Semoga Gembira di Tahun Baru

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —– Sebelum dan sesudah kita meninggalkan tahun 2017 menuju tahun baru 2018, ada baiknya kita merenung sejenak saja mengenai berbagai kisah dan pengalaman hidup sebelum memasuki pergantian tahun. Apa sajakah yang dulu telah dan pernah terjadi menimpa kita?

Karena sebentar saja, maka tak perlu pakai lama. Segeralah kita memasuki jengkal demi jengkal detik waktu kehidupan kedepan. Kekenian segera masuk ke kemudian. Betapa sangat cepatnya. Begitu seterusnya dan begitulah selanjutnya. Dan kini kita akan memasuki tahun baru 2018 seakan-akan baru saja kita melewati awal pergantian tahun 2017, padahal tenggang waktunya sudah setahun yang lalu.

Seseorang yang sedang melakukan–istilah kekiniannya–piknik tipis-tipis dengan menggunakan kendaraan yang sangat nyaman berbisik kepada teman sebelahnya: “Ternyata enak juga ya berkendara jika terasa nyaman itu. Nggak terasa capek. Serasa tak perlu lama menunggu ke tempat tujuan. Dan rasanya tidak lelah untuk kemudian beraktivitas terus dan lagi…”

Kendaraan yang mahal memang bagai sangat begitu mengerti keseimbangan kita. Kalau, umpamanya, kursi mobil tak dibikin seideal mungkin untuk rileks mengimbangi lamanya seseorang berkendara, maka gampang capeklah kita. Akan tetapi untuk mencapai keseimbangan tidak harus mewah. Banyak kompensasi pengganti agar hidup kita senantiasa seimbang. Entah mendengarkan musik, guyon-guyon, ngopi-ngopi, dan lain sebagainya.

Termasuk berdiskusi dan bercanda dalam berdiskusi. Hal ini yang membuat hidup kita tak gampang beku dan kaku. Antisipasi dari keangkuhan bagai katak dalam tempurung. Sehingga partner diskusi kita meskipun hanya satu dua orang dalam setiap hari, merupakan cermin agar kita senantiasa rendah hati dan tidak angkuh diri. Tanpa cermin terkadang orang gampang lupa bahwa rambutnya belum rapi, juga mungkin sisa makanan dimulutnya lupa dibersihkan.

Tahun baru bisa seremeh temeh pergantian siang malam sehari-hari belaka. Juga bisa didramatisir sebagai momentum perenungan diri yang seakan-akan tanpa tahun baru kita tidak merenung. Jadinya seakan-akan tahun baru menjadi sakral. Ada lagi yang tahun baru diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Ada juga yang mengisinya dengan hura-hura kegembiraan yang distruktif dan kotor.

Sederhana saja, bahwa melewati malam tahun baru dengan biasa-biasa saja tanpa kegiatan apa saja meskipun itu kegiatan keagamaan, tanpa perenungan, dan lain sebagainya, sebenarnya adalah bukan masalah dan boleh-boleh saja. Akan tetapi secara kultural tahun baru seakan-akan tiba-tiba menjadi momentum yang sakral untuk melakukan muhasabah perenungan, dan lain sebagainya.

Secara pribadi saya memilih tahun baru sebagai agenda kegembiraan yang positif dan bukan perenungan. Tahun baru bukan bulan Ramadhan dimana kita wajib berpuasa. Tahun baru itu biasa-biasa saja. Boleh merenung boleh tidak. Boleh bergembira, juga boleh tidur ngorok. Boleh berlibur dan mancing mania. Aneh, jika tahun baru tiba-tiba menjadi sedemikian sakral.

Akan tetapi kemudian sebuah pesan berbisik mengejek dan menampar saya: “Orang mlarat memang sukanya gembira di hari libur tanggal merah, begitu kan asli dan intinya yang dikau maksudkan dalam tanggal merah tahun baru 2018? Sudah enak dikasih tanggal merah kok capek-capek, begitu kan maksudmu?”

Ada juga yang nakal: “Begitulah bahasa komunikasi. Bilangnya tak perlu merenung, nyatanya merenung juga, hahahaha…” Selamat tahun baru 2018. Semoga bahagia dan bergembira. (Banyuwangi, 31 Desember 2017)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.