Apa Penyebab Gangguan Jiwa Bipolar? Banyak!

 

MEPNews.id – Gangguan bipolar adalah masalah mental yang menyebabkan episode tidak biasa; antara lain cepatnya pergeseran suasana hati hingga berubah 180 derajad mulai dari sangat senang hingga putus asa habis-habisan. Diam-diam, di Indonesia banyak orang mengalami masalah mental ini; termasuk seorang selebriti yang menyakiti orangtuanya sendiri. Di Amerika Serikat, hampir 6 juta orang menderita kelainan mental ini.

Kelainan ini bisa sangat mengganggu karena penyebab pastinya belum diketahui. Diduga para ahli, ada masalah genetik hingga kondisi lingkungan serta perubahan struktur atau kimiawi otak. Gejalanya meliputi episode berenergi tinggi, berkurangnya kebutuhan untuk tidur hingga episode depresi ‘polar’ saat mana penderitanya menunjukkan perobahan 180 derajad berupa energi sangat rendah, hingga kehilangan motivasi dan minat secara umum.

Setiap episode polarisasi ini bisa berkisar dari hitungan hari hingga bulan pada satu waktu tertentu. Dalam kondisi episode ekstrim, pasien bisa tiba-tiba punya pikiran untuk bunuh diri. Kondisi ini dapat mengganggu kestabilan hidup penderitanya karena sulit mendiagnosis atau mengobatinya. Penderita sering disalah-mengerti karena perubahan mood atau menjadi orang yang umumnya moody.

Berbagai riset ke arah ini, yang berkembang dalam beberapa dekade terakhir, mulai mengarah ke beberapa pendalaman yang menarik. Seperti dikabarkan International Business Times edisi 17 Desember 2017, periset dari University of Michigan selama satu decade mempelajari 1.100 pasien gangguan jiwa bipolar. Usai penelitian, mereka merilis analisis mendalam tentang gangguan ini. Mereka menemukan tidak hanya satu namun tujuh karakteristik pasien di berbagai spektrum kondisi kompleks ini.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Epidemiology, tim dari Program Penelitian Bipolar Heinz C. Prechter dari University of Michigan mengumpulkan dan menganalisis puluhan ribu data tentang berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kemunculan dan perkembangan kelainan ini. Antara lain; genetika, emosi, pengalaman hidup, sejarah medis, motivasi, diet, temperamen, pola tidur hingga pola pikir.

Dari pasien yang diteliti, lebih dari 730 mengalami gangguan bipolar dan 277 lainnya tidak. Lebih dari 75% mereka adalah peserta penelitian aktif dalam studi longitudinal tentang Bipolar Disorder. Rata-rata, peserta penelitian mengalami episode depresi atau episode maniak pertama saat berusia 17 tahun, dan banyak juga yang memiliki masalah kesehatan mental lainnya.

“Ada banyak rute menuju penyakit ini, dan banyak rute yang melewatinya,” kata Melvin McInnis, MD, penulis utama hasil penelitian sekaligus kepala program yang berbasis di Pusat Depresi University of Michigan. “Kami menemukan ada banyak mekanisme biologis yang mendorong penyakit ini, dan banyak pengaruh eksternal yang interaktif di dalamnya. Semua elemen ini bergabung untuk mempengaruhi munculnya penyakit saat pasien mengalaminya.”

Tujuh phenoclasses, sebagaimana tim University of Michigan menyebutnya, adalah perubahan-perubahan dalam kognisi, dimensi psikologis orang tersebut; ukuran perilaku yang terkait dengan penyiksaan substansi, yang mencakup parameter antara lain pemikiran, penalaran dan pemrosesan emosi; aspek-aspek keluarga seseorang dan hubungan intim dan trauma emosional; pola-pola tidur dan ritme sirkadian dan ukuran bagaimana gejala pasien berubah seiring waktu dan respons terhadap pengobatan.

Tim peneliti mengidentifikasi beberapa pola menarik dalam studi yang lama. Mereka juga menemukan migrain terjadi tiga setengah kali lebih jamak di kalangan penderita gangguan bipolar.

Para penderita gangguan bipolar juga menunjukkan beberapa gangguan makan, gangguan kecemasan dan masalah kecanduan. Peserta penelitian juga memiliki kadar lebih tinggi lemak jenuh dalam makanan. Penelitian tersebut juga menghubungkan jenis lemak tertentu dengan tingkat keparahan perubahan suasana hati. ini membuat gejala dan tingkat keparahan penyakit bisa berkembang secara simbiosis.

Tidur yang buruk tampaknya mempengaruhi wanita dengan gangguan bipolar yang sangat banyak berkaitan dengan tingkat keparahan depresi dan mania. Hal ini tidak teramati pada peserta pria dengan kondisi yang sama.

Perbedaan antara peserta yang sehat dengan yang tidak sehat dipersempit ke tingkat sel. Itu dengan alasan ketika neuron dari sel induk pasien bipolar ditemukan lebih menyenangkan dibandingkan dengan individu sehat. Tapi, neuron tampak tenang saat terkena lithium, yang banyak digunakan dalam pengobatan yang untuk gangguan bipolar di seluruh dunia.

Facebook Comments

POST A COMMENT.