Menata Kota Tanpa Arah; Catatan Kritis Akhir Tahun Untuk Surabaya

* Surabaya itu sejatinya kota apa ya ?

Oleh : M.Isa Ansori

MEPNews.id —- Ada yang menyebutnya sebagai kota Pahlawan, Tapi kenapa situs kepahlawanan yang menjadikan Surabaya disebut sebagai kota pahlawan dihancurkan? Coba lihat robohnya Rumah Siar Radio Pemberontakan BPRI Jalan Mawar 10 – 12 yang dihancurkan Jayanata, tapi Pemkot melakukan pembiaran.

Ada juga yang menyebutnya sebagai kota budaya, karena di Surabaya banyak sekali bangunan cagar budaya, tapi kenapa ya Surabaya tercatat banyak sekali menghancurkan bangunan cagar budaya dan menelantarkannnya, coba simak terjadinya situs situs cagar budaya dan penelantarannya. Tokoh Nam sudah berubah menjadi mall ditengah kota, Gedung Perjuangan Pers tinggal nama hanya berupa tetenger pers, simbol simbol kota tua dan cagar budaya di Surabaya merana. Rumah rumah kelahiran Bung Karno dan Rumah HOS Tjokroamienoto terhempas tak berada dipelukan pemkot.

Belum lagi penataan Balai Pemuda sebagai kawasan cagar budaya yang tidak tertata, sehingga kawasan Balai Pemuda yang ditasbihkan sebagai kawasan cagar budaya kehilangan makna, sunyi dari hiruk pikuk kebudayaan, Balai Pemuda menjadi angkuh karena Balai Pemuda memegang prinsip hanya yang berduit yang boleh melangit, Balai Pemuda menjelma menjadi corong kebudayaan yang mengindustri.

Ada juga yang menyebutnya sebagai Kota Industri, Dagang dan Maritim, tetapi rakyatnya hanya menjadi penonton dan penikmat barang barang dan menjadi konsumen. Pasar rakyat tak beranjak bergerak, Mall dan mini market menjamur yang hanya dikuasai segelintir pemilik modal. Warung bu Sum, bu Mat, Pak War dll berangsur gulung tikar. Memang ada pernah disebutkan pemkot membina UKM, tapi mereka hanya dibentuk dan selanjutnya harus berjuang sendiri bertarung dengan para pemulik modal besar. Hanya sebutan sebagai kota maritim yang kemudian diplesetkan menjadi pembenar kalau setiap musim hujan kota surabaya tergenang kalau tidak boleh dikatakan sebagai banjir. Surabaya menjelma menjadi Kampung Metropolis

Surabaya sebagai kota layak anak, ya memang surabaya banyak program program yang dibuat dalam rangka peduli terhadap anak, bahkan walikota konon katanya sangat peduli terhadap anak, maka kemudian dibentuklah berbagai lembaga layanan terhadap anak, tapi tahukah kenapa kekerasan terhadap anak di Surabaya juga tidak beranjak menurun? Data dari Lembaga Kesejahteran Sosial Anak Blitar yang dulu dikenal sebagai Lapas Blitar dari 223 kasus anak yang sampai ke Blitar, 70 anak berasal dari Surabaya dan yang mencengangkan mereka tidak pernah dikunjungi oleh keluarganya dengan alasan tidak mampu, lalu dimanakah korelasinya Surabaya sebagai Kota Layak Anak dengan kepedulian terhadap anak anak yang sedang menjalani proses pidananya di Blitar agar bisa bertemu keluarganya?

Belum lagi Pemkot Surabaya juga melakukan diskriminasi kepada anak anak Surabaya setingkat SMA, SMK, MA dan SLB. Sejak peralihan kewenangan pengelolaan sekolah sekolah tersebut berdasar UU 23 Tahun 2014, mereka tidak mendapatkan bantuan BOPDA sebagaimana anak anak Surabaya lain yang berada di jenjang SD, MI, SMP dan MTS. Apa yang membedakan mereka, bukankah dalam UU PA disebutkan bahwa yang disebut anak adalah mereka yang berusia 0 – 18 tahun. Banyak diantara mereka yang rentan putus sekolah dan bahkan putus sekolah, bahkan dimenjelang tutup tahun ini ada 15 anak yang datang meminta bantuan untuk dibantu mengkomunikasikan dengan pihak sekolah karena tak mampu membiayai.

Surabaya sudah menjelma menjadi kota yang melayani hasrat kapitalis, dibangun indah dengan taman taman kota dan gedung menjulang, tapi sejatinya kering dan tak berjiwa. Warga kota menjadi asing dikotanya sendiri, anak anak tak punya tempat bermain, karena fasilitas bermain anak disulap menjadi taman. Trotoar trotoar jalan dibuat apik dan lebar tapi yang menikmati adalah para pemilik gedung mewah dan mall, jalan rakyat dikampung kampung dibiarkan terluka dan merana. Kaum disabilitas harus berjibaku mencari selamat bila berjalan melewati trotoar kota yang apik tapi mencelakakan dirinya.

Duh….. Sejatinya Surabaya dibangun untuk siapa ? Kepada siapa para konsultan kota dan para penasehatnya berpihak ? Sehingga kebijakan kota menjadi berjarak dengan warganya

Surabaya, 27 Desember 2017

Penulis, Dosen di STT Malang, Tinggal di Surabaya, Pegiat Cagar Budaya di Komunitas Bambu Runcing Surabaya, Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim

Facebook Comments

POST A COMMENT.