Gus Dur dan Substansi Pendidikan

Oleh: M. Faruq Ubaidillah, S.Pd

MEPNews.id —-Upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tidak main-main. Melalui kementrian pendidikan dan kebudayaan, kabarnya format baru Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) telah diumumkan oleh Prof. Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat ini.
Meski kebijakan tersebut mendapat banyak sorotan dari para aktivis pendidikan, kementrian tetap akan mengimplementasikannya mulai dari tingkat SD hingga SMA. Bahkan, untuk menunjang kesuksesan pelaksanaannya, dana sebesar 320 miliar tengah disiapkan oleh kementrian untuk proses pelatihan pembuatan soal ujian kepada para guru nantinya.
Pendidikan di Indonesia terasa begitu rumit dan ‘jalan ditempat’. Sulitnya birokrasi, beban kerja guru yang tidak realistis, rendahnya minat baca pelajar, fasilitas yang kurang, tingginya angka putus sekolah, hingga adanya gap antara lulusan sekolah yang tidak kompetitif dengan perkembangan zaman menambah pelik urusan pendidikan di negeri yang subur ini.
Dalam kondisi seperti ini, perlu kiranya kita menengok ke belakang dan melihat satu sosok inspiratif untuk kita contoh dalam bidang pendidikan. Gus Dur!
Sosok Gus Dur, selain terkenal dengan pembelaannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan di tanah air, juga sebetulnya sangat patut kita pelajari semangatnya dalam hal pendidikan—lebih spesifik lagi, membaca dan menulis!
Gus Dur memang bukan seorang lulusan doktor, apalagi profesor, namun pengetahuan yang ia dapatkan sudah melebihi seseorang yang bergelar doktor dan profesor. Tidak heran jika puluhan gelar doktor honoris kausa dan penghargaan lainnya telah ia raih dari dalam dan luar negeri.
Dalam diri Gus Dur sejak kecil telah tertanam semangat membaca. Hampir semua buku bacaan ia miliki, dari yang paling sederhana hingga yang rumit untuk dipahami.
Menurut KH. Mustofa Bisri, sahabat dekat Gus Dur, sejak di Al Azhar Mesir, Gus Dur tidak pernah mementingkan kehadiran dalam perkuliahan, ia lebih senang membaca buku di perpustakaan universitas Amerika dan Perancis yang ada di Mesir dan menonton film. Bahkan, Gus Mus mengatakan bahwa Gus Dur bukan tidak lulus kuliah di Al Azhar namun memang tidak pernah masuk kuliah. Hal ini dikarenakan semua mata kuliah waktu itu telah ia pahami.
Semangat Gus Dur yang lebih mementingkan substansi mencari ilmu ini rupanya tidak terlihat dalam dunia pendidikan kita. Semua lembaga pendidikan dari tingkatan SD hingga perguruan tinggi terjebak dalam—istilah penulis—degree fallacy, gelar semata. Yang sekolah di tingkat SD hingga SMA tak terlihat mementingkan pengetahuan yang mereka dapat, melainkan hanya gengsi bersekolah di lembaga unggulan saja. Yang kuliah pun begitu, tak banyak yang betul-betul karena ingin memahami ilmu pengetahuan.
Di zaman serba internet ini, tentunya kesempatan untuk belajar lebih luas sudah sangat mudah, berbeda dengan zaman Gus Dur dulu ketika masih sekolah. Ketika ia tinggal di Jakarta, untuk mendapatkan buku yang ia suka, Gus Dus harus keliling Jakarta untuk mendapatkannya, mana kala di rumah tidak ada. Ketika kuliah di Mesir dan lalu pindah ke Baghdad Irak, ia harus menjadi tukang pembersih kapal agar dapat banyak uang untuk membeli buku.
Bandingkan dengan zaman sekarang, buku-buku berbentuk e-book bertebaran dimana-mana, kapan pun kita bisa mendapatkannya. Bahkan, bacaan-bacaan online sudah lebih banyak tersedia ketimbang buku-buku konvensional yang dijual di toko buku di kota-kota besar.
Semangat Gus Dur dalam menulis pun tak kalah hebatnya dengan semangatnya membaca. Sudah ratusan artikel dan puluhan buku ia tulis. Padahal kuliah saja ia tidak lulus! Bahkan, media masa pada waktu itu yang biasa menerbitkan tulisan-tulisan Gus Dur merasa kesulitan mengimbangi produktivitasnya dalam berkarya. Tentu karya yang diimbangi dengan kualitas.
Hal ini yang tidak ada dalam dunia pendidikan kita. Kegemaran membaca dan menulis di kalangan pelajar zaman sekarang tidak menjadi ruh pendidikan. Semua kebijakan yang dibuat nampaknya hanya berputar-putar pada tataran birokratis dan politis. Pemerintah terlihat hanya menghapus dan membuat kebijakan ala kadarnya, tak mampu menyentuh akar masalah yang ada di sekolah.
Sejatinya, jika pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan dan kebudayaan mengurangi peraturan-peraturan yang terlalu ribet dalam hal-hal yang tidak langsung menyentuh substansi pembelajaran, bukan tidak mungkin pendidikan kita akan keluar dari zona ‘jalan di tempat’.
Sosok Gus Dur merupakan tokoh yang ‘tidak mau repot’ dengan urusan legal-formal dalam mencari pengetahuan. Ia lebih mementingkan isi dari pada kulit. Itulah sebetulnya substansi sebuah pendidikan yang perlu kira terjemahkan. Apakah kita bagian dari yang mampu melakukan itu? ***

Penulis adalah aktivis pendidikan dan peneliti bahasa.

Facebook Comments

POST A COMMENT.