Mewawancarai Diri Sendiri

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Yang paling gampang dan simple itu adalah mewancarai diri kita sendiri. Polos dan apa adanya. Tidak butuh kalimat prosedural puja puji basa basi menggiring terlebih dahulu kesana kemari baru kemudian ke inti pertanyaan yang akan diajukan.

Ada yang bilang kualitas pertanyaan menunjukkan kualitas diri. Semakin berkelas bobot pertanyaan, semakin naik pula kecerdasan pengetahuan dalam diri. Bagi yang tak mengerti apa-apa, maka tak akan bertanya apa-apa. Gelisah pun tidak. Jika berketerusan tak mengasah akal dengan gelisah dan bertanya, bisa-bisa terjerumus ke ula’ika kal an’am, bal hum adhol. Mereka seperti binatang ternak karena tak mengasah fungsi akal, mata, telinga, dan hati. Bahkan lebih rendah melebihi kaum hayawan ternak tersebut.

Gelisah itu perlu. Termasuk juga rasa malu  dan takut. Sangat perlu. Jika tidak, matilah normalisasi perasaan kita sebagai umumnya manusia, serta membangkailah kita. Yang kurang tepat ialah over dosis gelisah, tak mengolah dengan tepat regulasi gelisah dalam diri, karena bisa jadi dari gelisah ini awal mula pencerahan atas kehidupan kita.

“Wawancarailah dirimu sendiri. Gak usah bertanya hasilnya. Coba wawancarailah sebentar saja, misalnya: kenapa sih kamu kok gelisah?” Kata seorang kawan yang baik hati suatu ketika di malam yang menuju sunyi.

“Lama-lama kamu akan mengerti banyak hal,” sambungnya lagi.

Baca juga :  * Diskusi Tanpa Agama   *  Dipuji dan Dibully   *  Hendaknya Menahan Diri

Tentu saja mewawancarai diri sendiri ini merupakan bagian dari tafakkur, berfikir dan merenung. Kita bisa pasrah kepada Allah agar senantiasa dituntun, diarahkan, diberikan keselamatan dan kebaikan. Akan tetapi sebab akibat normal menuju semua itu perlu juga kita tempuh, salah satunya adalah mewancarai diri sendiri tersebut.

Semakin bertanya kepada diri sendiri, semakin berpotensi pula mengenali diri sendiri. Kalau diri ini ternyata api, maka ia akan mengerti sebaiknya ia bergerak kemana, mendekat kemana, serta berbuat yang bagaimana. Jika api terlalu lama bergaul dengan air maka ia akan padam dan mati, hancur luluh dan tiada.

So, dengan apakah kita semua bergaul hari-hari ini? Dengan narkoba atau sabu-sabu? Dengan racun ataukah jamu? Dengan kearifan ataukah kebencian? Dengan toleransi ataukah egoisme? Dengan kelembutan ataukah kekerasan?

Jika dianggap merenung atau mewawancarai diri sendiri ini dianggap penting, silahkan lakukanlah walau sejenak. Jika merenung menahan diri untuk diwawancarai sejenak ini saja dianggap tidak penting, tinggalkanlah, melajulah, dan melesatlah entah kemana.

Shalat Dhuha itu penting, tapi kalau bisa jangan bikin group Shalat Dhuha. Dijalani saja tanpa group. Jika merenung dan mewancarai diri sendiri itu penting, akankah kita kemudian bikin group Wawancara Diri Sendiri, disingkat WDS? Jika pikiran kita lagi ngeres, dari WDS kita jadi ingat WTS: Wanita Tuna Susila. Terkadang terlalu banyak group bagai sekat dan penjara. (Banyuwangi, 12 Januari 2018)

Facebook Comments

POST A COMMENT.