Keadilan dan Pilihan Allah

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Ketika mendengarkan ceramah-ceramah KH. Zainudin MZ, saya menemukan anekdot berkaitan tentang keadilan Allah SWT. Anekdot tersebut kurang lebih demikian;

Ada seorang yang sedang duduk di bawah pohon beringin. Sambil mengumpat, ia mengatakan “Allah sungguh tidak adil. Masak pohon beringin yang pohonnya sebesar ini buahnya sangat kecil. Sedang pohon labu yang pohonnya kecil ringkih, sekadar menyangga daunnya saja tidak mampu, justru buahnya sangat besar,” ungkapnya.

Kemudian, belum selesai orang itu mengungkapkan umpatan-umpatannya tentang keadilan Allah, tiba-tiba dahinya kejatuhan buah beringin. Cetuk! Spontan orang itu pun mengatakan, “Subhanallah, astaghfirullah. Andai saja buah pohon beringin ini sebesar buah labu, maka jadi apa kepala saya ini?” sesalnya.

Ini contoh bahwa betapa terbatasnya manusia dalam memahami ciptaan Allah. Barangkali ini bagian terkecil saja dari ciptaan Allah yang lainnya. Masih banyak ciptaan Allah yang mungkin tidak difahami oleh manusia untuk apa makhluk itu diciptakan dan apa manfaatnya.

Kita kadang juga pernah melakukan umpatan demikian kepada Allah. Ya, mungkin tidak mengumpat secara langsung seperti contoh di atas, namun secara tersirat mengandung makna bahwa Allah tidak adil.

Misalnya, ketika ditimpa musibah, saking kesalnya maka kita mengatakan Allah tidak adil. Kenapa diperlakukan demikian, sedang yang lain tidak? Kenapa keadaan kian memprihatinkan, sedang yang lain bisa hidup bahagia? Dan ungkapan-ungkapan protes lainnya, yang pada intinya menyalahkan ketetapan Allah. Seolah keputusan Allah tidak tepat.

Dijelaskan dalam al-Quran bahwa, “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Ayat ini tegas menjelaskan pada kita sedikit sekali rahasia Allah yang dapat kita ketahui.

Banyak sekali hikmah yang dapat kita petik seandainya kita berbaik sangka terhadap ciptaan dan ketetapan Allah. Kaitan dengan ini saya teringat sebuah kisah seorang raja dan seorang meteri. Sang menteri senantiasa mengatakan “alkhairu khiratallah.” Yang terbaik adalah pilihan Allah.

Saat sang raja mendapat musibah jarinya terputus, sang menteri tetap mengatakan, “Yang terbaik adalah pilihan Allah.” Jari raja terputus adalah yang terbaik. Mendengar ucapan sang menteri, lalu sang raja murka dan menjebloskan menteri tersebut ke dalam penjara.

Nah, pada suatu hari, raja dan beberapa prajurit berburu. Mereka kemudian tersesat di suatu tempat dan bertemu segerombolan orang primitif yang percaya terhadap dewa tertentu. Rombongan raja tersebut akhirnya ditangkap dan disembelih satu persatu. Tatkala tiba giliran sang raja untuk dikorbankan, orang-orang primitif ini mendapati jari raja ini tang putus. Mereka menganggap raja ini orang cacat yang tidak pantas dikorbankan pada sesembahan mereka. Raja pun dibebaskan.

Merasa dirinya selamat karena jari yag putus, raja pun teringat kata-kata meterinya. Dengan segera raja pulang dan membebaskan menteri seraya mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf, bahwa apa yang dikatakan oleh menteri benar. Jari yang putus adalah yang terbaik. Misalnya, jari raja tidak putus, maka raja sudah pasti menjadi tumbal orang primitif.

Terlepas kisah di atas nyata atau tidak, saya hanya ingin menampilkan bahwa banyak rahasia Allah yang tidak kita ketahui. Apa yang menurut manusia baik, belum tentu baik menurut Allah. Oleh karena itu, berbaik sangka kepada Allah adalah jalan yang baik. Percaya sepenuhnya dengan keadilan Allah pada ciptaanNya adalah jalan yang juga baik.

Semoga kita diberi kesabaran untuk senantiasa menerima segala bentuk ujian dan cobaan dari Allah, dan selanjutnya dapat dengan legowo mengais hikmah di balik itu semua.

Aamiin.

Facebook Comments

POST A COMMENT.