Musim S-2

husen mOleh: Moh. Husen

MEPNews.id – Bagi siapa saja yang sudah memperhitungkan bahwa ia sangat mustahil untuk kuliah lagi ke S2 dan S3, rasanya akan begitu “bahagia” jika ada yang berkomentar sinis mengenai S2: “Ngapain harus kuliah S2? Emangnya untuk mencari ilmu harus datang ke kampus S2? Apakah S2 satu-satunya tempat mencari ilmu? Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi. Long live education it’s okey, tapi apakah harus S2? Bukankah yang terpenting mencari ilmunya, bukan S2nya? Ge-er amat S2 itu seakan-akan hanya di S2 belaka tempat mencari ilmu….”

Meskipun S2 bisa tersenyum: “Emangnya di S2 ini bukan tempatnya ilmu juga apa, hehehehe….” Mungkin begitu juga, dulu, bagi yang enggan sekolah entah karena apa, dari SD ke SMP, juga ke SMA. Kalau sekarang sarjana Strata 1 sudah menjamur kemana-mana hingga ke pengangguran dan ke warung kopi. Dan sekarang lagi banjir musim S2.

Terserah juga bila ada yang berkomentar ajaib: “Siapa bilang kuliah dan lulusan S2 harus produktif dan kreatif serta harus lebih bermanfaat untuk orang banyak? Emangnya lulusan SD, SMP, SMA, hingga S1 nggak ada yg goblok? Goblok dan pintar itu ada dimana-mana. Yang hanya lulus SD dan pintar juga ada. Bahkan ada yang pintarnya sekolah atau kuliah itu jika pas ujian saja, tapi setelah lulus lupa semua. Ini tidak guyon. Ini sungguhan…”

Kalau ada mobil dan truk, rasanya tidak mungkin kita bisiki: “Mbok ya jadi satu saja, kita bikin mobil.” Atau sesama mobil saja dengan beberapa desain perbedaan baik sekedar jumlah tempat duduk atau model buka tutup pintunya, rasa-rasanya juga nggak mungkin kita tanya: “Wong sama-sama mobil gitu, kenapa bikin mobil lagi?”

Bayangkan jika sekedar bentuk mobil saja harus seragam semua, persis, nggak boleh ada penambahan kreativitas positif apapun, sungguh pun ditambahi kecanggihan alat pembaca informasi cuaca?

Manusia itu makhluk dinamis dan kreatif. Dan ini sebenarnya kunci kemandirian. Barangsiapa bekerja keras memacu dinamisasi dan kreativitas di dalam dirinya sendiri, maka lambat laun ia akan tumbuh kembang semakin menjadi pribadi yang mandiri. Semakin mengurangi ketergantungan. Dan semakin besar menikmati kemerdekaan dan ketentraman dalam diri.

So, apakah perkuliahan S2 atau S3 itu sebuah tangga dari S1? Ataukah sekedar kreativitas modifikasi dan dinamisasi bangku sekolah belaka?

Jangan lupakan juga sebuah pendapat: “Yang mau sekolah ya sekolah saja. Nggak usah difikirin yang macam-macam. Jangan diganggu dan diusik. Ada yang memang agar pandai dan semoga lebih bermanfaat harus sampai S2. Biarkan saja. Emangnya kita mau apa? Sampai S2 atau sampai kapanpun monggo. Asalkan begini, jika sekolah diwajibkan 12 tahun, mohon yang mewajibkan sekolah 12 tahun juga menolong agar semuanya bisa meneruskan sekolah hingga kelas 12. Tidak boleh ada yang putus sekolah sebelum tuntas wajib 12 tahun. Perkara S1, S2 itu monggo-monggo saja. Nggak wajib. Tapi yang 12 tahun ini tolong diperhatikan, terutama bagi yang mewajibkannya…”

Jangan abaikan juga pitutur: “Lihatlah gedung-gedung sekolah dan kampus itu! Lihatlah! Sekali lagi Lihatlah. Lihatlah semakin dalam hingga dengan benar-benar melihat dengan mata hatimu! Lihatlah! Apakah benar disana ada ilmu? Apakah benar disana ada ilmu? Sekali lagi, apakah benar disana ada ilmu? Ilmu bertebaran di alam semesta ini. Hanya saja kita rabun menangkapnya. Belajarlah menangkapnya. Iqro’-lah. Mintalah Tuhan agar turut menghantarkan dan membimbing iqro’ kita itu. Sekolah memang penting. Tapi dia hanya kulit formalitas belaka. Soal mencari ilmu itu dihamparan semesta ini. Fungsi sekolah itu terutama hanya agar lebih gampang cari pekerjaan, cari jodoh, dan merayu calon mertua besok-besok supaya kita dianggap menantu yang baik…”

Ragam pendapat memang terkadang ada yang kurang ajar dan menyesatkan. Lantas ada yang berbisik: “Kamu ini cemburu sama S2 ya? Atau justru sedang publikasi betapa aslinya begitu penting juga S2, gitu? Kalau nggak bisa S2 ya S2 yang lain. Ngopi sana, ke cafe S2 alias cafe Suka-suka, hehehehe…” (Banyuwangi, 13 Desember 2017)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.