Skill Penting di Era Artificial Intelligence

tom kolom kecilOleh: Teguh Wahyu Utomo

MEPNews.id – Diam-diam, suka atau tak suka, tidak diragukan lagi, kita telah berhubungan dengan apa yang biasa disebut sebagai Artificial Intelligence (AI). AI, juga disebut machine intelligence (MI) adalah kecerdasan buatan yang ditunjukkan oleh mesin. Ini beda dengan natural intelligence (NI) alias kecerdasan alami yang ditampilkan oleh manusia dan mahluk hidup lainnya.

Saat belanja online, saat melihat produk ‘suggested for you‘, melihat iklan yang muncul di Facebook, atau melihat deposit di bank menggunakan ATM, sebenarnya kita sudah berhadapan dengan AI. Industri lain, mulai dari kesehatan, trasnportasi, kebugaran, media, hingga aplikasi perjodohan, juga mengadopsi AI untuk mengoptimalkan dan mengotomatisasi proses. AI sudah dikenal dunia akademis sejak 1990-an, namun pemanfaatannya baru beberapa tahun terakhir dan sekarang popular.

AI adalah apa yang dikenal sebagai forward model dalam ilmu komputer. Ia membuat keputusan berdasarkan masukan ke dalam model, antara lain data berupa gambar, angka, atau sesuatu yang bersifat matematis dan terukur. Misalnya, mesin permainan catur. Model ini mampu memodifikasi prediksi berdasarkan dinamika arus input. Semakin lama dan banyak menerima input, model ini ‘makin cerdas’ dalam arti semakin banyak tebakan yang bisa dibuatnya tentang perilaku masa depan.

Ini berbeda dengan backward model, atau algoritma komputer prediktif non-AI. Dalam backward model, prediksi dibuat berdasakan kumpulan data masa lalu dan parameter unik yang dipilih pada saat model itu dibangun. Misalnya, robot las di pabrik mobil. Oleh karena itu, backward model tidak memiliki kemampuan untuk memodifikasi perkiraan atau prediksi. Berapa kali dan berapa banyak backward model diberi umpan data, ia akan selalu memberikan jawaban atau reaksi yang sama untuk titik data yang sama.

Mengapa sekarang AI digunakan secara lebih umum daripada sebelumnya? Pertama, berkembangnya ilmu pengetahuan dan kemajuan di balik pengembangan algoritma. Kedua, dengan banyaknya data yang dihasilkan, ini menjadi saat yang tepat untuk menggunakan forward model.

Salah satu prinsip utama perancangan algoritma untuk AI adalah harus ada cukup data ‘pelatihan’ yang digunakan untuk ‘melatih’ model sebelum ia dapat membuat prediksi berarti. Jumlah ini bisa berkisar dari 10.000 titik data dan lebih banyak lagi. Kelimpahan data ini tidak ada dalam kapasitas yang sama sebelumnya seperti sekarang. Dengan prevalensi komputasi berkecepatan tinggi, inilah saat yang tepat untuk memanfaatkan forward model.

Sekarang, mari kita lihat apa yang AI bisa lakukan dan tidak bisa lakukan. AI mampu mereplikasi dan mengotomatisasi keputusan berdasarkan parameter tertentu yang dimasukkan ke dalam program. Namun, tidak peduli berapa hebat kekuatannya, AI tidak dapat menjadi kreatif. Sejauh ini, AI hanyalah program yang dapat dengan cepat dan efisien mencocokkan dan memilah data, tapi tidak dapat membuat keputusan kreatif mengenai berbagai hal, gagasan atau sesuatu. Meski bisa mereplikasi perilaku, AI sejauh ini tidak memiliki imajinasi. Itu karena AI hanya algoritma dengan teknik optimasi dan regresi fungsional canggih.

Ini beda dengan otak manusia. Selambat apa pun kecepatan berfikirnya, otak manusia itu kreatif dan imajinatif. Manusia mampu memikirkan sesuatu dan mengimajinasikan hal-hal yang kemudian bisa diwujudkannya. Kata Walt Disney, “Jika bisa memimpikannya, Anda bisa melakukannya.”

Sejauh ini, AI tidak bisa melakukan imaji atau berfikir kreatif. Lebih tepatnya, apa yang bisa dilakukan AI adalah tugas berulang dengan tingkat yang sangat efisien. Jadi, di zaman AI, kreativitas manusia harusnya lebih premium daripada sebelumnya.

Dengan demikian, akan semakin banyak industri memanfaatkan power AI sehingga dapat menyebabkan berkurangnya tenaga kerja di bidang-bidang yang membutuhkan tugas berulang-ulang. Sebaliknya, sebagaimana disarankan DR Anna Powers untuk Forbes edisi 31 Desember 2017, dunia akan membutuhkan lebih banyak kreativitas yang hanya didapatkan dalam otak manusia.

Jangan takut menghadapi era AI. Kecerdasan buatan itu buatan manusia. Kecerdasan alami kita itu buatan Tuhan. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.