Hendaknya Menahan Diri

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —-Bagai khotbah Jumat saja ketika seseorang mengatakan kepada temannya bahwa zaman sekarang ini hendaknya semua orang senantiasa harus belajar semakin pandai menahan diri dan mengolah emosi. Memperbanyak senyum, bersikap sabar, dan lapang dada. Juga hendaknya sering-sering dan gampang mudah memaafkan.

Kran kebebasan ber-apa saja sudah semakin dibuka lebar selebar-lebarnya dan sederas-derasnya meluncur meluber kemana saja. Mereka seakan melakukan arogansi opini kebebasan tanpa kontrol dan kendali. Entah karena sudah lama sakit hati dan dilukai sehingga butuh pelampiasan sedemikian hebat. Atau memang kurang alim dan mengerti bahwa kebebasan butuh dibatasi serta akan bahaya jika tak menguasai kontrol kebebasan yang memadai.

Sebutlah satu kebebasan beropini hingga saking merasa punya hak bebas beropini ia tak pernah merasa bahwa ternyata sudah kebablasan menuju dan menjadi caci maki. Tidak setuju dengan korupsi tapi yang terjadi justru hinaan yang sangat tidak manusiawi seakan-akan andai si korup ini bertaubat, Tuhan takkan menerimanya dan tak mungkin menjadi kekasihNya.

Akan tetapi yang namanya instrospeksi, mengenali keangkuhan dan kesalahan diri sendiri saja memang sangat sedemikian sulitnya, sampai-sampai rasanya memang pantas jika “upah” barangsiapa mengenal complacated jasmani ruhani dirinya sendiri maka ia akan mengenali Tuhannya. Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu.

Tentang menahan diri ini sebenarnya paralel dengan–lagi-lagi–menjaga keseimbangan hidup. Kalau sudah satu jam dua jam tak bisa kita hindari ngobrol dengan seseorang yang sudah tertutup tak mampu dinasehati dan selalu merasa angkuh paling benar sendiri, maka ya segera kita imbangi dengan pindah silaturahmi bergaul dengan teman-teman yang arif dan rendah hati, penuh canda tawa, riang gembira dan egaliter. Low profile pol dan gemar mentraktir kita ngopi gratisan.

Memangnya ada selain Tuhan yang sanggup ngasih petunjuk kepada manusia? Kalau Tuhan menutup pintu hidayah karena alasan Tuhan sendiri yang tahu persis, kita mau apa? Apakah kita akan malang kerik menantang menyalahlan Tuhan? Rasanya tidak juga. Salah satu jalannya adalah menjaga keseimbangan pola pergaulan diri kita sendiri. Karena kita juga tak tahu persis bahwa yang gelap angkuh dan tak berpetunjuk hari ini, esok hari bisa sangat mungkin tercerahkan terang benderang bak cahaya purnama.

Khotbah Jumat warung kopi ini diakhiri dengan pernyataan sederhana bahwa kalau ada seorang kiai menguraikan beberapa hal dengan tidak terlalu mendalam atau dengan bahasa simbolik tertentu, maka tugas kita adalah mencarinya. Mencari apa yang kita anggap kurang atau tak terlalu dalam itu. Namanya mencari ya tidak ditemukan jika kita pasif tak mencari. Memang kelihatannya tidak ada dan selalu menyisakan pertanyaan: Mana? Kok nggak ada?”

Bagi yang mencari kelak akan menemukan “ada” terhadap sesuatu yang awalnya dianggap “tidak ada” dan karena kita diposisi kehidupan dunia ini, maka isinya selalu ketidak-sempurnaan, merasa kurang terus dan belum menemukan. Padahal kalau ingin kesempurnaan pergilah ke akhirat sana. Dan seorang kiai menahan diri tidak terlalu menceritakan banyak hal, supaya kita mencari.

“Mohon jangan pernah menuduh Quran itu tidak sempurna hanya karena 30 juz. Menurut Sampeyan apakah kalau 100 juz atau 1000 juz baru bisa dikatakan sempurna?” Kata si pengkhotbah warung kopi mengakhiri dan mbayari kopi sambil tersenyum. Mungkin si pengkhotbah habis cairan sehingga tumben dia yang mbayari. (Banyuwangi, 5 Desember 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.