Kisah KH Masruri Abd Muhit yang Menggetarkan

Seumpama Bapak Mau Ikut Belanda Kamu Jadi Anaknya Sinder Tapi Tidak Mondok

Oleh Masruri Abd Muhit

MEPNews.id —- Ini juga sekedar catatan dari acara halal bihalal keluarga saya Bani H Abd Muhit Sulaiman, mungkin tahadduts binni’mah, semoga terhindar dari bangga ataupun riya’.

Silaturahim dan halal bihalal keluarga saya bani H Abd Muhit Sulaiman yg saat ini berjumlah lebih dari seratus orang diadakan setiap tahunnya pada bulan desember saat anak anak sekolah libur semester ganjil.

Untuk tahun ini merupakan silaturahim dan halal bihalal yg ke tujuh, bertempat di rumah Faidatul Ummah dan Abd Wahid, putri dan menantu dari ibu Hj Qomariyyah Abd Muhit dan H Ahmad Dlofir, putri ke lima dari bapak H Abd Muhit di Mangaran Situbondo pada hari sabtu 30 desember 2017.

Acara dimulai dengan pemberangkatan keluarga yg tinggal di Ambulu, Wuluhan, Balung, Karang duren, Umbul Sari dan termasuk yg dari Kudus dari rumah keprabon Balung Kulon Jember dengan menaiki bus besar kapasitas 60, namun dengan anak anak kecilnya menjadi sekitar 80 orang, sementara yg dari Probolinggo, Bondowoso, Banyuwangi dan satu keluarga dari Ambulu karena tidak kuat dingin berangkat dari daerah masing masing memakai kendaraan pribadi, jadi total kendaraan yg dipakai sebanyak 1 kendaraan bus dan 6 kendaraan mobil pribadi.

Yg memakai bus dan satu mobil pribadi dari Ambulu berangkat jam 05.00 dan mampir ke pesantren kita Darul Istiqomah Maesan Bondowoso untuk sarapan, untuk kemudian saya dan anak istri serta mantu dan cucu sebanyak 13 orang dengan dua mobil pribadi berangkat bersama menuju Situbondo, tempat acara.

Sampai di tempat acara sekitar jam 09.00 disambut oleh tuan rumah dan keluarga serta bani Qomariyah & Dlofir Gumuk Mas, untuk kemudian langsung melakukan khataman alqur’an sambil menunggu yg terlambat datang dari Probolinggo dan Banyuwangi.

Bersamaan dengan selesainya khataman alqur’an keluarga dari Probolinggo dan Banyuwangi datang, dan setelah dibacakan khotmil Qur’an acara segera dimulai.

Acara dipandu oleh adik M Romli Abd Muhit, dimulai dengan bacaan alfatihah, diteruskan dengan sambutan tuan rumah, kemudian sambutan ketua panitia yg sekaligus memandu ungkapan dari hati ke hati, baru kemudian maw’idzoh hasanah dari sesepuh dan ditutup dengan doa.

Sambutan tuan rumah disampaikan oleh saudara Abd Wahid dengan isi biasa, ucapan terima kasih, permintaan maaf dan permohonan doa, sedang sambutan ketua panitia disampaikan oleh adik H Abd Qodir Abd Muhit, sambutan berisi laporan kepanitian mulai dari musyawaroh panitia, sampai keputusan iuran dan teknis pemberangkatan, termasuk kontein acara.

Disambung dengan acara dari hati ke hati yg isinya mengenang kebaikan almarhumah Ibu Hj Qomariyyah binti H Abd Muhit untuk bisa ditiru dan diteladani.

Adik H Romli Abd Muhit memulai acara hati ke hati dengan menyebut bahwa almarhumah sosok yg getol dalam ibadah mutaaddiyah, ibadah sosial dimana almarhumah sangat aktif dalam organesasi keagamaan, dimana berkali kali menjadi ketua fatayat nu cabang Kencong Jember dan berkali kali pula menjadi ketua muslimat nu cab Kencong sampai wafat. Hal yg sama disampaikan oleh putra almarhumah yg bernama Miftahul Ulum, bahkan menurutnya almarhumah lebih memperhatikan umat dari pada anak anaknya dengan keyakinan bahwa dengan memperhatikan umat, Allah melalui umat akan memuliakan anak anaknya, dan itu terbukti dengan selalu dia dijadikan ketua organesasi padahal
sebelumnya tidak aktif dalam organesasi itu, dan masih banyak lagi kebaikan yg disampaikan spt kebaikan dan kasih sayangnya pada saudara dan adik adiknya oleh adik H Abd Qodir dan HM Romli, juga sifatnya yg mau meminta maaf kalau salah meskipun kepada adiknya juga kecerdasannya saat di pondok yg disampaikan oleh adik H Abd Manan juga saya sendiri.

Acara dilanjutkan dengan tausiyah dari sesepuh yg dalam hal ini diserahkan kepada saya.
Saya tidak mau menyampaikan tausiah, saya hanya menyampaikan sejarah hidup bapak saya H Abd Muhit Sulaiman dan beberapa pandangan hidup beliau.

Dalam muqoddimah saya sampaikan bahwa sebenarnya masih merasa muda, belum pantas jadi sesepuh, tapi ternyata kok yo sudah sampai gilirannya, saya ini sebenarnya masih sweet ….ee sweet sewidak.

Karena orang tua bapak saya orang kaya, maka bapak saya bisa sekolah sampai sekolah lambau, sekolah pertanian di Malang, yg tidak sembarang orang zaman itu (zaman penjajahan Belanda) bisa sekolah, namun setamat sekolah itu bapak saya tidak mau menjadi pegawai Belanda, beliau lebih memilih menolong orang tua beliau dalam mengelola usaha pertanian (Kalau bapak mau jadi pegawai Belanda kamu akan jadi anak seorang sinder, kata beliau suati ketika kpd saya) dan kemudian karena beliau berfikir bahwa beliau masih muda dan orang tua beliau masih bisa membeyayai, maka beliau ingin bisa membaca dan menulis Arab. Ketika keinginan beliau disampaikan, orang tua beliau memasukkan ke madrasah diniyyah ibtida’iyyah di desanya, dan setelah sekolah di madrasah itu, beliau mulai berdakwah dengan mengajak keluarga dan masyarakat untuk shalat dan berusaha untuk memberantas kemaksiatan termasuk menghukum mereka yg berselingkuh dengan hukum rajam.

Cara berdakwah bapak saya pada waktu itu sangat kasar sehingga beliau dianggap stres, namun dakwah itu cukup berhasil menyadarkan relegiutas masyarakat, termasuk keluarga beliau.

Ketika kemudian orang tua beliau naik haji, beliau disuruh mondok ke Solo oleh kakaknya, dan setelah tamat dari pondok Di Solo, beliau mendengar ada pesantren modern yg baru, dengan methode pengajaran bahasa Arab yg efektif, maka beliau tertarik untuk mondok disitu, yaitu pondok Gontor.

Namun saat pulang untuk pamit mondok lagi ke Gontor, beliau dipaksa untuk menikah dulu sebelum ke Gontor, jadi beliau masuk Gontor sementara kiainya yaitu almukarrom KH Imam Zarkasyi waktu itu belum menikah. Namun beliau tidak sampai menamatkan KMInya, mungkin salah satu sebabnya karena memang sudah mempunyai istri.

Sepulang dari Gontor beliau menjalani hidup dengan bertani, mengajar ngaji, mengelola madrasah diniyyah, mengadakan dan mengisi beberapa kelompok pengajian dan di masyarakat desa.

Ada beberapa pelajaran dari beliau yg saya sampaikan, di antaranya,

– Semua putra putrinya yg hidup sampai dewasa sebanyak 12 orang tidak ada yg tidak pernah dimasukkan ke pesantren, yg putra 4 orang di Gontor dan 1 orang di Baitul Arqom, sedang yg putri 5 orang di Darul Ulum Jombang, 1 orang di Baitul Arqom dan 1 orang lagi di pesantren Annuriyyah Kaliwining Jember.

– Ketika ditanya mengapa semua anak beliau dimasukkan pesantren, mau jadi apa, beliau menjawab bahwa beliau tidak perduli mau jadi apapun anak beliau selama mereka bertaqwa dan mempunyai ilmu agama.

– Setiap ada lelaki yg datang meminang putri beliau, beliau akan langsung menerimanya dan menikahkannya selama beliau melihat agamanya baik.

Acara kemudian ditutup dengan doa oleh adik H Abd Mannan Muhit, dan makan bersama, yg kemudian setelah shalat, berwisata bersama ke pantai pasir putih dan pulang ke rumah masing masing.

Semoga bermanfaat.

Daris, 13 R Tsani 1439

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.