Dipuji dan Dibully

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Semua orang sangat berkemungkinan untuk dipuji dan dibully. Tapi untunglah kita masyarakat Jawa sangat pandai menyembunyikan kejengkelan dan kemarahan, sehingga setiap kesalahan seseorang bisa tidak secara telanjang dan berterus terang seratus persen untuk diungkapkan. Celakanya terkadang giliran kita yang salah orang begitu tega mengatakan dan menegur kesalahan kita, sedangkan giliran orang lain yang salah kita tidak tega, sungkan geger dan ruwet, malas bertengkar, jadinya yang bersangkutan merasa benar terus dan gagah dengan merasa paling pandai dan tidak pernah salah.

Betapa ngeri rasanya dibully. Digunjingkan banyak orang dimana-mana. Setiap hari diomongkan orang prihal aib negatif dari diri kita sendiri. Apalagi sekarang ini share berita online begitu cepat dan mudahnya. Akan tetapi benarkah bagi orang tertentu yang justru menakutkan itu tatkala kita dipuji? Kita bisa tenggelam tanpa terasa tenggelam karena lupa diri ketika dipuji, benarkah demikian?

Semuanya bisa saja mungkin. Bagi yang tertutup dan mantap atas keyakinan kebenaran tertentu versi dirinya sendiri, kesalahan bagaimana pun akan diyakininya bukan kesalahan, serta dihina dan digunjingkan setiap hari pun, baginya bisa tidak masalah. Tapi kita tetap harus memakai parameter umum, bahwa umumnya orang itu bangga dan bahagia jika dipuji. Dan akan susah jika tiap hari selalu dibully.

Bisa “kurang ajar” rasanya jika ada sahabat diludahi orang, lantas kita bilang: “Yang sabar dong. Lha wong Kanjeng Nabi saja diludahi orang saja ndak marah kok!” Jika contohnya adalah Kanjeng Nabi memang enak, akan tetapi menjadi lain jika contoh yang dikemukakan adalah diri kita sendiri. Meskipun segala sesuatunya terkadang memang teramat sangat ditentukan oleh cara komunikasi kita yang tepat.

Bahasa Al-Qurannya bil hikmah wal mauidhotil hasanah. Dengan cara hikmah bijaksana dulu, baru kemudian memberikan nasehat atau solusi yang terbaik. Bahasanya Abu Nawas tatkala barangnya tercuri dan selalu kemudian Abu Nawas dinasehati agar hati-hati, bahkan disalahkan karena kurang berhati-hati, Abu Nawas langsung memekik: “He, jangan salahkan aku terus! Emangnya menurut kalian malingnya itu tidak salah dan pahlawan nasional sehingga yang dikutuk dan disalahkan sedari tadi kok saya terus?”

Mungkin menurut Abu Nawas alangkah bijaknya jika pencurinya dikutuk dulu, baru kemudian mauidhotil hasanah-nya adalah Abu Nawas dinasehati agar lain kali lebih berhati-hati.

Secara pribadi ada saatnya kita terkadang harus percaya juga bahwa dibully orang, dicaci maki, difitnah, digunjingkan orang adalah rem cakram paling menyelamatkan diri kita sendiri agar semakin berhati-hati daripada seribu pujian dan senyuman. Terkadang kemiskinan bisa justru lebih menyelamatkan daripada kekayaan. Tak punya ini itu terkadang jauh lebih menyelamatkan dan membahagiakan daripada punya ini itu.

Bukan harus mlarat agar selamat. Akan tetapi terkadang saat kita tak punya uang hari ini adalah bisa jadi jauh lebih menyelamatkan, karena bisa jadi jika kita punya uangnya esok hari atau mungkin dua hari lagi plus kita kaya raya, itu yang paling baik dan menyelamatkan.

Asa’an takrohu syai’an fahuwa khoirullakum, asa’an tuhibbu syai’an fahuwa syarrullakum. Yang kita benci bisa jadi itu yang terbaik, yang kita harapkan, kita cintai dan yang kita kejar-kejar bisa jadi itu yang terburuk. Pujian dan cacian bisa terbaik dan juga terburuk. Wallahu a’lam.

Sebuah suara tiba-tiba nyeletuk: “Kalau soal kaya raya dan dibayangkan kaya raya yang terbaik dan menyelamatkan kurang dua hari lagi, oke deh, gak masalah, gak pa-pa, yang penting kaya raya, hahahahaiiiii….”  (Banyuwangi, 10 Januari 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.