sudah dijalaninya, yang mengalami liku dan berbagai cobaan. Nampaknya beliau seperti sebuah buku yang bisa bercerita tentang banyak hal berkaitan dengan hidup dan kehidupan. Diusianya yang sudah senja, beliau juga bercerita bagaimana getirnya menjalani sebagai seniman ludruk, mulai dari tidak adanya perhatian pemerintah kota Surabaya dan mafia seniman yang mengharuskan beliau ” meminta ijin ” terhadap oknum seniman kalau beliau melakukan pentas kreasi kesenimanan ludruknya. Bahkan tidak jarang hasil keringatnya ” dipalak ” oleh oknum seniman tersebut.

” Biarlah saya diperlakukan seperti itu, saya hanya ingin berkreasi, saya masih punya penghasilan lain sebagai tukang pijet, dan tanggapan lain ludruk saya sendiri ” Ujar Bu Tinah dengan getir dan pasrah. ” Gusti Allah mboten sare “, Lanjutnya.

Dunia seniman dan kebudayaan yang sejatinya penuh dengan nilai nilai akal budi dan keluhuran, ternyata juga masih ada praktik praktik mafia diantara sesama seniman. Bagaimana seniman bisa memberi sumbangsih membangun bangsa yang beradab, kalau diantara mereka sendiri juga masih ada yang mempraktikkan perilaku tidak beradab?

Petilasan Jolotundo, Trowulan, Mojokerto
Pukul 03.30, Sabtu, 13 Januari 2018
M. Isa Ansori

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.