Menggapai Publikasi Ilmiah Internasional

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

MEPNews.id —- Akhir-akhir ini, banyak obrolan tentang publikasi ilmiah internasional. Kebijakan Menristekdikti memang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Namanya sebuah kebijakan itu mengikat. Apapun yang terjadi, kebijakan nasional itu tetap berjalan. Termasuk kebijakan saat ini, bahwa dosen khususnya yang berpangkat Lektor Kepala (LK) dan Guru Besar (GB), wajib menulis artikel penelitian untuk terbit di jurnal ilmiah terakreditasi nasional atau internasional bereputasi. Indeksnya cenderung fanatik hanya satu indexer saja.
Ada dalam sebuah organisasi internasional terkait dengan penerbitan jurnal internasional, tidak fanatik hanya pada satu indexer saja. Terus terang, organisasi saya ini sudah beranggotakan 800-an dari berbagai benua. Mereka tidak memikirkan jurnal itu hanya diindeks oleh satu saja. Yang penting, proses reviewnya benar-benar sesuai prosedur yang teruji secara inetrnasional.
Namun, di negeri sendiri, justru fanatiknya pada salah satu indexer. Dosen berpangkat LK dan GB, mau tidak mau, harus tunduk pada kebijakan ini, meskipun dalam hati mereka masih perlu bicara antara antara harapan dan kenyataan di balik kebijakan itu. Hanya saja, fenomena di negeri ini patut dikritisi tanpa merendahkan arti dan nilai kebijakan nasional yang sudah digedok. Intinya, perlu diberi masukan-masukan untuk perbaikan kebijakan ke depan. Masih banyak keluhan di lapangan di Antara teman-teman dosen di Indonesia.
Ada juga seorang Guru Besar, Prof. Idrus Affandi dalam Kabar Pendidikan (Sabtu/6/1/2018) berpendapat untuk menyetop publikasi internasional yang terindeks salah satu indexer yang diwajibkan pemerintah saat ini. Sejalan dengan tujuan pemerintah, dalam hal ini Menristekdikti, dosen berpangkat LK dan GB wajib menulis setiap tahun satu kali jurnal terakreditasi nasional atau sekali dalam tiga tahun di jurnal internasional bereputasi.
Jurnal internasional lebih banyak yang berbayar dan bervariasi “harganya”. Ada yang enam juta rupiah. Ada yang 300 USD atau sekitar empat juta setengah rupiah. Bahkan, ada yang belasan juta rupiah. Ternyata “harganya” bervariasi.
Berbicara tentang tulis-menulis, minimal dua segi pertimbangan umum. Memang, ada banyak kriteria, penulisan ilmiah internasional, berdasarkan tatacara blind review. Pada 2012, pernah ada symposium nasional di Jakarta yang difasilitasi oleh Dikti, LIPI, dan sebuah universitas swasta di Jakarta. Mereka juga mengundang krew dari Thomson dan Scopus. Pada saat itu, disepakati, jurnal internasional minimal empat Negara anggota editornya dan penulis artikelnya. Sekarang, ada juga ditambah minimal dua benua. Kembali ke dua segi, kriteria tulisan ilmiah internasional. Pada saat itu, dinyatakan minimal dari segi bahasanya dan bobot isinya.

BACA JUGA :

@  Bahaya Heterogenitas Masyarakat Digital    @   Pendidikan: Old and New

Dari segi Bahasa (misalnya Bahasa Inggris), maka bahasanya harus benar-benar dalam genre ilmiah (academic English). Bahasa ilmiah memiliki ciri-ciri khusus, misalnya bagaimana Bahasa yang dipakai di dalam move (retorika) pendahuluan, pembahasan, simpulan. Bagian-bagian artikel ilmiah seperti itu, sudah umum di dalam academic genre.
Dari segi bobot isi artikel ilmiah. Misalnya, kekinian, teori yang digunakan, analisinya, serta dampak dari hasil penelitian untuk penelitian lain, dan utamanya untuk kemajuan bangsa. Jika, artikel memberikan kebaruan keilmuan, pengembangan teori, memberikan manfaat, dan sejenisnya, maka artikel ilmiah dari segi bobot itu baik.
Intinya, artikel ilmiah internasional itu dikatakan layak dan baik untuk terbit jika minimal dari segi Bahasa dan bobotnya benar-benar merefelksikan level internasional. Namun, tidak sedikit, artikel yang berbayar mahal itu terbit, kemudian, dari segi Bahasa belum tentu menggambarkan keilmiahan tingkat internasional. Ada beberapa hal yang sangat penting dalam kejar mengejar jumlah penerbitan karya ilmiah di negeri ini.
Pertama, penelitian yang dijadikan artikel, kemudian terbit di jurnal yang berbayar, seharusnya memenuhi dua segi tersebut. Itu sebabnya, hindari terjadinya artikel yang terbit, kemudian dibaca secara umum oleh pembaca, namun lemah dalam dua segi itu. Jika ini terjadi, maka kebijakan hanya mengejar jumlah penerbitan artikel ilmiah, akan kontra produktif. Kuantitas tercapai namun kualitas sangat memprihatinkan. Karena harus cepat terbit, maka hasil review dan prosesnya bisa tidak maksimal.
Kedua, lebih baik pemerintah mulai dengan cepat memanfaatkan indeks nasional yang berbobot. Ada beberapa pemikiran dari teman-teman RJI (Relawan Jurnal Nasional). Banyak ide-ide cemerlang dalam menanggapi persoalan ini. Ada yang mencoba gagasannya ingin mulai indeks Sinta ini melakukan seacring data sendiri bukan google scholar atau index yang lain, misalnya Scopus.
Ketiga ada ide mereka yang lebih cemerlang. Misalnya mereka berharap Indeks Sinta bisa diakui dunia, misalnya Eropa, Amerika, dan benua lain menggunakan index Sinta. Betapa hebatnya pemikiran dan semangat keilmiahan para relawan yang tergabung dalam RJI ini. Semoga pemerintah bisa menggandeng mereka dan melakukan terobosan melalui ide-ide mereka. Jangan biarkan fokus kuantitas namun rendah kualitas baik Bahasa maupun bobot isinya. ***
Penulis: Pengamat Pendidikan dan Sosial,
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER),  Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.