Ini Dia Penyebab Utama Demensia alias Pikun

MEPNews.id – Semakin bertambah usia, semakin berkurang kepekaan ingatan. Gejala ini umum terjadi. Banyak ilmuwan berusaha mencari penyebabnya untuk kemungkinan mendapatkan diagnosis dan cara mengendalikannya.

EurekAlert edisi 11 Desember 2017 mengabarkan, tim ilmuwan internasional mengkonfirmasi temuan penyebab utama demensia. Makalah mereka yang diterbitkan di National Academy of Sciences menyebutkan, kelebihan urea hingga ke tingkat racun di dalam otak dapat menyebabkan kerusakan – dan akhirnya demensia.

Para ilmuwan dari University of Manchester (Inggris), University of Auckland dan  AgResearch New Zealand (Selandia Baru), South Australian Research and Development Institute (Australia), Massachusetts General Hospital dan Harvard University (Amerika Serikat) ambil bagian dalam tim internasional itu.

Penelitian ini menyambung hasil studi sebelumnya oleh Profesor Garth Cooper dari University of Manchester. Hasil studi prof Cooper sebelumhya mengidentifikasi hubungan metabolik antara Huntington’s Disease (HD) dan penyakit neurodegeneratif lainnya, dengan diabetes tipe-2.

Temuan tim internasional kali ini menunjukkan, HD –satu dari tujuh jenis demensia terkait penuaan usia– secara langsung dipengaruhi kadar urea otak dan proses metabolisme. Sebelumnya, dalam studi 2016, sudah terungkap hubungan antara urea serupa dengan Alzheimer. Menurut Cooper, penemuan tersebut tampaknya relevan untuk semua jenis demensia terkait usia.

Studi tentang HD juga menunjukkan, kadar urea yang tinggi terjadi sesaat sebelum demensia dirasakan. Kondisi ini dapat membantu dokter untuk melakukan diagnosis dan bahkan mengobati demensia jauh sebelum kejadiannya.

Urea dan amonia di otak merupakan produk pemecahan protein metabolik. Urea dikenal sebagai senyawa yang diekskresikan dari tubuh ke dalam urin. Begitu juga ammonia, yang membuat kencing bau pesing. Urea dan amonia bisa terbentuk dan membanyak di dalam tubuh saat, misalnya, ginjal tidak dapat membuangnya. Pada saat itu, gejala gangguan serius dapat terjadi.

Profesor Cooper, yang berbasis di The University of Manchester Division of Cardiovascular Sciences, mengatakan, “Penelitian tentang HD ini adalah potongan terakhir dari teka-teki yang membawa kita untuk menyimpulkan bahwa kadar urea tinggi dalam otak memainkan peran penting dalam demensia.”

“Penyakit Alzheimer dan Huntington berada di dua ujung spektrum demensia yang berlawanan. Jadi, jika berlaku untuk kedua ujung, maka saya yakin ini berlaku untuk semua spektrum demensia usia lanjut.”

“Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan sumber meningkatnya urea dalam HD, terutama mengenai potensi keterlibatan amonia dan cacat metabolik sistemik. Ini bisa memiliki implikasi mendalam bagi pemahaman mendasar tentang dasar molekuler demensia, dan perawatannya, termasuk penggunaan terapi potensial yang sudah digunakan untuk gangguan fenotip urea sistemik.”

Demensia menyebabkan hilangnya sel saraf dan fungsi otak yang progresif dan tidak bisa dipulihkan. Kondisi ini menyebabkan hilangnya memori dan gangguan kognitif yang mempengaruhi kemampuan belajar. Sejauh ini, tidak ada obat khusus untuk demensia.

Dalam eksperimen internasional 2017, tim peneliti menggunakan otak manusia yang disumbangkan keluarga untuk penelitian medis. Peneliti juga menggunakan otak domba transgenik di Australia. Tim dari Manchester menggunakan spektrometri massa kromatografi gas mutakhir untuk mengukur kadar urea otak.

Dalam kondisi normal, urea tidak bermasalah untuk tubuh termasuk otak. Tapi, urea bisa menjadi racun saat kadarnya di otak naik 4 kali lipat atau lebih tinggi daripada normal, kata Profesor Cooper. “Kami sudah tahu HD adalah penyakit yang disebabkan gen keliru dalam DNA kita. Tapi, kami belum mengerti bagaimana hal itu menyebabkan kerusakan otak. Nah, temuan terakhir ini menjadi tonggak penting bagi pemahaman kami tentang HD.”

“Dokter sudah menggunakan obat-obatan untuk mengatasi tingginya tingkat amonia di bagian lain tubuh. Laktulosa, obat pencahar yang umum digunakan, bisa membersihkan amonia di usus. Jadi, bisa dibayangkan, suatu hari nanti ada obat yang bisa digunakan untuk menghentikan demensia. Ada kemungkinan mengobati kondisi metabolik di otak sehingga dapat membantu regenerasi jaringan. Suatu hari nanti, ada kemungkinan untuk memulihkan kembali otak korban demensia.” (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.