Apakah Bapak Penulis?

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Pagi tadi saya mendapat beberapa pertanyaan dari teman kursus di Kampung Inggris, Pare. “Apakah Bapak seorang penulis?” dan “Apakah bapak seorang dosen?”

Pertanyaan yang wajar menurut saya. Karena kami memang masih mengawali program sehingga satu dengan yang lain masih belum saling mengetahui identitas. Yang unik di Kampung Inggris, selama pengamatan saya, ketika berkenalan sangat jarang teman satu kelas langsung menyampaikan identitas dengan jelas dan benar. Paling banter mereka yang tidak mau sebutkan secara benar antara lain; umur, pekerjaan dan pendidikan. Menurut saya itu wajar karena mereka sama-sama statusnya sebagai siswa. Ups! Kok saya jadi nglantur.

Oke, mari kembali ke pertanyaan teman satu kelas saya. Meski di atas ada dua pertanyaan, tapi saya ingin menjawab yang pertama saja; “Apakah Bapak seorang penulis?”

Biasanya jika ada yang tanya demikian, saya langsung jawab, “Bukannya Anda juga seorang penulis?” Hehehe. Iya. Kan tidak ada kriteria atau ukuran yang jelas bagi seorang untuk bisa dikatakan sebagai penulis. Asal mereka melakukan aktivitas menulis, ya disebut penulis. Masak pelukis?

Teman saya yang bertanya tersebut adalah Mul, dari Sulawesi Selatan. Identitas ini saya dapatkan dengan jelas. Selebihnya pasti ia rahasiakan. Tapi, tidak masalah. Saya sudah maklum. Dia bertanya demikian mungkin karena tahu bahwa sejak dibuat grup untuk kelas translation setiap hari saya share tulisan reflektif. Itu mungkin yang menyebabkan dia bertanya demikian.

Sebenarnya, jika saya disebut sebagai penulis, jawabnya bisa iya bisa juga tidak. Jika ‘penulis’ diartikan secara bebas, maka mungkin saya masuk dalam kategori itu. Namun, bila ‘penulis’ diartikan terikat dengan karya monumental, mungkin saya belum masuk. Saya masih sangat jauh dari itu.

Maka, mungkin yang lebih tepat jawabannya adalah saya seorang pembelajar menulis. Atau bisa juga saya disebut sebagai orang yang terobsesi menjadi seorang yang dikatakan oleh para tokoh dan ulama besar di bawah ini;

  • Ali bin Abi Thalib berpesan, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Pesan ini sudah menginspirasi banyak orang di dunia. Hanya dengan ditulis, ilmu akan terjaga dan terawat dengan baik. Jika hanya mengandalkan ingatan manusia, tentu sangatlah terbatas. Allah sudah mengatakan dalam kitabNya bahwa “manusia itu tempatnya salah dan lupa.” Saya sadar bahwa ingatan saya terbatas, maka saya menulis.

  • Imam Ghazali, ulama besar dan termashur, mengatakan, “Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.”

Menyadari saya bukan seorang anak bupati, gubernur, apalagi presiden, tentu saya tidak akan dikenal dan dikenang banyak orang. Oleh karena itu, kata-kata Imam Ghazali ini menjadi solusi agar saya tidak kalah manfaat dengan gajah. Gajah saja mati meninggalkan gading. Nah, kalau tidak punya karya, apa yang saya mau ditinggalkan?

  • Fatimah Mernissi, aktivis perempuan dunia, juga berpesan, “Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaat yang luar biasa.”

Tentu saja saya tidak hanya ingin menjadi orang yang seperti dikatakan Fatimah Mernissi, kulitnya segar. Betapa banyak orang yang menghabiskan uang jutaan rupiah demi mendapatkan kulit segar. Fatimah memberikan solusi yang sangat sederhana, murah sekaligus manfaatnya besar. Karena saya bukan orang yang dengan harta berlimpah, maka agar kulit saya tetap segar ya saya menulis setiap hari. Menulis memiliki manfaat berlipat; selain kulit segar, juga bermanfaat bagi yang lain.

  • Stephen King, ahli fisika, memberikan pernyataan bahwa “Menulis adalah mencipta. Dalam suatu penciptaan, seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya.”

Hebat sekali orang yang menulis, menurut King. Penulis dikatakannya sebagai pencipta. Besar dan mulia, bukan? Nah, saya juga ingin menjadi yang demikian itu.

  • Pramoedya Ananta Toer, novelis yang menghasilkan tetralogi karya ketika dalam penjara, memberikan pernyataan, “Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi, selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Saya kira penyataan Pramoedya sangat realistis dan benar. Bagaimana kita bisa mengetahui nama Ibnu Sina, Ibnu Rush, Al Kindi, Al Khawarismi, Al Ghazali dan tokoh besar lainnya, kalau tidak dari tulisan? Andaikan para tokoh besar Islam itu tidak menulis, bisa dipastikan kita tidak akan kenal mereka, dan kebesaran ilmu mereka tidak bisa sampai pada kita. Oleh karena itu, saya menulis.

Beberapa tokoh besar di atas telah memberikan lecutan semangat untuk menginspirasi seseorang agar menulis, termasuk saya.

J. K. Rowling, novelis asal Inggris, menyarankan dalam menulis, “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.”

Yang saya lakukan selama ini terinspirasi dari saran Rowling. Saya menulis apa saja yang saya lihat, dengar, rasakan, alami, lakukan. Tidak muluk-muluk. Sederhana. Namun, konsisten. Insya Allah suatu saat akan memperoleh manfaat yang besar.

Tidak cukup dengan saran dan statement tokoh di atas. Kuntowijoyo, penyair Indonesia, menberikan saran pendobrak. Agar ide tidak hanya bersarang di angan-angan, harus ada action. Maka ia mengatakan, “Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu: menulis, menulis, menulis.”

Ini lah kunci saya untuk memulai menulis. Asupan nustrisi inspirasi yang sangat berharga di atas akan disayangkan jika hanya ada di angan-angan tapi tidak segera diesekusi. Maka, saran Kontowijoyo ini lah yang menjadi cambuk untuk memulai menulis.

Jadi ini jawaban saya atas pertanyaan yang diajukan teman saya tadi. Sebenarnya saya membayangkan, betapa indahnya setiap perjumpaan dengan orang baru selalu diliputi dengan ilmu. Garak-garik dan aktivitasnya tidak terlepas oleh ilmu. Yang mungkin sekaligus sederhana untuk dilakukan adalah dengan menulis.

Di zaman digital ini tidak ada alasan kesusahan mencari media untuk menulis. Tidak harus dengan laptop, dengan smartphone pun bisa. Tidak harus dengan waktu khusus, ketika menunggu jam masuk kelas pun bisa.

Semoga saya dan teman-teman saya selalu diberi kekuatan untuk menaklukkan rasa malas dalam diri ini.

Aamiin.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.