Diskusi Tanpa Agama

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id — Entahlah. Apa salahnya agama, kok ketika ngomongin tentang Tuhan, mencari kesejatian, serta ketentraman dan kesejahteraan lahir batin dalam berkehidupan, agama malah dilarang masuk. Padahal dari agamalah kita mengetahui berbagai informasi yang mana umat manusia tak mampu mengetahuinya karena hanya agamalah yang merupakan sumber langsung dari Tuhan untuk dipelajari oleh manusia.

“Marilah kita berdiskusi dengan mencopot baju agama kita masing-masing,” biasanya demikianlah pintu ceremony diskusi dibuka.

Setelah itu semua beragumentasi, entah dari mana sumber argumen mereka, yang jelas hanya karena tak ada tanda-tanda bahasa agama, apalagi terutama bahasa Arab, sudah mantab dan yakin bahwa apa yang diomongkan ini bukanlah agama, melainkan maksimalisasi akal belaka.

“Okelah kalau begitu. Tapi saya yakin agama telah menuturkan dengan lengkap apa yang dibicarakan akal sehat kita ini,” cetus seseorang.

“Pokoknya saya yakin saja, silakan memaksimalkan akal sehat dan hati nurani kalian, jika buntu, maka disitulah agama akan hadir dan ditemukan,” seseorang tersebut menambahkan.

“Oke, anggaplah sekarang sudah buntu, mana agama? Kok nggak kelihatan?” Sebuah respon bertanya.

“Yang tak kau lihat itulah agama. Semua yang kita omongkan ini sudah sangat agamis. Kalau kamu masih belum tahu juga nah yang belum kamu tahu itulah agama.” jawab yang lain langsung merespon pertanyaan.

“Wah, ini filsafat sangat tinggi. Bisa tinggi salahnya. Juga bisa tinggi gobloknya. Jadi nggak usah didengarkan. Mending seruput lagi kopinya, hahahaha….” Komen kocak ini disambut tawa renyah oleh semuanya. Demikianlah kalau sudah akrab. Segala sesuatunya jadi membahagiakan. Dan diskusi pun terus berjalan semakin hangat.

“Pokoknya yang belum kalian pahami itulah agama.”

“Lho, kok gitu?”

“Habisnya kalian nggak setuju kalau kita berargumen pakai kitab suci, melacak agama tertentu, atau katanya, katanya. Ya sudah, kalau kalian buntu dan tak mengerti, ya yang tak kalian mengerti itulah agama.”

“Lantas bolehkah agama kita karang-karang sendiri?”

“Kalau dikarang sendiri ya bukan agama itu. Tapi kebudayaan.”

“Lantas darimana kita tahu bahwa semua ajaran yang dibawa oleh para nabi atau orang suci itu agama dan bukan karangan mereka sendiri?”

“Ya saya nggak tahu. Pokoknya mereka bilangnya dari Tuhan, lantas saya percaya. Kalau kalian nggak percaya dan mau melacaknya ya monggo. Kalau saya sih percaya. Dan saya yakin Tuhan sendiri tidak ruwet dan ribet dengan keyakinan saya kepadaNya ini….”

“Kok segampang itu? Kok kamu nggak melacaknya juga, mencari kebenaran yang sejati dan hakiki?”

“Ya pokoknya begitu itu. Saya percaya agama, pakai kitab suci dan Tuhan. Kalau kamu mau mencari sendiri ya monggo. Bahkan kalau kamu menyalahkan aku dan menganggap aku bodoh ya nggak pa-pa. Di kampus memang ada penguasa yakni dosen. Si dosen mungkin bisa nuntut jawaban yang katanya harus ilmiah. Tidak boleh berdasarkan keyakinan belaka. Atau tidak boleh dijawab tidak tahu. Pokoknya harus tahu dan mengerti. Kalau disini tanpa penguasa. Tanpa parameter salah benar yang ditentukan oleh penguasa. Jadinya mungkin saya sombong juga kalau saya jawab seperti itu. Mungkin terasa angkuh juga kalau saya menjawab tidak tahu kenapa saya yakin dan bahkan mungkin jatuh cinta dan rindu kepada Tuhan yang penuh Kasih Sayang…”

“Wah, saya pusing. Oke stop. Andai ada Tuhan atau agama, sepertinya saya akan minta petunjuk atau pertolongan sama Tuhan dan agama. Pusing saya. Mumet. Ngopi saja sudah. Pusing. Hahahaha….”

Diskusi santai itupun diakhiri dengan riang gembira penuh canda tawa dan menuntaskan secangkir kopi hitam yang teramat sangat   nikmat.*** (Banyuwangi, 11 Januari 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.