Getaran Adanya Allah, Beda dalam Tartil dan Qiroah

Anak anak sedang Ngaji (Foto: Hari/Desakotaku)

MEPNews.id —– Zaman dulu, sekitar 10 hingga 30 tahun lalu saat MC disebuah acara memangil pembaca Al Quran, baik dewasa maupun anak untuk tampil ke mimbar, kita akan saksikan seroang Qori akan tampil ke panggung.

Dengan bacaan yang merdu, tiwalatul quran akan dilanjutkan. Nada2 indah, mendayu dayu mengunyah pikiran yang mendengar. Bahkan membuat hati miris, syahdu. Kesadaran akan kehadiran Allah terasa.

Tapi zaman ini beda. Tidak semua qori yang dipanggil keatas mimbar kemudian menjadi qori seperti zaman dulu, bahkan sekarang anak dan orang dewasa banyak yang membaca al Quran dengan menggunakan tartil. Bacaannya datar, tanpa nada dan biasanya monoton.

Mungkin tajwidnya sudah betul, tapi getaran ilahiyahnya tidak ditemukan. Apalagi bagi generasi yang lahir tahun 50an, 60an. Bacaan tartil seolah enak disimak, tapi kurang membawa kita pada imajinasi kebesaran Allah.

Sebagai orang yang lahir 60an, saya sering tidak menemukan getaran adanya Allah saat mendengarkan bacaan tartil, mungkin saya dianggap kuno. Tapi itulah yang saya rasakan. Beda saat mendengarkan Al Quran dibacakan dengan qiroaah, bulu kuduk bisa berdiri dan mudah menangis kalau mendengar dengan khusu’.

Bisa jadi saya salah, orang tua, kuno. Saya tidak pernah mampu bergetar saat mendengar bacaan al quran dengan tartil. Saya seperti mendengar orang membaca Al Quran, bukan melantunkan keindahan Allah dan alam semesta.

Maka usul saya, selain tartil sebaiknya anak anak juga tetap diajari tilawah Quran. Anak anak TPA/TPQ juga dilatih menjadi qori biar dunia dan alam seisinya ini dihiasi keindahan Al Quran.

(Muhammad Amin, seorang bapak tiga anak).

Facebook Comments

POST A COMMENT.