Biarlah Anak Merasakan Susah Karena Kita Bukan Fahri bin Abdullah Shiddiq

hanif anshoriOleh: Hanif Anshori, Praktisi Parenting

MEPNews.id – Banyaknya fasilitas dan kemudahan tidak menjamin keberhasilan di masa berikutnya. Hampir seluruh hidup kita dipenuhi alat bantu hidup; HP, TV digital, internet, alat-alat otomatis, AC dan lain-lain. Apakah hidup semakin mudah? Nyatanya, justru waktu kita semakin sempit. Bahkan waktu kita untuk keluarga tidak sebanyak orang tua kita dulu.

Orang tua zaman dulu dengan segala keterbatasannya lebih produktif dan lebih menghasilkan. Orang tua zaman now, yang hidup dengan segala macam alat bantu, malah banyak kekurangan, malah mengalami dehidrasi kenyamanan hidup, bahkan dehidrasi kasih sayang.

Berbicara tentang pengasuhan anak yang terbiasa dengan fasilitas memudahkan, marilah kita mencoba menerapkan beberapa kebijaksanaan yang akan membuat anak menjadi tangguh dan tahan banting di kemudian hari.

Pertama, sesekali biarkan anak-anak kita menemui kesulitan. Jangan terburu-buru turun tangan untuk jadi pahlawan membantu anak. Jangan terburu-buru mengambil alih masalah anak. Jangan terburu-buru membela anak yang sedang berantem dengan temannya, apalagi ikut berantem dengan orang tua ‘lawan’ anak. Biarlah anak menyelesaikan dengan cara anak selama tidak membahayakan. Jangan terburu-buru membantu anak ketika jatuh dan terluka siku atau lututnya. Jangan terburu-buru mengusap air matanya ketika dia menangis.

Biarlah anak belajar merasakan yang nggak enak, yang nggak sesuai harapan. Mengapa? Supaya mereka siap bertemu ketidak-nyamanan. Bukankah suatu saat ia pasti bertemu ketidak-nyamanan? Jika sudah biasa bertemu, maka anak akan kenal dengan situasi itu dan bisa mengelola keadaan.

Kedua, anak belajar mencari jalan keluar. Naluri manusia selalu bergerak ke arah yang lebih baik. Jika menemukan kondisi yang dirasa tidak sesuai kehendak, dia akan bergerak mencari celah untuk keluar dari sana. Biarlah anak belajar mencari celah untuk mengeluarkan masalah dari dirinya.

Ketiga, biarlah anak belajar kecewa. Anak adalah manusia paling egois yang keinginanannya harus selalu terpenuhi. Orang tua kita bilang bahwa anak itu seperti ‘pemerintah’. Sifat egocentrism primordial yang tidak mampu menempatkan dirinya dengan orang lain menimbulkan keinginan yang harus selalu dipenuhi. Maka, belajar kecewa sangat dibutuhkan anak untuk menghadapi masa dewasanya.

Ingatlah pelajaran dari popok bayi. Seorang anak bayi wajar memakai popok. Tapi, sesekali latihlah ia untuk bocor. Ajarkan bahwa bocor itu nggak enak. Biarlah dia merasa basah, berbau, alias tidak nyaman. Lalu, ajari anak cara mencari solusinya. Kenalkan kata kamar mandi sedini mungkin.

Atau, kita lebih senang membuat anak nyaman dengan terus memakaikan popok dengan dalih ‘kasihan’, ‘biar nyaman’. Jika kenyamanan popok selalu kita berikan, maka dikhawatirkan ketika  anak tidak menemukan popok maka dia akan bocor sembarangan. Maka, ajarkan anak menahan rasa ingin keluar, ajarkan mencari solusi untuk mengeluarkan masalah, mengeluarkan masalah dengan cara yang benar, lalu menyelesaikan prosesnya dengan baik.

Belajarlah dari adegan ‘kebelet’ masalah. Masalah yang sudah memuncak tidak selalu harus langsung dilepaskan. Ajari anak untuk mengelola masalah ‘kebelet” dengan cara menahan, tunggu waktu, cari tempat dan suasana yang pas. Keluarkan masalah dengan cara yang baik, lalu selesaikan semua dengan baik.

Intinya jangan selalu memberi ‘popok’ pada anak sehingga dia menjadi selalu nyaman. Latihlah ia dalam kekurangan, ketiadaan, kesulitan, atau temukan dengan masalah. Namun, tetap dalam pengawasan kita sebagai orang tua. Tidak perlu merasa repot untuk mendidik anak, karena popok tidak bisa mendidik anak.

Jika anak kecil sudah pandai mengontrol masalah, membuang masalahnya, bisa nahan ‘pipis’, bisa mencari/minta tempat ‘pipis’, bisa memgeluarkan ‘pipis’ dengan benar, dan menuntaskannya dengan benar, maka Alhamdulillah dia sudah belajar mengatasi masalah.

Jika ada anak besar masih pipis sembarangan, pipis pada waktu dan tempat yang tidak dia pikirkan, maka tanyakan pada popok bayi Anda; “Hai popok, apa yang sudah kamu ajarkan pada anakku?” Jawaban si popok pasti: “Tugasqu hanya membuatnya nyaman saat itu.”

Kalau ada orang dewasa membuang masalah sembarangan, tidak peduli waktu dan tempat dia lampiaskan masalahnya, lalu dia kerjakan pula dengan cara yang tidak patut, lalu dia tuntaskan dengan ala kadarnya sehingga meninggalkan jejak masalah bagi orang lain, coba tanyakan masa kecilnya. Barangkali ia terlalu lama memakai popok atau malah tidak pernah sama sekali memaki popok, alias langsung ditebarkan ke mana-mana. Barangkali ia terlalu disayang dalam kenyamanan, atau dibiarkan tanpa pengajaran yang cukup.

Akhirnya, dalam hidup, kita akan banyak bertemu ‘pipis’ yang memang harus dibuang. Maka, jika bertemu yang demikian, cukup tahan sebentar, cari tempat dan waktu yang tepat, lepaskan, dan nikmati prosesnya, kemudian bersihkan jejaknya. Semua itu bisa kita lalukan kalau biasa melepas popok walau tersedia, biasa tidak menggunakan alat walau punya alatnya, biasa merasakan masalah.

Wahai anakku, selamat bersenang-senang dengan masalahmu. Don’t call your Dad
until you try yourself to solve the problem.
Ayah senang melihatmu berjuang dengan masalahmu, karena ayahmu bukan Fahri bin Abdullah Shiddiq yang bisa dengan mudah menyelesaikan masalah hanya dengan ‘ayat-ayat cinta’.

Kau tahu kenapa ayahmu bukan Fahri? Karena, ketika menikahi bundamu, tidak ada yang wanita yang datang ke ayah lalu bilang……..”NIKAHI AQ FAHRI…..”

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.