Karya Ilmiah Dosen di Tengah Kesibukan

djuwariOleh: Dr. Djuwari, M.Hum

MEPNews.id -Dosen, sampai saat ini, masih terikat tiga pilar (Tridarma Perguruan Tinggi) sebagai tugasnya: mengajar, meneliti, dan mengabdi.

Yang paling mudah dikerjakan hanya mengajar. Kebiasaan turun-temurun ini sudah lama dikerjakan. Masuk kelas, bawa materi atau buku wajib, siap power point, kemudian berinteraksi di kelas dengan mahasiswa. Rutinitas ini sudah menjadi kebiasaan melekat (habit).

Mengabdi itu gampang-gampang susah. Ini menyangkut manajemen waktu. Waktu mengajar dengan persiapan yang matang memerlukan adaptasi bagaimana dosen bisa mengabdi. Sebut saja pengabdian masyarakat. Dosen harus ke lapangan dan atur waktu dengan pihak lain. Sasaran pengabdian melibatkan pihak lain, yaitu masyarakat umum. Tidak sedikit, jadwal kuliah terjadi bentrok jika dikaitkan dengan penjadwalan pihak lain.

Meneliti sangat erat dengan penulisan karya ilmiah. Hasil penelitian dapat dijadikan karya tulis layak terbit di jurnal ilmiah. Di sela-sela tiga pilar itu, penelitian jadi kunci utama dosen dalam menerbitkan karya ilmiah. Dari tiga pilar tugas utama dosen di negeri ini sangat besar bebannya. Namun, Tridarma itu sudah menjadi kewajiban dosen. Dengan kata lain, dosen tetap melakukan tugas meneliti, mengajar, dan mengabdi.

Belum lagi persyaratan jurnal ilmiah. Jurnal ilmiah itu hasil penelitian. Namun, tidak berarti ketikan atau print-out hasil penelitian itu bisa diterbitkan langsung. Masih ada tahapan lain. Misalnya, cara menuliskan kembali format laporan penelitian menjadi artikel ilmiah untuk jurnal ilmiah. Kebiasaan inilah yang belum banyak dijadikan kebiasaan (habit) seperti kebiasaan mengajar. Itu sebabnya, tidak mudah bagi semua dosen seluruh negeri dapat menerbitkan artikel ilmiah.

Artikel ilmiah memilik ciri-ciri unik tersendiri. Jika kita amati, gaya selingkung setiap jurnal dan penerbit jurnal ilmiah berbeda-beda. Tidak sedikit pula, para penulisnya gagal di awal akibat gaya penulisannya beda dengan yang dipersyaratkan penerbitnya. Akibatnya, artikel dikembalikan sebelum direview isinya.

Yang lebih menyedihkan, jika isi penelitiannya baik, tetapi gara-gara cara penulisannya tidak sesuai, maka akhirnya dikembalikan— gagal. Dari situ, tampak adanya kiat-kiat menulis artikel jurnal ilmiah yang memerlukan keterampilan tersendiri.

Dalam kesibukan melaksanakan tugas Tridarma perguruang Tinggi, dosen masih harus ribet mempelajari teknik penulisan karya ilmiah. Apalagi, jika setiap penerbit jurnal ilmiah memiliki gaya selingkung berbeda-beda. Adaptasi pada gaya penulisan juga bukan hal mudah jika dosen tidak selalu membaca setiap penerbit jurnal ilmiah.

Contoh saja, ada seorang dosen mengirimkan artikel ke jurnal ilmiah internasional. Belum disunting isinya, sudah dikembalikan. Hanya karena gaya penulisannya sedikit beda dengan gaya yang dianjurkan penerbitnya. Waktu dikembalikan, ada saran penyesuaian. Ini berarti harus ada waktu yang disisihkan untuk megerjakan sesuai saran. Proses ini masih panjang karena nantinya juga ada revisi isi dan logika penulisan.

Dari tiga pilar, dosen memikirkan mana yang lebih utama? Di sinilah, kecenderungan akan lebih mementingkan mengajar dan mendidik mahasiswanya. Tidak mungkin, proses belajar mengajar (PBM) ditinggalkan dan beralih ke penelitin dan pengabdian. Prioritas seperti ini, dosen bisa terlambat khususnya dalam menulis karya ilmiah sebagai kewajiban mutlak.

Meneliti, mengajar, atau mengabdi itu semuanya wajib. Kewajiban itu sudah jelas dalam kolom penilaian dosen. Sebut saja, bagi yang sudah sertifikasi dosen (serdos), maka tiga jenis kegiatan itu wajib diisi tanpa ada yang kosong. Ini termasuk penilaian kepangkatan dosen. Dari pangkat Asisten, ke Lektor, sampai ke Lektor Kepala pun, tiga pilar harus terisi.

Kembali lagi tentang meneliti dan menulis.

Sekarang sudah banyak jurnal nasional bertebaran. Empat bulan lalu saja, jumlahnya sudah 7.300-an. Kita tidak dapat membayangkan, bagaimana sejumlah jurnal tersebut memperoleh artikel ilmiah. Padahal artikel yang diterbitkan harus ilmiah berdasarkan penelitian. Kalau masing-masing jurnal minimal lima artikel saja, berarti dibutuhkan 7300 kali 5 artikel. Jika masing masing terbit dua kali setahun, berarti dikalikan 2 kali. Dalam satu tahun, dibutuhkan sedikitnya 73.000 artikel hasil penelitian dosen yang sudah siap ditulis dan direview.

Dari sini, ada banyak persoalan. Pertama, dengan beban tiga pilar dosen yang masing-masing tidak bisa ditinggalkan. Kedua, sementara, semua jurnal di negeri membutuhkan sedikitnya 73,000 artikel setahun. Itu jika masing-masing hanya menerbitkan 5 artikel. Padahal, ada pula yang menerbitkan 10 sampai 12 artikel. Tentu jumlahnya akan lebih besar lagi.

Mengamati kondisi seperti itu, pemerintah lebih baik mengonsentrasikan strategi cara menstabilkan semua jurnal ilmiah di negeri. Kemudian, meninjau ulang, tugas dosen dengan kewajiban tiga pilar itu. Tiga pilar, itu belum lagi, bagi dosen yang menjabat posisi adminsitrasi. Sebut saja, jabatan Rektor, Pembantu Rektor, Dekan dan Wadek, Kajur, dan Sekjur. Juga beberapa unit administarasi yang banyak menyita waktu dan dijabat dosen. Tidak kah, kebiasaan mengajarnya terganggu? Menulis tetap penting dan wajib. Namun, Mengajar juga tugas utama.

Lalu, bagaimana mengabdi? Beberapa tahun silam pernah ada wacana, dosen bisa bidang sebagai peneliti atau dosen bidang khusus mengajar. Kalau sekarang ada menteri khusus menristekdikti dan mendikbudnas, itu berarti ada spesifikasi untuk meningkatkan kinerja bidang masing-masing. Dan, itu terbukti. ***

Penulis adalah:

  • Pengamat Pendidikan dan Sosial,
  • President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER),
  • Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.