Karya yang Menginspirasi dan Menggerakkan

Oleh MUCH. KHOIRI

MEPNews.id —- KEKUATAN suatu tulisan bisa menggerakkan orang lain secara melintas batas ruang dan waktu. Tulisan dari penulis yang sudah wafat sekian abad silam, dan berada di belahan bumi yang jauh dari kita, bisa membuat kita terinspirasi atau terobsesi untuk melakukan sesuatu sesuai tulisan itu.

Itulah yang saya simpulkan dari paparan Prof. Brenda A. Flanagan, Ph.D., penulis dan dosen Davidson College (North Carolina), USA, saat workshop menulis kreatif di Auditorium FBS Unesa, 18 Oktober 2013. Baginya, tulisan para penulis terdahulu bisa sangat kuat menggerakkan (calon) penulis tertentu dewasa ini.

Dia mengisahkan, terlahir sebagai manusia yang “berjiwa” penulis, namun selama 10 tahun membina pernikahan, praktis dia hampir tidak berkesempatan mengembangkan bakatnya. Dia menjadi isteri yang baik; meski sejatinya dia memberontak dalam hati untuk kembali menjadi penulis sebenarnya. Barulah setelah akhirnya mereka bercerai, di tengah kehancuran itu, dia kembali ke dunia yang dicintainya: yakni menulis.

Titik balik, ya titik balik. Flanagan mengalami sebuah titik balik. Apa yang menyebabkan Flanagan menjalani titik balik dengan baik? Ada sebuah puisi Robert Frost, penyair Amerika, berjudul “Stopping by Woods on A Snowy Evening”. Puisi inilah yang dibacanya berulang-ulang dan selalu terngiang-ngiang di dalam benaknya.

Stopping by Woods on a Snowy Evening
Robert Frost

Whose woods these are I think I know.
His house is in the village, though;
He will not see me stopping here
To watch his woods fill up with snow.

My little horse must think it queer
To stop without a farmhouse near
Between the woods and frozen lake
The darkest evening of the year.

He gives his harness bells a shake
To ask if there is some mistake.
The only other sound’s the sweep
Of easy wind and downy flake.

The woods are lovely, dark, and deep,
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.

Menurut Flanagan, bait terakhirlah yang memberi kekuatan luar biasa kepadanya. Memang hutan itu begitu bagus, memesona. Namun aku punya janji untuk kupegang; dan masih bermil-mil perlu ditempuh sebelum aku tidur; dan masih bermil-mil perlu ditempuh sebelum aku tidur. Masih begitu banyak hal yang bisa dikerjakan—begitu banyak! Karena itu, dia harus bangkit kembali.

Jadi, begitulah, Flanagan bangkit berkat kekuatan tulisan, the power of writing—sebuah puisi Frost yang menginspirasi dan menggerakkan. Tanpa disengaja oleh Frost, tentunya. Sangat boleh jadi, bahkan, selain Flanagan, ada orang lain yang telah terinspirasi dan tergerakkan oleh puisi itu. Namun, di sini Flanagan telah tulus mengakuinya.

Memang, meski berprofesi sebagai profesor, panggilan jiwanya sebenarnya menjadi “penulis”. Berkali-kali dia menegaskan hal ini: “The only thing I want to be is to be a writer—a successful writer.” (Satu-satunya keinginan saya yang terkuat adalah menjadi seorang penulis yang sukses.) Karena itu, ketika mengambil M.A dan Ph.D di University of Michigan – Ann Arbor, dia mengasah dan mengejar cita-citanya itu.

Tentu saja, katanya, Flanagan suka membaca Shakespeare dan pengarang-pengarang hebat dunia. Namun, Frost-lah yang telah banyak berpengaruh bagi kehidupan dan kepengarangan Flanagan. Inilah keajaiban yang diberikan Frost (tanpa disengaja) kepada penulis berdarah Afrika-Amerika ini. Hal ini persis dengan bagaimana buku-buku Plato, Shakespeare, Jane Austen, Ernest Hemingway, Naguib Mahfouz, Toni Morrison, HAMKA, Iwan Simatupang, Budi Darma, dan sebagainya memberikan keajaiban-keajaiban bagi para penulis setelahnya.

Berkat kebangkitan dari titik balik yang dialaminya, yang digerakkan oleh puisi Frost, Flanagan telah meniti karirnya dalam dunia menulis, di samping juga mengajar tentang menulis, sastra Karibia dan Afrika-Amerika, dan analisis sastra. Sebuah perpaduan yang saling menguatkan bertumbuh dan berkembang di dalam dirinya.

Hingga kini, dia sudah menghasilkan banyak esei yang bertebaran di berbagai jurnal; juga beberapa buku yang berkualitas, serta berbagai hadiah sastra yang bergengsi. Itulah sebabnya dia juga sebagai duta budaya AS yang berkeliling ke belasan negara di dunia. Sangat mungkin dia sedang menebarkan berbagai keajaiban untuk banyak (calon) penulis, bukan?

Refleksi

Sebagai epilog tulisan ini, agaknya perlu ditegaskan alangkah pentingnya pengalaman Flanagan bagi kita sebagai (calon) penulis. Pada satu sisi kita merasakan inspirasi karya-karya yang telah kita baca sebelumnya, dan bahkan telah digerakkannya untuk berkarya. Para penulis yang karya-karyanya kita baca adalah guru-guru kreatif kita, yang telah menginspirasi dan menggerakkan kita.

Pada sisi lain, amat boleh jadi, tanpa kita sadari, tulisan-tulisan kita telah dan akan menginspirasi dan menggerakkan penulis dan calon penulis setelah era kita. Kemudian, para penulis pasca era kita itu juga akan menginspirasi dan menggerakkan penulis dan calon penulis pasca era mereka. Jadi, ada efek estafet dan domino bagi tulisan kita untuk bertumbuh-berkembang tanpa sepengetahuan kita.

Karena itu, tentang apa yang kita tulis, bergantung pada kita. Jika kita menulis hal-hal yang memperkaya pikiran dan jiwa orang lain, maka tulisan-tulisan itu akan menginspirasi dan menggerakkan mereka untuk mengestafetkan kekayaan pikiran dan jiwa kepada orang berikutnya. Sebaliknya, jika kita menulis hal-hal yang destruktif sifatnya, maka agaknya tak perlu berharap untuk memanen buah-buah pikiran mencerahkan di kemudian hari.***

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.