Perbanyak Teman, Kurangi Risiko Kena Diabetes

MEPNews.id – Rupanya, sosialisasi juga berpengaruh pada risiko sakit atau sehat. Dalam penelitian yang melibatkan 2.561 peserta di Belanda, individu yang terisolasi secara sosial ternyata didiagnosis lebih mungkin terkena diabetes tipe-2 daripada individu yang punya jaringan sosial lebih besar.

Dalam temuan yang dipublikasikan di jurnal BMC Public Health dan direview di EurekAlert! edisi 18 Desember 2017 ini, para periset dari Maastricht University Medical Center menyarankan peningkatan integrasi dan partisipasi sosial sebagai target dalam strategi pencegahan diabetes tipe-2.

Dr. Miranda Schram, penulis laporan, mengatakan, “Kelompok berisiko tinggi diabetes tipe-2 harus memperluas jaringan sosial dan harus didorong mendapatkan teman-teman baru. Misalnya, dengan cara menjadi anggota klub, organisasi relawan, klub olahraga atau bahkan kelompok diskusi. Orang yang hidup menyendiri itu memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe-2. Penyendiri harus diakui sebagai kelompok berisiko tinggi dalam perawatan kesehatan. Selain itu, ukuran besarnya jaringan sosial dan partisipasi dalam kegiatan sosial pada akhirnya dapat digunakan sebagai indikator bagi risiko diabetes.”

Stephanie Brinkhues, penulis utama studi tersebut, mengatakan, “Kami adalah peneliti pertama yang menemukan asosiasi antara karakteristik jaringan sosial luas (yakni; dukungan sosial, ukuran atau jenis hubungan jaringan) dengan berbagai tahap diabetes tipe-2. Temuan kami mendukung ide bahwa menghentikan isolasi sosial dapat membantu mencegah perkembangan diabetes tipe-2.”

Penelitian ini membuktikan, berperan aktif dalam klub dan kelompok sosial ternyata bermanfaat. Mengapa? Kurangnya partisipasi dalam aktivitas sosial ternyata terkaitkan dengan kemungkinan 60% lebih tinggi terkena pra-diabetes dan 112% kemungkinan lebih tinggi kena diabetes tipe-2, jika dibandingkan dengan mereka yang memiliki metabolisme glukosa normal di kalangan wanita. Untuk kalangan pria, kurangnya partisipasi sosial dikaitkan dengan 42% kemungkinan lebih tinggi terkena diabetes tipe-2.

Dengan mengamati jaringan sosial peserta penelitian, para periset menemukan bahwa setiap penurunan satu anggota dalam jaringan dikaitkan dengan kemungkinan 5 – 12% kena diabetes tipe-2 yang baru didiagnosis atau sudah didiagnosis sebelumnya, dibandingkan dengan mereka yang memiliki metabolisme glukosa normal.

Setiap 10% penurunan anggota jaringan (satu anggota berdasarkan ukuran rata-rata jaringan yakni 10 anggota) yang tinggal dalam jarak yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dikaitkan dengan 9 – 21% kemungkinan lebih tinggi terkena diabetes tipe-2 yang baru didiagnosis atau sudah didiagnosis sebelumnya di kalangan wanita.

Persentase anggota rumah tangga lebih tinggi dalam jaringan sosial dikaitkan dengan kemungkinan diabetes yang baru didiagnosis pada wanita dan pria. Para periset juga menemukan, pria yang hidup menyendiri dikaitkan dengan 94% kemungkinan lebih tinggi kena diabetes tipe-2.

Para peneliti menggunakan data dari 2.861 peserta The Maastricht Study, sebuah studi kohort yang mengamati pria dan wanita usia 40 sampai 75 tahun dari bagian selatan negeri Belanda. Dari jumlah total partisipan, 1.623 (56,7%) memiliki metabolisme glukosa normal, 430 (15,0%) memiliki pra-diabetes, 111 (3,9%) memiliki diabetes tipe-2 yang baru didiagnosis dan 697 (24,4%) memiliki diabetes tipe-2 saat penelitian dimulai.

Para peneliti mengingatkan, perubahan awal metabolisme glukosa dapat menyebabkan keluhan non-spesifik, antara lain rasa lelah dan perasaan tidak sehat. Hal ini mungkin bisa menjelaskan mengapa individu membatasi partisipasi sosial mereka.

Meski demikian, desain observasional lintas-bagian dari studi ini tidak memungkinkan penentuan hubungan kausalitas terbalik. Begitu juga, tidak memungkinkan untuk mendapatkan kesimpulan tentang sebab dan akibat.

Facebook Comments

POST A COMMENT.