Bahaya Heterogenitas Masyarakat Digital

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

MEPNews.id —- Masyarakat digital bersifat heterogen. Ada tua, ada setengah tua, ada muda ada setengah muda, remaja, dan anak-anak. Di dalam media sosial (medsos), khusus Facebook dan WhatApps (WA), heterogenitas itu pasti dan jelas, utamanya Facebook. Apalagi jika setting (pengaturannya) senantiasa untuk publik bukan private (pribadi). Kita memang sudah ditakdirkan menjadi bangsa yang heterogen. Takdir ini merupakan sebuah pesan bagi bangsa untuk belajar mengendalikan diri dan berbuat kebaikan antarsesama.
Lalu, bagaimana tentang masyarakat digital yang heterogen? Teks-teks postingan di Facebook beraneka ragam jenis dan tingkatan muatan informasinya. Di dalam pengajaran Bahasa saja, ada tingkatan elementary, pre-intermediate, intermediate, pre-advanced, dan advanced. Itu sebabnya, buku-buku teks apa saja di sekolah, kosakata dan bobot isinya harus disesuaikan dengan tingkatan umur kedewasaan siswa.
Misalnya, buku siswa SD Klas I, tidak bisa sama dengan Buku siswa SMP klas 7, dan sebaliknya. Semuanya berlaku sama dengan jenjang-jenjang kelas dan umur siswa. Apa lagi jika muatan teks orang dewasa dibaca oleh siswa SD, jelas tidak cocok baik muatan isi maupun kosa kata yang ada dalam teksnya. Itulah standar aturan bacaan atau literasi manusia. Isinya berdasarkan pada jenjang umur atau level pendidikannya.
Dengan heterogenitas masyarakat digital dan isi informasi, maka ada hal yang sangat riskan dengan kondisi masyarakat saat ini. Bangsa ini dalam persimpangan jalan kehidupan serba cemas. Ibarat perempatan, maka manusia-manusia anggota masyarakat digital ini ada di tengah-tengah. Ada berbagai informasi mengalir begitu deras dari berbagai penjuru. Informasi dengan isi yang bermacam-macam. Ada informasi menghasut. Ada informasi mencaci-maki. Ada informasi saling menghujat. Ada informasi yang saling merendahkan diri orang lain.
Semua jenis teks terbaca oleh siapa saja, anggota masyarakat yang heterogen. Orang dewasa, tua muda, remaja, anak-anak kecil pun ada di persimpangan jalan yang sama. Celakanya, persimpangan kehidupan ini terisi berbagai latarbelakang dan kemampuan berpikir. Semua campur-aduk.
Paling tidak, banyak gumpalan informasi negatif berbentuk pola pikir massif yang rentan dengan percekcokan. Ini membahayakan kehidupan dan kebersamaan bangsa. Kehidupan yang benar-benar semakin ganas. Mudah terprovokasi. Mudah beragitasi. Kondisi yang cenderung menanam rasa dendam. Berlomba lomba mencari kebenaran tanpa dibarengi dengan perlombaan membangun kebaikan.
Otak masyarakat heterogen terinternalisasi berbagai jenis informasi. Semua tumplek blek jadi satu. Jelas, dengan berbagai jenjang umur dan kemampuan berpikir yang berbeda-beda itu berakibat buruk bagi mental mereka. Utamanya anak-anak kecil dan remaja. Mereka generasi muda penerus bangsa tanpa arahan yang jelas. Informasi mana yang harus dianut? Berita nyata dan hoax plus obrolan nggedabrus campur jadi satu. Lebih bahaya jika mengarah ke pembentukan opini dan konsep berpikir yang merugikan keharmonisan dalam tatanan kebangsaan dan kemanusiaan.
Agar generasi penerus memiliki kepastian arah yang positif, harus ada tindakan baik oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga swasta yang terpadu. Anak bangsa ini memerlukan arahan yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai dan kepribadian bangsa sendiri. Nilai-nilai keluhuran yang saling menghargai satu sama lain. Nilai-nilai kemanusiaan untuk membangun bangsa yang lebih besar.
Kita sadar, bahwa bangsa Indoneisa, senantiasa dalam persimpangan jalan. Dari segi geografis, sejak sejarah dahulu kala, Indonesia tergambarkan sebagai negeri diapit benua-benua besar. Dalam kebudayaan, Indonesia senantiasa mudah mengakomodasi kebudayaan-kebudayaan luar. Pada prinsipnya, semua itu tetap disaring dan disesuaikan dengan budaya dan jiwa bangsa sendiri. Berkacalah kepada negeri Gajah, Thailand. Negeri yang tak pernah dijajah oleh bangsa lain karena kuat dengan memegang budayanya.
Ternyata, persimpangan itu tidak hanya geografis. Dalam masyarakat digital, banyak di Antara heteroneitas pola pikir, pandangan, dan nilai-nilai dari berbagai jenjang umur berada di persimpangan yang tidak jelas. Informasi di media sosial begitu deras dengan misi yang belum tentu jelas pula. Jika tidak diarahkan, bangsa ini menjadi bangsa yang tidak punya kepastian mau dibawa kemana.
Tugas pemerintah juga bisa melalui sektor pendidikan. Pendidikan mulai jenjang sekolah dasar (SD) menengah (SMP, SMA), sampai pada Perguruan Tinggi memerlukan keterpaduan dalam sstem pendidikannya. Matapelajaran atau matakuliah teknologi informasi bisa dijadikan matapelajaran atau matakuliah wajib di mana pun jurusannya, apa pun fakultasnya.
Matakulaih ini diharapkan memberikan berbagai materi atau silabus yang mengarahkan pemberdayaan para siswa atau mahasiswa terhadap penggunakan alat teknologi informasi. Tugas-tugasnya berbentuk tugas terkait pemanfaatan teknologi informasi. Bila perlu, dibuatkan buku paket wajib dan seragam dengan sisi disesuaikan dengan jenjang pendidikan.
Materinya terkait pemanfaatan teknologi informasi sehinga para siswa atau mahasiwa bisa terarah dengan manfaat positifnya. Di samping itu, materinya juga terkait dengan sisi negative kesalahan pemakaian teknologi informasi bagi mereka. Dengan keterpaduan kurikulum dan sistem pendidikan seluruh jenjang, masyarakat digital yang heteterogen ini akan selamat dari persimpangan jalan dengan berbagai informasi yang heterogen. Semua heterogenitas itu tidak berbahaya jika dikelola secara terpadu dan sistematik.***
Penulis: Pengamat Pendidikan dan Sosial,
President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER)
Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.