OMPONG by : Mokhsa Imanahatu

MEPNews.id —- Dalam perang yang lalu, rumah kami dilalui serdadu-serdadu. Saya mereka perkosa, seperti lazimnya di setiap peperangan. Saya perempuan satu-satunya ketika itu dirumah, sedang mereka, serdadu-serdadu itu, begitu banyaknya. Aturannya saya mati, saya malah bunting, dan anak saya lahirlah. Ibunya adalah saya, sedang ayahnya siapa? Siapa di antara mereka sebanyak itu? Oleh sebab itu saya berkata selalu kepada anak saya, dan pada diri saya sendiri, bahwa ayahnya adalah peperangan. Pengertian yang abstrak, bukan? Dan oleh sebab hakekat manusia dan kemanusiaan adalah peperangan,dapatlah saya memperluas pengertian abstrak itu dengan pemaparan sebagai berikut: Adapun ayah anak saya ini adalah umat manusia. Abstraksi paling besar, bukan?

Perang!
Perang!

Dalam keadaan demikian, wajar bila kita senantiasa jadi sasaran empuk buat diadu-domba.

Perang!

Sebabnya, kemungkinan besar, karena kita memang tak mengenal kesedihan bersama sekalipun sejarah kita dipenuhi kekalahan, penderitaan, dan tragedi besar.

Perang!
Perang!

Sudah terlambat! Kata-kata yang pernah kita ucapkan, dapat kita tarik kembali. Tapi bagaimana menarik kembali perasaan-perasaan yang pernah kita rasakan, tapi tak pernah kita ucapkan?

Perang!
Perang!

istirahatlah kata-kata… kembalilah ke dalam rahim… tempat orang-orang mengingkari… menahan ucapannya sendiri.

Perang! Perang! dalam bisu ompong.

Kepompongan dalam hal ini tidak berarti bisa disebut sebagai ruang. Pandangan ini mungkin sangat matrealistis. Tapi inilah pandangan mengenai ruang yang bisa diukur, sebab memang saya tidak sedang bicara mengenai ruang secara mistis.

Nanti bapak lihat, keompongan yang ditindihkan pada keompongan di sini adalah juga kehidupan:

Anggap inti setiap atom karbon dalam berlian sebagai satu “bola sepak”. Bola sepak-bola sepak yang bersebelahan langsung dalam berlian akan berjarak lebih daripada 15 kilometer jauhnya. Dalam jarak 15 kilometer di antara dua bola sepak itulah terdapat elektron-elektron dalam orbit di sekeliling inti atom. Namun setiap elektron, di skala “bola sepak” kita, jauh lebih kecil daripada lalat. Jadi anda bisa lihat bahwa berlian yang keras sekali pun nyaris sepenuhnya merupakan ruang ompong.

ompong!

O
Kembanglah bunga dalam batu
Betapa tuan memetiknya
Kembanglah bunga dalam batu.
Tangan ini tak kuasa memetiknya.

By : Mokhsa Imanahatu

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.