Guru Dulu dan Sekarang: Sebuah Refleksi Pergeseran Esensi Mendidik

aangOleh: Aang Fatihul Islam*

MEPNews.id – Degradasi moral yang begitu deras menjamah para peserta didik di negeri ini bukan tanpa sebab.

Guru dulu dan sekarang, meskipun tidak bisa dikatakan semuanya, nampaknya berbeda dalam esensi mendidik. Guru dulu, meskipun tidak secanggih guru sekarang dalam penguasaan metode mengajar, tetap menekankan moral peserta didik agar menjadi menusia yang baik. Guru sekarang lebih menonjolkan bagaimana mengajar yang serba modern dan canggih akan tetapi nampaknya mengesampingkan moral peserta didik. Yang penting siswa berprestasi.

Dari fenomena di atas, yang menjadi kegelisaan saya adalah bergesernya hakikat mendidik menjadi mengajar. Mengapa demikian? Hal ini karena mendidik dan mengajar berbeda.

Mendidik mencakup dua wilayah sekaligus. Wilayah akademik berarti dalam proses belajar mengajar ada transfer pengetahuan atau aspek kognitif. Yilayah humanisme berarti upaya untuk memenusiakan peserta didik sebagai ‘manusia’ bukan sebagai ‘benda mati’. Karena dianggap sebagai manusia, berarti ada upaya agar peserta didik menjadi manusia yang baik. Dalam istilah salah satu pilar pembelajaran yang dideklarasikan UNESCO, itu disebut ‘learning to be’ (pembelajaran untuk membangun jati diri).

Mengajar hanya mencakup aspek wilayah akademik. Sehingga, mendidik pasti mengajar, akan tetapi mengajar belum tentu mendidik. Maka, mendidik lebih berat daripada mengajar.

Seorang guru seharusnya mendidik, tidak hanya mengajar. Kalau guru hanya mengajar, yang penting adalah memberikan pemahaman materi yang disampaikan. Itu saja sudah dianggap tercapai indikatornya. Prestasi secara akdemik bukanlah patokan utama dalam pendidikan, karena hanya mencakup salah satu aspek dalam pendidikan.

Kaidah ‘Al-Muhafadhotu ‘Ala Qodimish Sholih wal Akhdhu Bil Jadiidil Ashlah’ sangatlah penting untuk dijadikan acuan. Karakteristik guru dulu yang tetep menekankan nilai moral patut dipertahankan. Kecenderungan guru sekarang untuk mengedepankan prestasi dari metode dan model pengajaran up to date juga perlu diambil agar terjadi keseimbangan (balancing). Hal ini sangat penting untuk difahami karena guru yang mampu mendidik secara seimbang akan menentukan nasib Indonesia di masa mendatang.

Guru dianalogikan sebagai ‘seorang pelukis.’ Hal ini karena gambar Indonesia beberapa tahun yang akan datang adalah hasil lukisan dari guru. Semoga para guru dapat menjadi pelukis-pelukis yang baik.

Aamiin. ***

 

Penulis merupakan

  • Ketua Lingkar Studi Santri (LISSAN), dan
  • Dosen STKIP PGRI Jombang

Facebook Comments

POST A COMMENT.