Yacouba Dengan Tangan Sendiri Menghadang Gurun

MEPNews.id – Burkina Faso terletak di sisi barat benua Afrika. Dulu, tanah ini subur sehingga penduduk bisa bertani dan berburu dengan tenang. Setelah kerjaan-kerajaan tradisional ditumbangkan penjajah Eropa, negeri di aliran sungai Volta ini berubah drastis. Merdeka dari Prancis pada 1960, kondisinya tidak semakin baik. Akibat populasi berlebihan dan penggarapan lahan habis-habisan, tanahnya jadi gersang. Bahkan, negeri yang tidak punya pantai ini cenderung berubah menjadi gurun seperti yang terjadi di sisi utara Afrika. Kekeringan dan penggurunan sejak 1970-an mengakibatkan kelaparan yang meminta banyak korban.

Banyak peneliti nasional maupun internasional didatangkan untuk mengatasi persoalan erosi parah dan pengeringan tanah di sisi utara Burkina Faso itu. Namun, ilmu dan tindakan mereka tidak banyak membantu. Penggurunan terus terjadi. Akhirnya, petani miskin Yacouba Sawadogo pada 1980 memutuskan menangani masalah dan akhirnya berhasil mengubah gurun menjadi lading hijau subur.

Semasa kecil, ia belajar di semacam pesantren setempat. Karena paling muda dan tubuhnya paling kecil, ia sering tidak kebagian makan. Apa lagi saat musim kering melanda Sahel yang tak jauh dari gurun Sahara. Maka, pada masa remaja, ia bertekad melakukan sesuatu untuk membuat dirinya dan orang-orang lain tidak kelaparan.

Karena teknik impor tidak mampu menyelamatkan wilayahnya dari penggurunan, Yacouba Sawadogo melirik teknik tradisional yang dilakukan kakeknya. Teknik itu biasa disebut cordons pierreux dan lobang zaï. Cordons pierreux adalah membentuk garis dari batu-batu di lahan dengan tujuan membuat daerah tangkapan air. Saat hujan turun, air mendorong lumpur melintasi permukaan lahan lalu terjepit batu dan memperlambat aliran air dan mendorong tanaham untuk tumbuh. Lobang zaï juga untuk menangkap air dengan cara berbeda. Dulu, orang membuat lobang hanya untuk menampung air. Yacouba Sawadogo berinovasi dengan memasukkan kotoran hewan dan limbah lain daur-uloang. Tujuannya untuk sumber nutrisi bagi tanaman. Kotoran hewan juga memikat rayap untuk memecah tanah lebih jauh sehingga menyerab lebih banyak air. Bibit-bibit tanaman disebar di situ.

Awalnya, upaya Yacouba Sawadogo tidak disambut warga sekitar dan bahkan diejek. Tapi, ketika tekniknya akhirnya berhasil, para pencibir itu mulai memperhatikannya. Dalam periode 30 tahun, berjuang dalam sunyi, Yacouba Sawadogo tidak hanya menghentikan gurun tapi juga berhasil menghutankan kembali wilayah sekitar 20 hektare. Ia juga rela berbagi kepada siapa pun yang mau belajar metode tersebut. “Jika diam di sudut sempit diri sendiri, pengetahuan sehebat apa pun tidak akan berguna sama sekali,” begitu alasannya berbagi.

Masalahnya, tiba-tiba tanah gurun yang sudah dihutankan kembali itu dianeksasi oleh pemerintah kota Ouahigouya di bawah program pemerintah untuk meningkatkan pendapatan. Di bawah program pengawasan itu, Yacouba Sawadogo beserta keluarganya hanya diberi bagian 400m2, dan tidak mendapat kompensasi lainnya. Ia sedang dalam proses menaikkan harga jual tanah, karena nilainya sudah meningkat berkali-kali lipat akibat upaya penghijauannya.

Untungnya, pada 2010, Mark Dodd membuat film dokumenter berdasarkan cerita Yacouba. Film dengan judul ‘The Man Who Stopped Desert’ itu bercerita tentang petani miskin yang sendirian menyelamatkan lahan Sahel dari kekeringan, sehingga akhirnya bisa membantu ribuan petani lainnya untuk bangkit. Film itu menarik karena anti-tesis dari gagasan yang menyebut bahwa orang-orang Afrika membutuhkan bantuan asing untuk memecahkan masalah mereka. Film itu seolah bilang, “Yang bisa memecahkan masalah orang-orang Afrika adalah orang Afrika sendiri.”

Film itu juga membuat Yacouba diundang ke luar negeri untuk membuka mata dunia. Ia memberikan pidato untuk menyemangati petani-petani yang tertekan, dan menyadarkan masyarakat lain utnuk mengatasi masalahnya sendiri.

Facebook Comments

POST A COMMENT.