Desakralisasi dalam Pengajaran Bahasa Inggris: Babak Baru?

Oleh: M. Faruq Ubaidillah, S.Pd

MEPNews.id —- Sejak tahun 2014 penulis beruntung dapat membaca karya-karya baru tentang konsep pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa internasional (English as an International Language) dari para pakar dunia seperti Sandra Lee McKay, Bradj Kachru, Jennifer Jenkins, Suresh Canagarajah dan David Crystal.

Mengapa beruntung? Pasalnya para pakar pengajaran bahasa Inggris tersebut telah meramu konsep baru yang menjadikan bahasa asing ini terasa ‘lokal’ dan sesuai dengan karakter kebahasaan pembelajar di negara-negara berkembang.

Lebih beruntung lagi penulis juga kemudian mengenal—lewat tulisan—akademisi dari dalam negeri sendiri yang ternyata telah mengenalkan konsep baru pengajaran bahasa Inggris ini di beberapa konferensi dan publikasi jurnal. Dua diantara mereka yang paling menonjol adalah Nugrahenny T. Zacharias dan Flora Debora Floris.

Apa yang baru?

Jamak kita ketahui bahwa selama bertahun-tahun lamanya sudut pandang, kajian, metode, pendekatan, dan target pengajaran bahasa Inggris di Indonesia telah ‘mengistimewakan’ atribut dari para penutur asli (native speaker) khususnya yang berasal dari Amerika dan Britania Raya.

Atribut-atribut mereka yang banyak digunakan sebagai acuan kesuksesan kemampuan berbahasa Inggris pembelajar lokal adalah aksen, pengucapan, pragmatik, hingga tata bahasa. Di luar itu, budaya dan metode pengajaran terkesan juga dipaksakan untuk digunakan, padahal keduanya tidak selalu sesuai dengan karakter pembelajar lokal, malah terlalu riskan jika dipaksakan.

Bahwa bahasa asing saat ini telah berkembang dan bersifat dinamis itu benar. Apalagi bahasa Inggris yang telah lebih banyak digunakan oleh para penutur dari negara-negara berkembang, sehingga tidak ada keistimewaan lagi untuk tetap berkiblat kepada para penutur asli dalam proses pengajarannya di kelas.

Maka, para akademisi yang telah penulis sebut di atas telah membawa angin segar untuk kita pahami, terutama para guru dan mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris di Indonesia. Mereka mencoba melakukan ‘desakralisasi’ atribut-atribut penutur asli yang selama ini menjadi acuan dan target pembelajaran bahasa Inggris di negara-negara berkembang.

Ada beberapa konsep yang mereka tawarkan untuk pembaharuan pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, diantaranya adalah penguatan status guru bahasa Inggris lokal (glorifying the non-native teachers), penggunaan bahasa ibu di dalam kelas-kelas bahasa Inggris secara proporsional (the use of mother tongue), internalisasi budaya dan kearifan lokal dalam materi pembelajaran (the use of local culture and wisdom), dan rekonstruksi metode komunikatif (reconstruction of CLT).

Inti dari konsep-konsep di atas adalah untuk menunjukkan bahwa bahasa itu dinamis dan harus disesuaikan dengan karakter para pembelajar dimana bahasa itu diajarkan. Dari sini para guru sudah harus membuka wawasan bahwa mengajar bahasa Inggris saat ini sudah bukan tentang dikotomi penguasaan American English (AmE) atau British English (BrE), namun justru tentang pengakuan terhadap variasi bahasa Inggris lokal yang muncul sebagi pengaruh dari faktor sosiologis dan geografis pembelajar.

Sebagi contoh, lucu kalau pembelajar bahasa Inggris di Indonesia harus berlogat ‘kebule-bulean’ hanya agar dianggap fasih dalam berbahasa Inggris. Bukankah lebih bangga dan adil jika logat asli mereka muncul dalam komunikasi bahasa Inggris?. Misal, katakan saja, orang Madura dengan ciri khas bahasa Inggris Madura yang mereka gunakan.

Konsep ini cukup kontroversial dan variasi lokal ini tidak menutup kemungkinan akan dicap ‘nyleneh (deviant)’, keluar jauh dari mainstream Standard English itu sendiri oleh para guru maupun para pemangku kepentingan industri bahasa. Bisa jadi ketidak inginan untuk membaca adalah faktor utam penghambat masuknya wawasan-wawasan baru dalam dunia akademik.

Perlu perjuangan dan diskusi yang panjang untuk dapat membuka wawasan para guru terhadap perubahan ini. Penulis pernah mempresentasikan makalah di salah satu kampus negeri di Surabaya beberapa bulan yang lalu tentang konsep ini dalam acara konferensi guru-guru bahasa Inggris se-Jawa Timur. Kebanyakan respon para peserta adalah ‘negatif’ walau ada beberapa yang antusias dan kebingungan!.

Walhasil itulah desakralisasi dalam pengajaran bahasa Inggris saat ini. Apapun perubahannya, semua terserah kepada kita (red, guru) apakah mau membuka wawasan atau tidak. Pandangan baru akan membuka babak baru. Sederhana, bukan?
*Penulis adalah pegiat literasi dan aktivis sosial, saat ini tinggal di Denpasar, Bali. Email: mfubaidillah@gmail.com

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.