PAUD Pentingkah di Zaman Now

MEPNews.id —Beberapa kesempatan lewat di beranda Facebook, tentang PAUD mencabut kelakatan dengan orang tua. Bahkan kemarin membaca status teman dan membagikan screen shoot twiter dari seorang dokter, yang berjudul PAUD bisnis mengatas namakan pendidikan. Pandangan hidup seseorang, termasuk soal PAUD tergantung dari pengalaman dari pembuat statmen. Tentunya saya pun tidak berhak menghakimi, bahwa pandangan mereka salah. Tidak menafikan bahwa ada beberapa paud yang memang menunjukkan karakter yang mereka kritisi.

Apa yang menjadi pandangan psikolog sekaligus ahli parenting Elli Risman, memang hal yang benar dalam islam pun disebutkan bahwa madrasatul ummahat madrasatul ula. Dan pangkal dari nilai-nilai pendidikan karakter adalah pendidikan keluarga. Namun, perlu ditilik lebih dalam lagi, orang tua seperti apa yang bisa menjadi madrasatul ula. Seperti halnya “surga ada di telapak kaki ibu”. Kaki ibu yang bagaimana? Yang bisa menjadi surga bagi anak-anaknya.

Sering kali saya lihat di masyakat yang saya tinggali, masih banyak ibu-ibu yang tidak mengetahui pola asuh yang benar dan ramah bagi anak. Orang tua kebanyakan masih terjangkit hantu parenting dalam pengasuhannya. Anak-anak sering mendapatkan bulliying dari keluarganya sendiri. Kebutuhan ekonomi dan padatnya pekerjaan seorang ibu yang hampir kurang dalam sehari, dipicu oleh si kecil yang merengek karena butuh perhatian, sering kali menyulut emosi negatif sang ibu. Pikiran yang kalut karena ekonomi ditambah capek menjadikan anak sebagai sasaran kemarahan. Tidak jarang saya lihat orang tua menjewer telinga, mencubit atau membentak di muka umum. Ibu-ibu dipedasaan tidak begitu kenal dengan ilmu parenting, mereka sudah disibukkan dengan kerjaannya, demi mempertahankan dapur tetap mengepul. Mereka tidak sempat bermain medsos dan membaca share soal parenting. Ini bukan lagi soal kelekatan yang tercabut, tapi sudah Ke ranah perlindungan anak dari tindak kekerasan.

Selama ini, PAUD sebagai promotor untuk melindungi anak-anak dari tindak kekerasan orang tua yang tidak paham tentang pengasuhan. Kini, sudah banyak ibu-ibu yang meniru ucapan guru paud saat mengingatkan anaknya bahkan lagunya sama. “bilang apa sayang? Terima…kasih” sudah muncul ucapan seperti itu saat anaknya menerima pemberian dari orang lain. Lebih-lebih jika PAUD tersebut inten melakukan program parenting, yang awalnya tidak sabaran, kini menjadi lebih ramah kepada anaknya. Masih ingat saya 5 tahun yang lalu, wali murid saya dulu anak pertamanya, sering marah jika anaknya tidak mau masuk kelas, bahkan kepalanya dibenturkan ke gedek. Sekarang bertemu lagi anaknya yang kedua sekolah di lembaga saya, banyak perubahan dalam mengasuh anaknya.

Ada yang mengatakan bahwa PAUD merusak perkembangan alamiyah anak, anak dipaksa untuk matang lebih awal. Pada zaman now, untuk tumbuh alamiyah itu susah, dunia tidak mendukung untuk itu. Banyak pengaruh yang tidak sehat bagi perkembangan anak, anak seperti dipupuk agar lebih cepat dewasa dari usianya. Gadged pengaruh terbesar anak tercabutnya pertumbuhan alamiyah anak. Anak generasi tablet, usia satu tahun sudah mampu menggunakan smart phone, dunia ada digenggaman si kecil, entah apa itu yang menjadi suguhannya. Tontonan televisi hampir tidak ada yang ramah anak, film anak-anakpun menjadi tidak sehat, mempertontonkan saingan, permusuhan yang tidak sehat. Apalagi sinetron-sinetron percintaan? Hari ini pun mencari lagu-lagu anak sangat susah, kalau tidak di PAUD jarang dijumpai lagu anak-anak. Di setiap tempat dan kesempatan anak terpaksa harus mendengarkan lagu-lagu dewasa bahkan fulgar. Di acara hajatan sedesa pun bisa mendengar lagu-lagu dewasa, di bus, saat rekreasi bahkan bapaknya sendiri pun senang memutar vcd lagu-lagu dewasa dengan pakaian seksi. Sering juga kan kita lihat meme meme kids jaman now, anak SD sudah berpacaran seperti orang dewasa. Apa itu semua dari didikan PAUD? PAUD masih memberi kesempatan mereka untuk menjadi anak-anak sesuai usianya, mereka masih bisa merasakan permainan yang sehat, tidak hanya mengandalkan kelincahan jari seperti game di gadget.

Berbeda dengan zaman kita tanpa ada PAUD, masa kecil kita bahagia. Biarpun tidak ada internet, televisi saja masih satu desa satu, hitam putih, stasiunnya cuma TVRI, yang ditunggu cuma hari minggu, karena ada lagu minggu. Anak jaman dulu eksploratif tanpa desain, mereka suka main ke sawah, mencoba segala makanan yang disediakan alam. Mereka menganal mana tumbuhan beracun dan tidak, tidak hanya teori, mereka ilmuwan sejati. Tumbuh alamiyah didukung dengan alam dan lingkungan yang masih bersih dari polusi media sosial. Mereka imajinatif tanpa ada yang mengajari, apapun bisa jadi alat bermain simbolik mereka. Kreatif dalam keterbatasan, tak perlu mengeluarkan uang mereka mampu menyulap bahan alam menjadi alat bermain mereka. Sehat, motoriknya terasah, sosial emosionalnya terbangun dari permainan fisik yang melibatkan kerjasama, kejujuran dan kekompakan. Lalu bagaimana dengan kids jaman now?apa yang mereka lakukan di rumah tanpa adanya PAUD?

Setidaknya biarpun tidak maksimal seperti zaman dulu yang didukung oleh alam dan lingkungan, PAUD bisa memberikan pengalaman anak-anak untuk bisa menjadi anak-anak, melalui kegiatan bermain yang didesain oleh guru PAUD. Lalu, apa sudah tidak pentingkah PAUD zaman now?
Penulis : zida (guru paud)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.