Mau Sukses di Sekolah? Kontrol Diri Dulu!

MEPNews.id – Usai musim liburan sekolah, para siswa dihadapkan pada tantangan rutin; menjadi lebih baik secara akademis. Bagaimana caranya? Ternyata, bekal kecerdasan saja tidak cukup. Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Perspectives on Psychological Science, sukses akademis juga memerlukan kontrol diri lebih banyak.

Apa indikatornya? Boleh dikata, semua siswa menyadari pentingnya pendidikan. Namun, menurut survei di Amerika Serikat, ketika dihadapkan pada tugas kuliah atau pekerjaan rumah atau yang sejenis lainnya, kebanyakan mereka berharap melakukan hal yang lain saja. Ini artinya mereka tidak bisa mengontrol diri dari godaan lain yang lebih kuat daripada mengerjakan tugas akademik.

“Siapa saja pernah berada dalam situasi ini. Ibaratnya ada kue cokelat di depan Anda, padahal Anda benar-benar tidak ingin memakannya tapi Anda sangat terdorong untuk melakukannya. Menurut saya, para siswa merasa seperti dalam kondisi ini setiap berhadapan dengan pekerjaan mereka,” kata Angela Duckworth, profesor psikologi di University of Pennsylvania, salah satu penulis hasil penelitian.

Digambarkan oleh Traci Pedersen dalam PsychCentral edisi 30 Desember 2017, dalam penelitian ini Duckworth dan rekan-rekannya mengikuti perkembangan 304 siswa kelas delapan. Mereka mengukur tingkat kontrol diri siswa melalui laporan-sendiri, kuesioner yang diisi orang tua dan guru, serta serangkaian tugas terkait perilaku delay-of-gratification (bersusah-susah dulu untuk mendapatkan kesenangan kemudian).

Temuan mereka menunjukkan, siswa yang dinilai tinggi untuk kontrol diri ternyata juga mendapatkan nilai lebih tinggi dalam tes standar. Hubungan ini serupa dengan IQ. Namun, tidak seperti IQ, kontrol diri yang lebih tinggi ternyata juga terkait dengan perilaku antara lain; lebih rendahnya tingkat membolos, lebih jarangnya menunda-nunda mengerjakan tugas, lebih banyaknya waktu untuk belajar, dan lebih sedikit waktu untuk menonton televisi.

Duckworth, yang pernah mengajar matematika di sekolah menengah sebelum menjadi profesor di kampus, mengatakan temuan ini mencerminkan pengalamannya sendiri di kelas. “Semua anak sebenarnya ingin melakukan dengan baik. Saya belum pernah bertemu anak yang ingin melakukan lebih buruk. Tapi, tidak semua dari mereka mampu menyelaraskan perilaku dengan belajar, mengerjakan PR, atau memperhatikan di kelas.”

Berdasarkan penelitian lain terhadap 1.000 siswa di Selandia Baru, para periset juga menemukan penilaian kontrol diri pada masa kanak-kanak bisa menjadi prediksi tentang kondisi keamanan finansial, pendapatan, kesehatan fisik dan mental, penggunaan narkoba, dan hukuman kriminal di kemudian hari, sebagaimana juga dengan kecerdasan atau status sosial ekonomi.

Dalam psikologi, kontrol diri dapat dikelompokkan dengan conscientious (ketekunan) sebagai salah satu ciri Lima Besar kepribadian. Pada saat yang sama, kontrol diri juga merupakan perilaku unik yang secara signifikan dapat mempengaruhi kesuksesan secara keseluruhan.

Kontrol diri bahkan ada pada skala waktu sangat pendek, kata Duckworth. Misalnya, kontrol diri membantu seseorang menolak godaan main ponsel di kelas. Sedangkan, kegigighan dapat memberikan semangat yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan jangka panjang antara lain jadi juara nasional atau masuk perguruan tinggi pilihan pertama.

Masalahnya, mendorong jenis perilaku ini tidak mudah. Tidak bakal bisa jika guru sekadar berkata pada siswa, “Ayo, gunakan kontrol diri.”

Duckworth malah menginginkan penggunaan kebiasaan situasional yang bisa membuat godaan untuk mengabaikan tugas sekolah menjadi kurang kuat. Misalnya, kebiasaan mematikan ponsel di dalam kelas, atau bahkan meninggalkannya di ruangan lain, untuk menghindari godaan main sosmed.

“Berpikir tentang cara-cara untuk menghindari konflik ini secara strategis tampaknya jauh lebih efisien, dan kurang menyiksa, seiring berjalannya waktu,” katanya.

Facebook Comments

POST A COMMENT.