Aksen Amerika (AmE) dan British (BrE) Itu Fiktif!

IMG-20180110-WA0005

Oleh: M. Faruq Ubaidillah, S.Pd

MEPNews.id —- Di beberapa tulisan opini yang dimuat di surat kabar online lainnya, penulis telah menjabarkan paradigma baru dalam dunia pengajaran bahasa Inggris saat ini yang berhubungan dengan identitas lokal pengajar dan pembelajar.
Sebagai kelanjutan dari tulisan-tulisan sebelumnya, penulis melalui artikel ini akan membahas lebih spesifik posisi aksen Amerika dan British yang menjadi kiblat para guru bahasa Inggris selama ini di Indonesia.
Penulis mengajukan tesis bahwa kedua aksen ini sebetulnya fiktif belaka. Mengapa begitu?
Pertama, untuk memberikan wawasan luas mengenai perjalanan panjang kedua aksen tersebut, kiranya penulis perlu menjabarkan sejarah terbentuknya dua kiblat aksen dalam pengajaran bahasa Inggris di banyak negara berkembang saat ini.
Asal Mula dari Eropa Utara
Bahasa Inggris pada awalnya selalu berpindah-pindah akibat dari beberapa faktor, diantaranya invasi kerajaan, ekonomi, dan migrasi para budak dari Eropa Utara hingga ke Amerika. Pada abad ke 5 M, bahasa ini mulanya berpusat di dataran Britania Raya khususnya daerah Wales, Cornwall, Cumbria dan bagian selatan Skotlandia.
Ketika raja Norman melakukan invasi ke pusat kota di England pada tahun 1066 M, banyak di antara para pastur Gereja yang hijrah ke Skotlandia. Melalui interaksi sosial para pastur dengan masyarakat asli Skotlandia, akibatnya aksen bahasa Inggris mulai dengan sendirinya berubah dan tersebar ke seluruh penjuru kota di Skotlandia.
Selanjutnya pada abad ke 12 M, pasukan raja Norman kemudian memperluas wilayah kekuasaannya dengan mengirim para prajurit melewati laut Irlandia dan pada akhirnya menguasai daerah tersebut selama bertahun-tahun. Hal ini juga telah melahirkan aksen baru dalam percakapan bahasa Inggris melalui interaksi prajurit dan penduduk asli Irlandia.
Namun perlu diketahui, proses kolonialisme ini tidak serta merta membuat bahasa Inggris menjadi bahasa global selama kurang lebih 300 tahun lamanya hingga akhir abad ke 16 M. Adalah pada masa pemerintahan ratu Elisabeth I dan II (1603-1952) jumlah penutur asli bahasa Inggris di Britania Raya bertambah dari 7 juta menjadi 50 kali lebih banyak. Mereka inilah yang kemudian menjadi ‘founding fathers’ aksen British.
Karena jumlahnya yang semakin banyak, penduduk Britania Raya kemudian berpindah ke Amerika Utara, di samping karena alasan sosial dan ekonomi. Awalnya ekspedisi ini dipimpin oleh Walter Raleigh namun gagal.
Ekspedisi selanjutnya dilakukan oleh penduduk Britania Raya lainnya hingga sampai di pulau Reinake, yang saat ini dikenal dengan nama California Utara. Penjelajahan ini menimbulkan konflik dengan suku asli daerah setempat, sehingga rombongan dari Britania Raya kembali ke Eropa dan meminta bala bantuan untuk melawan para penduduk asli Reinake. Hingga saat ini kelompok penjelajah yang pertama kali menepi di pulau Reinake ini tidak diketahui sejarah kehidupannya setelah terlibat konflik dengan penduduk asli di sana.
Pada tahun 1607 ekspedisi yang ke dua dijalankan dari Britania Raya dipimpin oleh James I yang mendarat di Chesapeake Bay, kelak daerah tersebut dinamai Jamestown dan satu kelompok lagi dipimpin oleh The Queen Elizabeth yang kemudian lokasi pendaratannya kelak dinamai Virginia.
Kemudian beberapa kelompok Radikal Gereja yang dulunya memisahkan diri dari pemerintahan raja Norman juga mengikuti ekspedisi ke Amerika Utara tersebut pada tahun 1620 dan sampai di daerah Cape Cod Bay yang sekarang dikenal dengan nama Plymouth, Massachussets.
Kebanyakan dari mereka ini tidak menekankan bunyi huruf ‘r’ dalam aksen berbicara, sehingga mempengaruhi pelafalan kosakata bahasa Inggris di daerah Plymouth, berbeda dengan daerah lainnya yang melafalkan huruf ‘r’ lebih jelas. Di bawah ini adalah peta migrasi penduduk dari Britania Raya ke Amerika Utara.

Singkat kata, setelah proses migrasi ini sempurna, berdatanganlah orang-orang dari negara Eropa lain seperti Spanyol yang bermuking di bagian barat dan barat-selatan Amerika, Prancis bermukim di bagian tengah dekat dengan sungai St Lawrence River, German tinggal di daerah yang saat ini dinamai Pensylvania, dan Belanda di New York, serta tidak ketinggalan orang-orang dari Afrika yang menempati daerah paling selatan di Amerika.
Dari proses migrasi ini bisa kita lihat bahwa di Amerika sendiri terdapat banyak variasi aksen dalam bahasa Inggris, apalagi di Britania Raya tempat lahirnya bahasa Inggris itu sendiri.
Paradoks Aksen Bahasa Inggris
Hingga saat ini, kiblat penggunaan aksen Amerika dan British di Indonesia masih mendominasi konsep pembelajaran bahasa Inggris baik di sekolah formal maupun lembaga kursus, malahan seringkali melahirkan dikotomi penggunaannya dalam praktek berbicara. Hal ini sebenarnya banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi ketimbang kesadaran ilmiah dalam berbahasa.
Menjamurnya industri tes bahasa Inggris yang ditawarkan di Indonesia oleh Amerika dan Inggris melalui konsulat jendral pendidikannya, misalkan, juga menyumbang suburnya dua kiblat aksen tersebut. Nelly Martin, seorang pemerhati linguistik, dalam tulisannya di koran The Jakarta Post tahun 2012, telah memaparkan bahwa sebetulnya dalam konteks global ini penggunaan dua aksen tersebut sudah tidak relevan bagi masyarakat di negara berkembang. Lanjut Martin, ia mengkritisi ketidak pahaman para guru terhadap faktor sosial dan latar belakang pelajar bahasa Inggris di Indonesia. Aturan untuk harus berbicara bahasa Inggris layaknya orang-orang yang lahir di New York dan London merupakan kesalahan besar yang saat ini tetap dipraktekkan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa aksen Amerika dan British itu sendiri sangat bervariasi dan bermacam-macam, sehingga tidak bisa dijadikan acuan standar kelayakan dalam berbicara. Di Inggris terdapat aksen Scottish, London, Irish, dan Wales, Ulster, Connacht, Leinster, Munster. Di Amerika terdapat aksen khas Amerika Utara, Kanada, Amerika Serikat, Indiana Barat, dan Bermuda. Penulis akan membahas secara khusus aksen-aksen ini pada artikel yang akan datang.
Setelah mengetahui banyaknya variasi aksen itu sendiri di Amerika dan Inggris, lalu masihkan kita berpikir American English (AmE) dan British English (BrE) itu ada?
Perlu adanya forum-forum presentasi ilmiah dalam pembelajaran bahasa Inggris yang khusus membahas tentang perkembangan global bahasa asing ini.
Saran di atas setidaknya dapat menggerakkan para pemerhati bahasa Inggris dan pengajarannya dalam mencari terobosan baru di kelas agar tidak ada lagi sikap mengistimewakan kedua aksen tersebut yang jelas-jelas fiktif. Ide ini harus segera kita mulai. Sekarang. ***
*Penulis adalah alumni S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Malang dan menaruh minat pada kajian sosiolinguistik dan antropologi linguistik. Email: mfubaidillah@gmail.com

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.