Maqom Al-Mahmud, Kedudukan Terpuji

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —-Sukses itu parameternya macam-macam. Masing-masing individu berhak menggunakan berbagai macam parameter sebagai alat ukur kesuksesan dalam hidup. Misalnya saja, ada anggapan sukses jika pulang dari pesantren kemudian di kampung halamannya bisa bikin pesantren, maka ia disebut sukses. Jika ada Kiai dengan ribuan santri, lantas masing-masing santri ketika pulang dan bisa bikin pesantren sendiri-sendiri, maka sukseslah Pak Kiai. Hal ini jika parameter kesuksesan diukur dari bisa tidaknya santri sepulang dari pondok memegang tongkat estafet dengan bikin pesantren.

“Jika masing-masing santri kelak bisa bikin pesantren sendiri-sendiri, apakah itu tidak berpotensi memecah belah persatuan umat, Kiai?” Tanya seorang santri suatu ketika.

“Tentu tidak anakku,” jawab Kiai dengan lembut, “kelak umat akan lebih mudah dan lebih dekat belajar anakku. Tidak perlu jauh-jauh seperti ini.”

“Bukankah,” lanjut Pak Kiai, “Tuhan sendiri menciptakan ragam perbedaan dalam setiap insan, apakah Tuhan akan kamu tuduh juga telah menciptakan potensi perpecahan karena tiap insan beda-beda anakku? Tentu tidak bukan? Nah, begitulah dengan ragam pesantren. Tidak akan dan tidak untuk memecah belah umat anakku.”

Karena si santri nampaknya belum puas dengan jawaban Kiainya itu, maka Pak Kiai itu pun melanjutkan lagi obrolan hangat itu.

“Aku mengerti maksudmu anakku. Tapi baik sangkalah. Memang manusia diciptakan bukan untuk nganggur. Kalau toh nanti ada pesantren, yang umpamanya tiba-tiba kita lihat kok mulai melenceng dari rel-rel yang semestinya, ya disitulah kita berkewajiban menegurnya anakku. Bersilaturahmi baik-baik dan seterusnya.”

Nampaknya si anak tadi mulai agak faham dan mulai tenang gejolaknya dengan fakta bahwa perbedaan itu sebuah niscaya. Si anak santri ini berfikirnya jika segala sesuatunya satu atau tunggal saja, dianggapnya segala sesuatunya menjadi mudah dan penuh manfaat. Gambaran mengenai ummatan wahidatan atau umat yang satu, diam-diam dalam benak hatinya, dimaknai jangan sampai ada perbedaan karena “take record” perbedaan diasumsikan selalu berpotensi kepada kerusuhan dan perpecahan.

“Fungsi perbedaan itu untuk saling melengkapi anakku. Perbedaan itu rahmat, kata Nabi. Fastabiqul khoirot dengan ragam perbedaan yang ada. Berlomba-lomba dalam kebaikan anakku. Bukan kalah menang. Sebab yang hari ini menang, besok bisa kalah, atau sebaliknya. Jadi fokus untuk manfaat saja anakku. Kalah menang itu pandangan orang. Disebut kalah ya monggo, disebut menang ya monggo. Kosentrasilah berbuat apa saja demi manfaat bagi orang lain anakku, termasuk bikin pesantren. Bukan kalah menang dan unggul tak unggul, melainkan manfaat untuk kesehatan dan kesejahteraan akal sehat dan akhlak umat anakku.”

Pak Kiai dengan senyum yang lembut serta mata berbinar cahaya yang merupakan pancaran kebaikan hatinya, dengan penuh telaten dan sabar menjelaskan berbagai hal kewajaran dan keniscayaan dalam memandang hidup yang penuh aneka warna perbedaan ini.

Lantas Pak Kiai berpesan:

“Jangan lupa shalat malam anakku. Agar Allah menaikkan derajatmu kepada moqom al-mahmud, yakni sebuah kedudukan derajat yang terpuji. Sehingga engkau mengerti bagaimana bersikap dan bertindak terpuji dalam kehidupan. Kebanyakan orang sekarang sangat jauh dari terpuji dalam memandang perbedaan, terutama jika bedanya pada soal-soal ekonomi. Banyak yang tak terpuji dalam memandang kemiskinan anakku. Bahkan kedudukan terpuji ini sering diartikan oleh orang zaman now alias zaman sekarang sebagai kedudukan yang kaya raya berlimpah materi dan keterhormatan duniawi. Membeninglah selalu dalam shalat malammu anakku, agar engkau semakin terpuji dalam bersikap dan bertindak, sehingga belumlah terpuji diri ini jika belum sanggup membedakan mana lapar karena rakus sehingga lapar terus, serta mana lapar karena terdholimi.”

Pesan Pak Kiai tersebut disambut senyuman yang hangat oleh si santri, yang kemudian berterima kasih, lega, uluk salam, lantas pergi meninggalkan rumah ndalem Pak Kiai. (Banyuwangi, 15 Desember 2017)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.