Sekolah Rumah Anak Sebuah Keniscayaan

MEPNews.id —- Belajar adalah proses mencari tahu dan membangun kesadaran diri agar bisa mandiri dan percaya diri. Didalam belajar diharapkan terjadi banyak perubahan perilaku, tentu saja perubahan yang diinginkan adalah perubahan dari sesuatu yang dianggap kurang menuju kearah yang lebih positif dan lebih baik. Diadalam belajar sesungguhnya proses memberi ruang kepada siapapun yang terlibat untuk menunjukkan dirinya ada. Sehingga memberi kesempatan kepada siapapun yang terlibat dalam proses belajar tersebut adalah sebuah keniscayaan, Maslow menyebutnya sebagai kebutuhan untuk beraktualisasi.

Kesadaran diri dalam beraktualisasi merupakan kebutuhan tertinggi setiaap orang, karena disanalah setiap orang bisa menunjukkan dirinya ada dan berharga. Dalam proses membentuk kesadaran diri itulah dibutuhkan sikap saling menghargai dan mengapresiasi. Sikap saling menghargai dan mengapresiasi itulah yang kelak akan menumbuhkan sikap bertanggung jawab terhadap apapun yang akan dilakukan.

Nah dalam situasi zaman yang serba tidak menentu dan dipenuhi dengan ketidakpastian seperti sekarang ini, tentu akan membuat kita semua menjadi gamang dan cenderung berputus asa, karena sebagaian sudah merasa sudah berbuat banyak, tapi ternyata dirasakan masih belum memenuhi apa yang dibutuhkan. Sebagai contoh dalam dunia pendidikan, betapa para guru dan pendidik kita, baik itu yang berada didalam pendidikan formal maupun non formal, rasa – rasanya apa yang dilakukan tidak banyak berpengaruh didalam perubahan perilaku anak – anak, padahal para pendidik kita sudah berbuat semaksimal mungkin.

Lalu apa yang bisa dilakukan ? Dalam situasi yang seperti ini tentu saja dibutuhkan kesabaran dan keuletan, sehingga dengan kesabaran dan keuletan itu, kita bisa dengan jernih mengukur kekuatan yang bisa kita lakukan. Hal yang paling logis dalam mengukur kekuatan itu adalah memberikan sesuatu yang kita punya dan bisa kita lakukan serta mudah untuk dikerjakan.

Dalam sebuah kisah Perang Badar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW, disebutkan bahwa ketika melawan kekuatan para kaum Jahiliyah saat itu, kekuatan kaum Jahiliyyah jauh lebih kuat dan lebih mapan. Tentu dalam hitungan logika, tidak mampu keuatan ummat Islam saat itu menandingi kekuatan Jahiliyyah. Lalu apa yang dilakukan oleh Nabi saat itu ? Nabi dalam siasat Perang badar tersebut mendapatkan masukan dari sahabat untuk membuat pertahanan dekat Sumur Badar dan Nabi menyetujui, sehingga dalam pertempuran yang tidak seimbang itu, Pasukan Nabi bisa memenangkan pertempuran. Mengapa bisa terjadi ? Karena dibalik keputusan itu ada penghargaan dan berujung pada kepercayaan diri untuk bertanggung jawab terhadap sebuah pilihan yang sudah ditentukan.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah peristiwa tersebut ? Dalam situasi pembelajaran yang pengaruh diluar kelas dan rumah sangat dahsyat, tentu saja kalau kita tidak bisa memilih sebuah jalan taktis dan strategis adalam pembelajaran, maka hasilnya pasti bisa diprediksi kita akan mengalami kedodoran dan kekalahan dalam membangun perilaku dan kepribadian anak. Sebagai pendidik dan orang tua, sangat diharapkan untuk bisa memilih jalan kreatif dalam mendidik anak. Jalan kreatif itu seperti apa ? Jalan kreatif itu bisa sebuah cara bagaimana kita bisa memahami situasi diluaran dan kemudian memperkuat sikap anak dengan jalan yang mudah dan murah. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memberi ruang aktualisasi anak didalam kelas atau dirumah kita. Ruang aktualisasi itu adalah pemberian kesempatan kepada anak untuk menyampaikan masalahnya dan apa yang sudah dan yang akan dilakukan, tanpa kita harus menyalahkan. Kita berusaha menjadi pendengar yang baik. Kalau toh kita harus berbicara, maka pembicaraan kita lebih banyak memberikan saran dan arahan apa tidak sebaiknya seperti ini, keputusan akhir tetap diserahkan kepada anak untuk memutuskan. Harapannya dari cara seperti ini, akan memunculkan sikap bertanggung jawab anak dan percaya diri terhadap sebuah pilihan yang sudah dilakukan. Bukankah kita harus menyadari bahwa kita tidak selalu bisa bersama anak selama 24 jam. Nah pada situasi anak tidak berada bersama kita, anak – anak sudah bisa memutuskan apa yang harus dilakukan dan bertanggung jawab terhadap semua pilihan yang sudah ditetapkan.

Pengalaman penulis dalam membangun pembelajaran yang partisipatif, selalu memunculkan sikap bertanggung jawab dari anak anak didik. Hal yang dilakukan oleh penulis adalah mengajak anak – anak menyusun rencana belajarnya, lalu menetukan target capaiannya serta memilih cara bagaimana cara mencapainya.

Dari sana terlihat sebuah sikap bertanggung jawab untuk menjalankan pilihan – pilihannya serta cara mencapainya. Sehingga tanpa disadari belajar itu menyenangkan dan berimplikasi pada membangun tanggung jawab diri terhadap sebuah pilihan. Menjadikan ruang sekolah sebagai rumah bagi anak adalah sebuah keniscayaan.

Memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih cara belajar yang diinginkan adalah sebuah upaya bagaimana menjadikan anak merasa nyaman. Tugas kita sebagai guru “ zaman now “ adalah bagaimana kita bisa menjadi jembatan anak – anak melakukan proses belajarnya. Sehingga kemampuan guru yang dibutuhkan tidak hanya paham materi pelajaran tetapi yang terpenting adalah memberi jalan nyaman bagi proses belajar anak anak. Sehingga dalam belajar anak anak serasa berada dirumah bersama orang tuanya.
Semoga bermanfaat !

M. Isa Ansori
Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim dan Dosen Psikologi Komunikasi di STT Malang

Facebook Comments

POST A COMMENT.