Rendahnya Minat Baca Pelajar Indonesia: Salah Siapa?

Oleh: M. Faruq Ubaidillah, S.Pd

MEPNews.id — Sebelum menjawab pertanyaan tentang siapa yang salah terhadap rendahnya minat baca pelajar Indonesia, ada baiknya penulis awali uraian singkat kali ini dengan dua pertanyaan lagi dan fakta tentang budaya membaca di Indonesia.
Apakah pelajar Indonesia memiliki budaya membaca? Buku apa yang biasanya banyak dibaca oleh mereka? Dua pertanyaan ini sederhana namun penting untuk memberi gambaran tentang apa sebenarnya yang terjadi di kalangan pelajar kita saat ini.
Baru-baru ini penelitian mengenai minat baca dan peringkat literasi internasional yang dilakukan oleh UNESCO menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia (red, pelajar), dalam hal minat baca dan literasi, menduduki posisi ke dua paling rendah dari 61 negara yang diteliti. Tentu hasil penelitian ini cukup menyedihkan bagi semua kalangan.

Banyak yang menerka-nerka apa sebetulnya penyebab rendahnya minat baca para pelajar Indonesia ini. Beberapa tulisan di media cetak dan online menyebut bahwa anak-anak Indonesia lebih senang bermain smartphone ketimbang membaca buku. Ada juga yang menyebut bahwa wahana rekreasi yang terlalu banyak adalah sumber masalahnya. Beberapa juga berasumsi bahwa tradisi lisan lebih mendominasi di dalam proses kehidupan mereka.

Tentang tradisi lisan, hal ini ternyata juga dibetulkan oleh Edy Buyani, editor senior koran The Jakarta Post, yang menyebut fenomena ini dalam istilah ‘penyakit literasi’. Penyakit literasi merupakan kecenderungan kebiasaan mendengarkan orang lain berbicara dari pada memperoleh informasi dari kegiatan membaca.

Penyakit rendahnya minat baca di Indonesia ini hampir dapat dikatakan ada di setiap jenjang pendidikan, mulai dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi. Akibatnya, budaya ‘kopasus (kopi paste sukses)’ sudah menjadi kebiasaan terutama di kalangan mahasisiwa perguruan tinggi. Sudah banyak tulisan yang secara langsung mengkritik budaya ini. Namun apadaya, kritikan itu bak ‘masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri’.

Dalam tulisan kali ini penulis tertarik mengenalkan konsep ‘Free Voluntary Reading/FVR’ atau juga dikenal dengan istilah ‘Extensive Reading, Reading for Pleasure dan Light Reading’ yang banyak dikupas dalam teori pemerolehan bahasa kedua (second language acquisition). Agar tulisan ini konsisten dan mudah dipahami, penulis akan menggunakan istilah pertama untuk penjabaran selanjutnya.

Menarik kita catat dari beberapa tulisan opini di koran The Jakarta Post oleh Dr. Setiono Sugiharto, dosen senior di jurusan linguistik terapan, Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, bahwa beliau banyak mengupas tentang masalah literasi dan minat baca pelajar Indonesia.

Salah satu konsep yang selalu beliau tonjolkan adalah Free Voluntary Reading ini. Beliau pernah menulis bahwa budaya kebiasaan membaca yang rendah yang dialami pelajar Indonesia adalah mitos belaka, yang juga tidak tepat dijadikan alasan permasalahan literasi di Indonesia saat ini. Namun, justru masalah kronisnya ada di jumlah buku yang terbatas dan juga isi buku yang membosankan serta sulit untuk dibaca dengan santai.

Penulis mengamati hal ini di lapangan dan ternyata benar. Jarang ada perpusatakaan di sekolah dan perguruan tinggi yang menyediakan buku-buku komik, cerita bergambar, cerpen-cerpen ringan lebih banyak ketimbang buku-buku materi pelajaran yang tebal dan ‘membosankan’. Dalam kegiatan pembelajaran di tingkat perguruan tinggi, misalnya, kebanyakan dosen hanya memberikan foto kopi bacaan untuk mata kuliah tertentu yang tulisannya kecil dengan paragraf-paragraf panjang. Tentu hal ini sangat membosankan, seperti apa yang penulis alami ketika menjadi seorang mahasiswa beberapa tahun yang lalu.

Dalam hal di atas, dosen seharusnya dapat berinovasi memberikan sumber bacaan yang lebih menarik dan sederhana namun tetap esensial, misal dengan menuliskan kembali intisari dari materi yang akan diajarkan atau juga memberi contoh materi otentik (authentic material) yang berhubungan dengan apa yang diajarkan. Dosen juga seharusnya mengarahkan mahasiswanya untuk melakukan free web surfing dalam membaca referensi tambahan. Sehingga, dengan begini rasa bosan untuk membaca akan terhindar.

Pada dasarnya, menurut Dr. Setiono, pelajar Indonesia suka membaca baik di dalam maupun di luar sekolah. Hanya saja mereka tidak menikmati kegiatan membaca ketika menemukan buku-buku tebal dengan tulisan-tulisan kecil di dalamnya. Bahkan, beberapa orang baik guru maupun dosen yang tidak paham malah melarang siswanya untuk membaca komik dengan alasan tidak memberi ilmu pengetahuan (science).

Faktor ini yang sebetulnya penting dan perlu perhatian lebih. Secara logika, seseorang akan bersungguh-sungguh memahami dan melakukan sesuatu secara terus-menerus jika hal itu menarik baginya. Ini dapat terjadi dalam kegiatan membaca juga. Koran Kompas, misalnya, pada tanggal 19 Oktober lalu memuat berita bahwa Susi Pujiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan, sewaktu menjadi siswi SD sering membaca buku-buku cerita ringan seperi Bobo, Kuncung, Intisari, dan Khong Ping Hoo.

Itulah yang dimaksud dengan Free Voluntary Reading, yaitu kegiatan membaca apa saja yang menarik dan bisa dilakukan kapan saja tanpa adanya tekanan tugas dari guru atau dosen. Jika kegiatan membaca dimulai dari rasa senang dan tidak tertekan, sudah barang pasti seseorang akan dengan sendirinya kembali membaca dan kemudian terbiasa. Finlandia dan Australia misalnya telah lama melakukan kegiatan seperti ini. Semenjak masih belajar di Pre-school, anak-anak di dua nagara ini mendapatkan buku bacaan yang menarik sehingga setelah dewasa mereka merasa terbiasa dan membaca sudah menjadi kebutuhan. Wajar jika minat baca para pelajar di sana sangat tinggi.

Untuk merealisasikan ini semua, peran berbagai macam pihak sangat krusial, diantaranya pemerintah dan para aktivis gerakan literasi. Pemerintah yang dalam hal ini merupakan pemegang dan pembuat kebijakan sudah saatnya menyediakan buku-buku bacaan yang menarik dan juga menyediakan perpustakaan lebih banyak lagi terutama di daerah-daerah pinggir kota.

Para aktivis gerakan literasi juga dapat membuat jejaring lebih luas lagi untuk membantu pemerintah dalam proses penyediaan buku bacaan yang menarik. Bukankah gerakan civil society seperti ini juga berpengaruh besar dalam membuat terobosan baru?

Jika sumber bacaan yang menarik, mudah dipahami, dan komunikatif sudah bisa didapatkan kapan saja dan dimana saja, maka peran orang tua sebagai penentu arah kebiasaan membaca anak-anak yang dimulai di rumah akan terlaksana secara maksimal. Tanpa sumber bacaan ini, mustahil orang tua dapat melaksanakan tugasnya dengan baiik.

Mengakhiri tulisan ini, kiranya penulis telah memberikan jawaban singkat tentang tiga pertanyaan di awal tadi—dua di dalam paragraf pertama dan satu di judul tulisannya. Jawaban ini sederhana untuk praktek yang rumit, bukan?

*Penulis adalah pegiat literasi dan saat ini tinggal di Denpasar, Bali. Email: mfubaidillah@gmail.com

Facebook Comments

POST A COMMENT.