Umur Makin Panjang, Mental Makin Mantab

MEPNews.id – Penelitian tentang panjang umur umumnya berfokus pada faktor genetika, kesehatan, dan kondisi lingkungan. Lalu muncul pertanyaan, apa peran kesehatan mental dan kepribadian terhadap umur panjang? Nah, para peneliti mencari jawaban di beberapa desa terpencil di Italia sisi selatan tempat ratusan warga berusia 90 atau lebih.

Aristos Georgiou, untuk Interntional Business Times India edisi 12 Desember 2017, melaporkan studi baru yang diterbitkan dalam jurnal International Psychogeriatrics. Hasil penelitian ini mengidentifikasi ciri-ciri psikologis umum di antara kelompok panjang umur. Orang yang lebih tua (usia 90 – 101) memiliki mental lebih mantab daripada yang lebih muda (usia 51 – 75) meski fisik mereka lebih buruk.

“Tema utama dari penelitian kami, dan tampaknya merupakan ciri unik yang terkait dengan kesehatan mental masyarakat pedesaan, adalah sikap positif, etos kerja tinggi, mental tangguh dan punya ikatan kuat dengan keluarga, kepercayaan spiritual dan keterdekatan dengan tanah,” kata Dilip V. Jeste, dari Universitas California, San Diego, di Amerika Serikat.

Untuk penelitian ini, 29 responden dari sembilan desa di kawasan Cilento di Italia selatan dinilai atas serangkaian ciri fisik dan kepribadian. Responden juga ditanya tentang masalah pribadi, tentang kehidupan mereka yang berkaitan dengan topik tertentu antara lain kejadian traumatis, kepercayaan, dan sejenisnya. Sebagai pelengkap, anak-anak atau anggota keluarga yang lebih muda dari kelompok ini juga dinilai dan diminta menggambarkan kesan mereka tentang kepribadian kerabat yang lebih tua.

“Kecintaan kelompok ini terhadap tanah adalah tema yang umum dan memberi mereka tujuan hidup,” kata Anna Scelzo, dari Universitas Sapienza di Roma, Italia. “Kebanyakan dari mereka masih bekerja di rumah dan menggarap tanah. Mereka berkeyakinan, ‘Ini hidup saya, dan saya tidak akan menyerahkannya.’ Mereka ulet bekerja dan punya kondisi mental sangat baik.”

Para peneliti juga menemukan reponden umumnya memiliki kepercayaan diri dan skill membuat keputusan yang cukup besar. Mereka ini mendukung teori ‘paradoks penuaan’; bahwa kesejahteraan dan kebijaksanaan makin meningkat seiring bertambahnya usia, meskipun kesehatan fisik tidak terlalu bagus.

Ada responden yang menjelaskan kepada peneliti bagaimana menghadapi pengalaman menyakitkan dalam hidup. “Saya kehilangan istri tercinta sebulan lalu, dan saya sangat sedih. Namun, berkat anak-anak, sekarang saya pulih dan merasa jauh lebih baik. Saya telah berjuang sepanjang hidup dan saya selalu siap menghadapi perubahan. Saya rasa, perubahan membawa kehidupan dan memberi kesempatan untuk tumbuh.”

Responden lain berbicara tentang bagaimana optimisme menjadi komponen kunci bagaimana dia menghadapi hari demi hari. “Saya selalu memikirkan yang terbaik. Selalu ada solusi dalam hidup. Ayah saya mengajarkan; selalu siap hadapi kesulitan dan berharaplah yang terbaik.”

Yang lain menekankan pentingnya tetap menyibukkkan diri. “Saya selalu aktif menjalani hidup. Saya tidak kenal apa itu stres. Hidup adalah apa adanya, dan harus dihadapi. Selalu begitu.”

Para peneliti mencatat, responden cenderung punya kepribadian yang mendominasi, tangguh, dan merasakan kebutuhan untuk memegang kendali. Ini bisa menjadi sifat yang diinginkan.

“Mereka merasa benar terhadap keyakinan, dan tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan orang lain,” tulis Scelzo. “Kecenderungan untuk mengendalikan lingkungan menunjukkan keteguhan yang diimbangi oleh kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah.”(*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.