Budaya Kita Banyak Bicara dari pada Membaca? Mitos!

Oleh: M. Faruq Ubaidillah, S.Pd

MEPNews.id —-Membincang literasi dalam konteks Indonesia selalu menarik untuk dinikmati. Berbagai peraturan dibuat oleh pemerintah guna untuk meningkatkan literasi para pelajar di Indoensia. Hal ini telah dilaksanakan semenjak pemerintahan Orde Baru Suharto dulu yaitu dengan banyak membangun sekolah dasar negeri di seluruh pelosok Indonesia dan menggalakkan program Kejar (Kelompok Belajar).
Di zaman presiden SBY pada tahun 2004 hingga 2014 pun peningkatan literasi ini juga terus digalakkan dengan program unggulannya yaitu taman bacaan masyarakat dan perpustakaan keliling (mobile libraries). Hingga sekarang, yang namanya isu literasi dalam dunia pendidikan di Indonesia masih terus dibincangkan.
Banyak LSM yang melakukan terobosan-terobosan baru demi mencukupi ketersediaan buku bacaan bagi para pelajar khususnya yang tinggal di daerah terpencil di Indonesia. Salah satunya yang sering kita lihat adalah kegiatan ‘Sumbang Buku’ dalam program baksos mahasiswa perguruan tinggi atau pun alumni.
Dalam tulisan sebelumnya, penulis telah memberikan konsep sederhana untuk membantu para pelajar menikmati kegiatan membaca buku baik di dalam maupun luar sekolah. Konsep tersebut dikenal dengan istilah Free Voluntary Reading yang digagas oleh Stephen Krashen, seorang pakar pemerolehan bahasa kedua (second language acquisition) dari Universitas Southern California, dan dikenalkan pertama kalinya di Indonesia oleh Setiono Sugiharto lewat tulisannya di banyak jurnal ilmiah dan media lain.
Namun, konsep tersebut nampaknya akan menemui jalan buntu dalam pengimplementasiannya di lapangan. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh konsensus umum di tengah masyarakat kita bahwa budaya orang-orang Indonesia adalah lebih banyak berbicara ketimbang membaca. Tentu pendapat ini menjadi batu sandungan untuk mempelajari lebih dalam apa sebenarnya penyebab rendahnya literasi pelajar di Indonesia.
Penulis dalam kolom kali ini mengajukan tesis kbahwa onsensus tersebut di atas adalah mitos belaka. Bahwa tingkat literasi pelajar kita saat ini sedang berada pada titik nadih yang parah adalah benar. Hal ini telah diungkapkan oleh beberapa lembaga internasional dalam pengamatannya selama beberapa tahun. Ditambah dengan adanya persepsi bahwa budaya kita lebih banyak bicara dari pada membaca tentu menambah parah kondisi tersebut dan terlihat keputusasaan dalam pemecahannya di lapangan.
Sebetulnya, jika kita ingin menengok fakta di lapangan, konsensus tersebut tidaklah benar adanya. Banyak dari para pelajar yang setiap akhir pekan mengunjungi toko buku untuk membeli buku-buku bacaan yang menarik minat mereka. Di antara buku-buku yang banyak dibeli adalah novel, komik dan cerita pendek. Mengapa kedua buku ini?
Kegiatan membaca tidak bisa dipisahkan dari rasa senang. Novel, komik dan cerpen adalah contoh bacaan yang menyenangkan mereka. Banyak cerita dan inspirasi atau bahkan hiburan percintaan dalam keduanya yang mampu mengisi waktu senggang para pelajar di luar sekolah.
Tidak ada alasan yang dapat membantah bahwa pelajar kita sebetulnya suka membaca. Di jam-jam istirahat di sekolah dan di kampus misalnya, banyak di antara mereka yang membaca novel dan cerpen ketimbang buku-buku ilmu pengetahuan. Padahal terkadang jumlah halaman novel jauh lebih tebal dari pada buku paket pelajaran di sekolah. Contah, novel karangan Tere Liye dan Ahmad Fuadi yang laku keras di kalangan remaja kita kendatipun halamannya cukup tebal.

BACA JUGA :

@   Menulis Bisa Melepas Beban Hidup

@    Menumbuhkan Anak Suka Berkarya Tulis
Apakah kemudian kegiatan membaca buku-buku seperti ini (novel, cerpen, komik, dll.) tidak memberi nilai pendidikan atau meningkatkan kecerdasan kognitif bagi yang membacanya? Stephen Krashen dalam penelitiannya meyakini bahwa mereka telah melakukan proses perpindahan pemahaman dan tingkat kecintaan dari buku bacaan sederhana ke yang lebih serius. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa membaca yang bagus harus dimulai dari buku bacaan yang ‘serius’ itu tadi.
Yang menjadi permasalahan kita adalah, menurut Setiono, masyarakat luas lebih memandang buku bacaan di sekolah harus diutamakan agar bisa mendapat nilai yang bagus ketika ujian dan paham materi yang dipelajari. Mereka melihat bacaan seperti novel dan sejenisnya tidak bermanfaat untuk menunjang kemapanan akademik.
Standar berpikir seperti inilah yang kemudian dijadikan sebuah konsensus umum di kalangan masyarakat. Penulis pernah mengalami sendiri ketika masih duduk di bangku SMA beberapa tahun yang lalu. Sebuah novel yang penulis bawa diambil oleh seorang guru dalam kegiatan penggledahan dan tidak dikembalikan karena ditakutkan mengganggu konsentrasi dalam pembelajaran.
Pengalaman kedua penulis dapati ketika menjadi pengajar di sebuah sekolah SMA swasta yang bonafit di Jawa Timur satu tahun yang lalu. Banyak dari novel-novel anak didik penulis yang diambil paksa dan lalu dibakar oleh para petugas keamanan dengan alasan dapat mempengaruhi pola berpikir yang tidak sesuai kaidah keilmuan. Inilah wajah pemahaman literasi kita di Indonesia!
Penulis meyakini bahwa konsensus umum tentang rendahnya literasi yang disebabkan oleh budaya berbicara sebetulnya hanyalah mitos belaka karena jika itu fakta, tentu para penulis novel dan cerpen dan toko buku di kota-kota besar di Indonesia sudah tentu gulung tikar sejak dulu.

Tapi kenyataannya tidak, kan?
Satu-satunya jalan keluar adalah dengan menyediakan banyak bacaan yang menarik bagi para pelajar kita. Ya sekarang! ***
Penulis adalah aktivis pendidikan dan pemerhati sosial.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.