Ulang Tahun Para Nabi

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id — Seandainya kita punya data yang valid mengenai tanggal dan bulan kelahiran para nabi dan rasul sejak nabi Adam, alangkah baiknya jika semua nabi itu selalu kita rayakan setiap hari kelahirannya.

Akan tetapi mungkin kita tak usah setolol itu dalam mengartikan menghormati para nabi. Cukup kelahiran Nabi Muhammad sajalah yang kita rayakan, sehingga saya kira para nabi yang lain insya Allah setuju dengan apa yang saya sarankan ini.

Yang agak ekstrim mungkin jika kita umat Islam kelak merayakan ulang tahunnya nabi Isa. Jangan keburu mengatakan: “Kenapa tidak? Toh nabi Isa juga nabi kita sebagaimana juga nabi Adam.” Jangan keburu mengatakan hal yang demikian. Mending ngopi dan tidur di gardu saja sudah nikmat sentausanya sudah luar biasa. Daripada pusing hingga emosi berdebat keras mengenai hal, umpamanya, memperingati kelahiran nabi Isa atau mungkin juga Musa dan Sulaiman.

Kalender kita juga akan banyak tanggal khusus jika data kelahiran para nabi ini disepakati menjadi hari istimewa. Apalagi jika dalam setiap hari ditemukan dan disepakati sebagai hari penting untuk diperingati tentang apa saja. Bisa 665 hari seluruhnya diperingati sebagai hari istimewa tertentu. Di media sosial milik seorang teman pernah saya lihat tiap hari selalu meng-update kejadian penting, entah tentang perang, meninggalnya tokoh tertentu, atau kejadian alam. Mungkin dari update seperti itu disamping supaya kita tidak melupakan sejarah apa saja, siapa tahu ternyata dalam tiap hari selalu saja ada hari-hari penting yang kelak disepakati untuk dihormati dan dirayakan.

Sedang enak-enaknya saya membayangkan mengenai apa mungkin kelak ditemukan dan dirayakan ulang tahun para nabi, sejak dari nabi Adam, tiba-tiba ada yang berbisik ke telinga: “Ngapain ngomongin mengenai hayalan ulang tahun para nabi, sejak nabi Adam? Apakah itu penting? Sesaat lagi kita semua memasuki tahun politik. Terutama di Jawa Timur. Kalau tak terbiasa bertabayun crosh chek and ricek terhadap segala sesuatu yang dilihat dan didengar, maka alamat kita semua bisa dipermainkan dengan isu-isu hoax yang memecah belah kita semua hanya demi kepentingan kepemimpinan yang sesaat belaka.”

Bisikan-bisikan semacam ini saya sudah hafal endingnya: “Lihat itu orang susah cari makan tiap hari. Belum lagi kekejaman orang menjegal orang lain. Banyak orang susah cari nafkah, dan ngapain ngurus keserakahan dan kesombongan orang lain hingga ulang tahun semua para nabi. Cukup Nabi Muhammad saja sudah selesai. Kita harus istiqomah memperjuangkan kelaparan orang miskin…”

Pokoknya, meskipun ngomongnya ngawur, selain membicarakan orang miskin adalah kurang penting. Sembari ngopi saya selalu di-bully dalam diri seperti itu. Disamping saya juga menerima masukan pujian angin segar yang membahagiakan dan membikin tersenyum. Karena demikianlah kelengkapan bisikan dalam diri.

Bagian dalam diri yang sregep ngomongin kemiskinan ini distop oleh bagian yang lain: “Sudah, diam! Bos kita sekarang ini sepertinya lagi kesulitan meneruskan tulisan ulang tahun para nabi ini. Sekarang kita hibur bos kita ini, kita ajak ngopi dan nonton Lawak di YouTube agar ketawa kepingkal-pingkal menyambut tahun baru 2018, hahahahaha…..” (Banyuwangi, 26 Desember 2017)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.