Penulisan Abstrak Karya Ilmiah Internasional

Oleh: Dr. Djuwari, M.Hum

MEPNews.id — Sudah tidak heran lagi, bahwa menulis karya ilmiah bagi dosen di perguruan tinggi baik negeri (PTN) maupun swasta (PTS) sudah merupakan kewajiban. Tugas ini masuk dalam salah satu fungsi dosen di bidang penelitian (research). Pemerintah melalui Menristekdikti, sudah mengeluarkan aturannya. Aturan itu ada di dalam Permenristekdikti no 20 tahun 2017. Setidaknya, jurnal terakreditasi nasional atau internasional bererputasi.
Artikel ini hanya meberikan pandangan khusus dari awal karya tulis yaitu abstrak sebuah artikel. Abstrak merupakan bagian terpenting karena yang pertama kali dibaca setelah judul artikel. Setelah judul penelitian, abstrak artikel itu wajib ditulis sebelum teks artikel yang utuh. Bagaimanakah variasi gaya selingkung penulisan abstrak karya ilmiah internasional itu?
Penelitian yang pernah saya lakukan ada dua kali. Pertama, pada 2009, tentang 45 abstrak makalah internasional. Kedua pada 2012 khusus artikel jurnal ilmiah. Dari makalah itu, ada beberapa poin utama yang harus dituliskan. Karena ini adalah asosiasi ilmuan waktu itu adalah SEAAIR (South East Asian Association of Institutional Research), maka itu hanya mungkin berlaku pada asosiasi itu sendiri. Begitu juga yang ada di jurnal ilmiah tersebut.
Dalam temuan itu, ada lima poin yang harus dituliskan secara singkat dalam abstrak. Pertama, satu atau dua kalimat pengantar yang menandai sebuah bidang yang digeluti peneliti (topic). Satu atau dua klaimat itu harus ringkas. Begitu dibaca, maka pembacanya sudah tahu tentang bidang apa yang digeluti peneliti itu.
Kedua, poin terkat tujuan (purpose). Di sini, ada antara satu sampai 5 kalimat, tergantung masalahnya yang diteliti. Tulislah tujuan penelitian dalam beberapa kalimat secara singkat. Tujuan penelitian itu sangat penting untuk diketahui pembaca.
Ketiga, poin terkait metodologi penelitian. Di sini, diuraikan prosedur peneilitian, mulai dari pengumpulan data, caranya, berapa respondennya, dan berbagai teknik serta instrumen penelitian dalam analisisnya. Yang jelas, para peneliti sudah paham jenis penelitiannya dengan metodologinya. Itu sebabnya berbeda-beda dari satu peneilitan dengan lainnya. Dalam poin ini, secara singkat metodologinya diuraikan. Lebih baik penulis menggunakan kata sambung dan menyingkat frasa yang sama.
Keempat, poin terkait hasil penelitian. Hasilnya juga diuraikan singkat, dengan menggunakan kata sambung dan menghilangkan frasa yang sama agar tidak mubasir (redundant). Perlu diketahui, bahwa hasil penelitian ini sangat penting diurakan di dalam abstrak. Pembaca bisa mengutip dalam abstrak jika belum membaca teks keseluruhannya.
Kelima, poin terkait simpulan dan atau rekomendasi secara singkat. Simpulan itu juga ditulis singkat dalam beberapa kalimat saja. Adapun rekomendasi, penulisannya bisa ada bisa tidak.
Secara keseluruhan dalam satu paragraf abstrak itu antara 190 sampai 200 kata. Itu dalam temuan yang pernah saya teliti pada 2009. Dan, hasil penelitian tentang absrak ini juga pernah diteliti oleh peneliti sebelumnya.
Namun, setiap jurnal itu juga memiliki gaya selingkung berbeda. Ada kalanya, abstrak karya tulis hanya memuat poin kedua (tujuan), ketiga (metode) dan keempat yaitu hasil temuan (findings). Abstrak sepeti ini, hanya terdiri dari 100 sampai 150 kata.
Ada juga abstrak sebuah karya ilmiah tidak menyebutkan hasil temuannya. Abstrak ini hanya memuat topic, tujuan, dan metodologinya saja. Abstrak seperti ini, hanya terdiri dari antara 75 sampai 100 kata.
Intinya, agar penulis tahu seberapa banyak kata atau poin apa saja yang harus dituangkan dalam abstrak, penulis harus download gaya selingkung salah satu contoh artikelnya di jurnal yang dituju sebelum mengirimkan artikel. Kemudian, dihitung dan dibaca apa saja yang harus dituangkan dalam abstraknya. Namun, hasil temuan tentang abstrak yang lengkap adalah abstrak yang memuat topic, tujuan, metodologi, hasil temuan, dan simpulan. Total ada lima poin atau dalam istilah linguistik dinamakan move.***
Dr. Djuwari, M.Hum adalah Pengamat Pendidikan dan Sosial, President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya.

Facebook Comments

POST A COMMENT.