Balada Pendidikan Bahasa Inggris dan Zaman Now

Oleh: M. Faruq Ubaidillah, S.Pd

MEPNews.id — Apa yang bisa diperbuat oleh para mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris di zaman now ini? Dengan segala fasilitas internet yang super cepat, aplikasi terjemahan yang canggih, dan, sumber bacaan yang membludak dalam bahasa Inggris, rasanya gerak mereka dalam dunia bahasa atau pendidikan akan—cepat atau lambat—tergantikan dengan sendirinya.
Bayangkan saja, seorang yang sama sekali tidak paham bahasa Inggris, jika ia pandai menggunakan smartphone, sudah pasti tak akan memerlukan jasa mahasiswa dan guru bahasa Inggris untuk sekadar menerjemahkan kalimat atau untuk mengasah kemampuannya.
Penulis mengalami sendiri satu tahun yang lalu ketika masih menjadi tenaga pengajar di sebuah sekolah menengah atas berkurikulum nasional-plus di kota Sidoarjo. Ada seorang siswi yang ulet dan aktif menggunakan internet serta sosial media di kelas. Bahkan, tak jarang, jika pelajaran dirasa membosankan, siswi ini akan pergi ke perpustakaan dan memilih membuka media sosial untuk sekedar chatting dengan teman bulenya.
Lewat chatting inilah, ia banyak menggunakan aplikasi terjemahan praktis dan cepat agar dapat memahami bahasa Inggris dalam chatting tersebut. Penulis sering memperhatikan siswi ini, ternyata di dalam kelas, kemampuannya sudah dapat dikatakan melebihi kemampuan berbahasa Inggris teman-teman sebayanya. Lebih mengagumkan lagi, ia bahkan sudah bisa menulis artikel berbahasa Inggris dengan tata bahasa yang baik dan benar.
Dari pengalaman ini penulis merenung sambil mencari-cari jawaban kira-kira apa yang dapat dilakukan para mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris ini kedepannya. Apakah peran mereka masih penting? Ataukah hanya sekedar pelengkap saja dalam dunia pendidikan? Nampaknya, pertanyaan ini sedikit meremehkan mereka, apalagi mungkin telah menyinggung pilihan jurusan mereka.
Sebetulnya, hemat penulis, andaikan anak-anak di sekolah betul-betul menggunakan dan memanfaatkan jaringan internet untuk belajar bahasa Inggris, maka mereka tak perlu susah-susah mendatangkan guru les dan atau menghadiri kursus-kursus bahasa Inggris.
Penulis sering—jujur saja—iri melihat mahasiswa jurusan lain yang fasih berbahasa Inggris baik tulis maupun lisan. Bahkan, yang jurusan bahasa Inggris pun kalah fasih! Rata-rata mereka ini lebih banyak memanfaatkan sumber-sumber informasi ()berbahasa Inggris di internet untuk dijadikan media pembelajaran setiap hari.
Dalam beberapa kesempatan lain, penulis menjumpai anak-anak yang secara autodidak belajar bahasa Inggris melalui youtube, blog, film, dan musik. Kegiatan-kegiatan seperti ini sudah sangat membantu mereka untuk –paling tidak—memahami percakapan dasar bahasa Inggris. Dan, jika dilanjutkan lebih serius, kemampuan mereka bukan tidak mungkin akan melampaui gurunya sendiri di dalam kelas.
Kembali ke pertanyaan pembuka di atas: Apa yang bisa diperbuat oleh para mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris di zaman now ini? Penulis berpendapat bahwa mereka saat ini berada dalam posisi—meminjam istilahnya Warkop DKI ‘maju mundur kena’. Jangan sampai mereka menjadi alumni yang kemampuan bahasa Inggrisnya pas-pasan terutama kemampuan menulis dan berbicara.
Memang, keunggulan mereka adalah dalam bidang pengajaran bahasa itu sendiri. Namun, seperti yang telah penulis gambarkan di atas, bahasa Inggris terlalu mudah untuk dipelajari. Asalkan rajin membaca, menonton film, dan mendengarkan musik berbahasa Inggris, pasti para pelajar akan lebih cepat meningkatkan kemampuan mereka. Dalam hal mengajar pun, metode konvensional baik itu teacher-centered atau paper-based sudah dinggap tidak relevan untuk diimplementasikan.
Pengajaran bahasa Inggris, jika melihat zaman, semestinya memanfaatkan sumber-sumber online setiap saat.
Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris. Namun, ini merupakan renungan kritis terhadap arus globalisasi dan peran bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Perlu diketahui bahwa penulis juga merupakan alumni jurusan pendidikan bahasa Inggris di salah satu universitas swasta ternama di kota Malang.
Yang penulis resahkan adalah posisi dan peran para alumni pendidikan bahasa Inggris di era serba internet ini akan tergantikan oleh cepatnya perkembangan teknologi yang lebih digandrungi oleh kalangan pelajar. Tidak ada pilihan lain bagi mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris untuk memaksimalkan kemahiran mereka, khususnya dalam pengajaran bahasa Ingris itu sendiri. Tentu kita semua akan merasa prihatin jika setelah lulus dari jurusan tersebut, alumninya belum bisa membaca perubahan zaman dan pendekatan dalam pembelajaran.
Pendapat ini mungkin benar mungkin salah. Para pembaca boleh setuju, boleh juga tidak. Yang perlu digaris bawahi adalah, mahasiswa pendidikan bahasa Inggris haruslah cermat melihat cepatnya perubahan global di sekitar mereka. Ini merupakan salah satu cara untuk dapat berperan sesuai dengan perkembangan zaman. Kiranya tulisan ini dengan sendirinya telah menjawab pertanyaan pembuka di atas, bukan?
*Penulis aktif dalam bidang penelitian bahasa, budaya, literasi dan saat ini bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris di Lembaga Bahasa Universitas Udayana, Denpasar, Bali.

Facebook Comments

POST A COMMENT.