Ada Harapan Baru bagi Tuna Rungu

MEPNews.id – Ya, ada harapan baru bagi kaum tuna rungu. Para ilmuwan berhasil mengubah genetika tikus mutan sehingga tidak menjadi tuli. Terobosan ini, jika dikembangkan, berpotensi membuka jalan untuk prosedur serupa pada manusia.

Telegraph edisi 21 Desember 2017 mengabarkan, tim ilmuwan di Amerika Serikat dan Cina menyuntikkan gen ‘editor’ ke sel telinga tikus yang baru lahir dengan membawa DNA penyebab tuli. Tindakan ini ‘menonaktifkan’ gen mutan yang berkemampuan merampas pendengaran si tikus.

Dalam laporan ilmiah di jurnal Nature, dibuat perbandingan pada tikus-tikus eksperimen dalam usia empat minggu. Yang tidak disuntik tidak dapat mendengar suara 80 desibel (setara tingkat keriuhan lalu lintas kota). Yang disuntik bisa bereaksi terhadap pada suara bahkan dalam desibel jauh lebih rendah (yakni tingkat suara percakapan manusia normal).

Beberapa tikus laboratorium dijuluki ‘Beethoven’ seperti komposer Jerman yang menjadi tulis saat pertengahan karirnya. Dalam eksperimen, satu telinga tikus Beethoven ini dirawat dengan suntikan gen editor, satu telinga lainnya tidak. Di telinga yang disuntik, para periset melihat tumbuhnya lebih banyak ‘sel rambut’ yang sehat. Pada manusia dan tikus, ini adalah sel yang bisa merasakan getaran suara. Namun, sel rambut ini dimatikan oleh versi mutakhir dari gen TMC1 yang membuat tikus atau manusia tidak bisa mendengar.

“Kami sangat senang saat mengamati perkembangan telinga yang mendapat suntikkan itu,” kata David Liu dari Harvard University, salah satu penulis laporan studi. “Pada delapan minggu, tikus yang tidak disuntik tidak bisa sama sekali menanggapi suara nyaring yang muncul secara tiba-tiba. Tikus yang dirawat bisa terkejut mendengar suara tiba-tiba.”

Menurut tim peneliti, hampir setengah dari semua kasus kehilangan pendengaran pada manusia didasari oleh penyebab genetik. Manusia yang memiliki gen mutasi TMC1 pada umumnya mulai kehilangan pendengaran antara usia lima hingga 30 tahun, dan menjadi tuli pada usia 50-60, kata Liu.

Simon Waddington, ahli transfer gen dari University College di London, berkomentar, “Gangguan semacam itu sampai saat ini tidak dapat disembuhkan, dan seringkali tidak dapat diobati. Sekarang, ada harapan baru lewat lingkup terapi gen.”

Facebook Comments

POST A COMMENT.