Belajar Menyenangkan bagi Anak

bd honest

Oleh: Baldwine Honest Gunarto, ST, M.Pd

MEPNews.id—-Banyak penelitian menunjukkan betapa masa usia dini, yaitu masa lima tahun ke bawah, merupakan golden ages (masa keemasan) bagi perkembangan kecerdasan anak. Ini menunjukkan pentingnya memberikan perangsangan pada anak usia dini, sebelum masuk sekolah formal (SD).

Dalam masa golden age ini, anak-anak mengalami pertumbuhan yang luar biasa pada koneksi otaknya dan juga mengalami beberapa periode kritis dalam pembentukan koneksi tersebut. Namun, yang sering salah kaprah adalah adanya pandangan bahwa periode kritis ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin, karena adanya pemikiran memanfaatkan periode tersebut agar anak lebih cepat, lebih baik, dan lebih banyak belajar dibandingkan dengan masa kecil orang tuanya . Ada sebentuk kekhawatiran bahwa masa itu akan terlewatkan sehingga proses pembelajaran akan lebih sulit dilakukan.
Padahal tidak demikian adanya tugas dari orangtua dalam periode kritis ini adalah harus menjaga kesehatan anak dengan gizi seimbang, imunisasi, dan menstimulasi aspek perkembangan anak sesuai dengan tahapan usianya, dengan memanfaatkan seluruh indranya.
Jika dalam masa periode kritis ini orangtua menjejali anak dengan berbagai materi sekaligus, maka akan terjadi kekacauan pola di sana. Anak akan mengalami kebingungan dalam proses penyambungan koneksinya , akibatnya, keterampilan yang seharusnya dapat dikuasai dengan baik justru tidak mencapai tingkat yang diinginkan. Anak akan menjadi tertekan, dan tidak bersemangat.
Berbeda jika proses pembelajarannya berlangsung tahap demi tahap, satu demi satu keterampilan, mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks maka pada akhirnya anak akan benar-benar menguasai keterampilan tersebut, tidak hanya sekedar mengenali dan memahami namun juga dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Anak belajar dari apa yang mereka alami dalam kehidupan, ibarat busa, mereka menyerap apa saja yang lingkungan berikan. Artinya anak akan belajar melalui apa yang dilihat, didengar, diraba, dicium dan dicicip pada saat ia sedang melakukan sesuatu yang bermakna bagi dirinya.
Pembiasaan hal-hal baik adalah dimulai dari orangtua. Ketika orangtua berkata dan berperilaku baik, maka anak akan mengikutinya. Misalnya, hanya sekedar bisa membaca di usia dini tidak akan bermakna bagi anak. Namun jika membaca sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarga maka secara spontan anak akan terdorong secara kuat untuk juga menjadikan kegiatan membaca sebagai bagian dari kehidupannya.
Selain itu, jangan biarkan dunia bermain mereka hilang begitu saja dengan kegiatan “belajar” yang membosankan. Belajar bagi anak adalah melalui permainan. Inti dari bermain adalah “menyenangkan dan suka rela”.

berpura-pura menjadi harimau dan buaya

Artinya, anak akan belajar memaknai secara positif berbagai materi maupun keterampilan jika dilakukan secara menyenangkan dan memang diinginkannya. Tekniknya sederhana, orang tua hanya perlu variasi metode dalam mengulang-ulang materi dan juga dalam menggunakan barang-barang di rumah yang sekiranya dapat membantu proses pembelajarannya.
Pada usia balita, otak yang benar-benar sedang berkembang pesat adalah di sisi bagian kanannya yang sangat berkaitan dengan imajinasi, pemaknaan, gambaran besar, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya proses belajar yang menyenangkan, bermakna, dan dilakukan sesuai dengan keingingan dan kebutuhan anak adalah suatu hal yang penting dan terbaik dapat dilakukan.
Golden age adalah masa yang penting, namun bukan berarti kita menjejali anak dengan beragam hal yang belum tepat untuk usianya, dengan anggapan untuk kebaikan anak. Bantu proses belajar anak, dengan bermain, dengan contoh pembiasaan yang bermakna di lingkungan keluarga. Lakukan secara menyenangkan, dan kreatiflah dalam memancing keinginan anak ***

Facebook Comments

POST A COMMENT.