Diet Pengaruhi Suasana Hati Berdasarkan Usia

MEPNews.id – Penelitian terbaru menunjukkan, praktik diet (cara dan materi makan) bisa mempengaruhi kondisi mental secara berbeda terhadap orang muda dan orang yang lebih dewasa. Demikian ditulis Rick Nauert PhD untuk PsychCentral edisi 13 Desember 2017 berdasarkan laporan dari Binghamton University yang dipublikasikan EurekAlert!

Para peneliti dari Binghamton University, State University of New York, di Amerika Serikat melakukan survei internet secara anonim. Mereka meminta orang-orang dari seluruh dunia untuk melengkapi kuesioner tentang makanan dan mood. Survei tersebut mencakup pertanyaan tentang kelompok makanan yang dikaitkan dengan neurokimia dan neurobiologi.

Dua asisten professor, Lina Begdache dan Nasim Sabounchi, menemukan bahwa mood atau suasana hati pada muda (usia 18-29) dipengaruhi oleh makanan yang meningkatkan ketersediaan prekursor dan konsentrasi neurotransmiter di otak (yakni, daging). Mood orang lebih dewasa (usia di atas 30) dipengaruhi makanan yang meningkatkan ketersediaan antioksidan (yakni, buah-buahan) dan meninggalkan makanan yang secara tidak tepat mengaktifkan sistem saraf simpatik (misalnya; kopi, makanan indeks glisemik tinggi, dan tidak sarapan).

“Salah satu temuan utama kami adalah, praktik diet dan makanan ternyata secara berbeda mempengaruhi kesehatan mental pada orang muda versus orang lebih dewasa,” kata Begdache. “Temuan lain yang patut dicatat adalah, mood orang muda tampaknya sensitif terhadap pembentukan bahan kimia otak. Konsumsi daging secara teratur menyebabkan penumpukan dua zat kimia otak (serotonin dan dopamin) yang bisa meningkatkan mood. Olahraga teratur menyebabkan penumpukan ini dan neurotransmitter lainnya. Dengan kata lain, orang muda yang makan daging (merah atau putih) kurang dari tiga kali seminggu dan berolahraga kurang dari tiga kali minggu menunjukkan tekanan mental yang signifikan.”

“Sebaliknya, mood orang lebih dewasa tampaknya sensitif terhadap konsumsi reguler sumber-sumber antioksidan, dan pantang makan makanan yang secara tidak tepat mengaktifkan respons stres,” tambah Begdache. “Dengan bertambahnya usia, terjadi peningkatan pembentukan radikal bebas (oksidan). Maka, kebutuhan akan antioksidan juga meningkat. Radikal bebas menyebabkan gangguan di otak yang meningkatkan risiko tekanan mental. Juga, kemampuan untuk mengatur stres jadi berkurang. Jika mengkonsumsi makanan yang mengaktifkan respons stress, antara lain kopi dan makanan yang terlalu banyak karbohidrat, orang usia lebih dewasa cenderung mengalami tekanan mental.”

Begdache dan timnya tertarik membandingkan asupan makanan antara pria dan wanita dalam kaitannya dengan tekanan mental. Ada perbedaan jenis kelamin dalam morfologi otak yang mungkin juga sensitif terhadap komponen makanan. Kata Begdache, itu berpotensi menjelaskan beberapa risiko gangguan mental spesifik yang didokumentasikan. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.