Cinta pada Pandangan Pertama? Ah, Mungkin Cuma Nafsu

MEPNews.id – Kita tentu pernah melihat film ketika dua orang bertemu lalu merasakan koneksi romantis instan. Bahkan, ‘cinta pada pandangan pertama’ telah menjadi andalan sastra selama ribuan tahun. Lalu, orang-orang dalam kehidupan nyata juga mengklaim pernah mengalami hal serupa.

Tapi apakah perasaan yang tiba-tiba muncul itu cinta betulan? Mungkin ‘ya’ bagi beberapa orang. Tapi, secara ilmiah, itu saja tidak cukup. Mindy Weisberger, penulis senior untuk LiveScience, pada 7 Desember 2017 mengungkapkan temuan ilmiah yang dipublikasikan online 17 November di Journal of the International Association for Relationship Research itu.

Para peneliti menyelidiki apakah orang-orang merasakan cinta pada pandangan pertama (CP3) atau apakah mereka percaya secara retroaktif bahwa mereka merasa seperti itu, begitu mereka telah membentuk keterikatan pada pasangan romantis. Para ilmuwan juga mempertanyakan apakah apa yang orang sebut sebagai ‘cinta’ pada pertemuan pertama itu benar-benar mewakili emosi kompleks yang membentuk cinta, atau hanya ketertarikan kuat secara fisik alias sekadar ‘nafsu’.

Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan, ‘merasa jatuh cinta’ bisa mengaktifkan area tertentu di otak. Lokasi aktivitasnya dapat bervariasi, tergantung pada jenis cinta apa yang dirasakan orang tersebut. Antara lain cinta emosional, cinta ibu atau cinta kasih. Cinta yang intens dan penuh gairah bisa mengaktifkan jaringan yang sama di otak seperti yang dibangkitkan kasus-kasus kecanduan. Lebih banyak ‘cinta jangka panjang’ bisa memicu respons di daerah otak yang terkait dengan keterikatan dan respek.

Para peneliti sebelumnya juga melaporkan bahwa 1 dari 3 orang di negara-negara Barat mengaku telah mengalami CP3. Perasaan itu terkait dengan lebih banyak gairah dan ikatan lebih kuat dalam hubungan tersebut. Tapi, hanya ada sedikit bukti ilmiah yang menunjukkan CP3 terjadi ketika orang-orang mengira hal itu terjadi, yakni saat pertemuan pertama mereka, atau mereka hanya mengingat hal itu terjadi melalui kacamata perasaan romantis saat ini.

Maka, para ilmuwan mengumpulkan data dari sekitar 500 pertemuan pertama antara hampir 400 resonden; kebanyakan mahasiswa Belanda dan Jerman pada usia 20an. Peneliti menggunakan tiga tahap pengumpulan data; survei online, studi laboratorium dan tiga kencan yang berlangsung 90 menit. Lalu, peneliti mengumpulkan informasi dari responden tentang bertemu calon pasangan romantis. Mereka mencatat apakah responden mengatakan mereka merasakan sesuatu yang mirip dengan CP3, dan bagaimana daya tarik fisik yang mereka nilai atas orang yang memicu perasaan itu.

Untuk mendefinisikan apa yang memenuhi syarat sebagai ‘cinta’, responden diminta mengisi analisis diri tentang beberapa komponen kunci: ‘eros’ (daya tarik fisik), ‘keintiman’, ‘gairah’ dan ‘komitmen.’

Dalam penelitian, 32 individu berbeda dilaporkan mengalami CP3 sebanyak 49 kali –dan pengamatan tersebut biasanya tidak disertai dengan penilaian tinggi untuk komponen cinta antara lain keintiman dan komitmen.

Namun, laporan tentang CP3 memang sesuai dengan prospek pasangan potensial yang memberi skor lebih tinggi secara fisik menarik. Sekitar 60 persen responden penelitian yang merasakan CP3 adalah wanita, namun pria cenderung melaporkan perasaan CP3 ‘di tempat’. Dalam setiap kasus, pengalaman mereka tentang CP3 tidak saling-berbalas. Ini menunjukkan CP3 yang bersama, seketika, dan saling-berbalas jarang terjadi.

Para penulis hasil penelitian menyatakan, CP3 pada kenyataannya hanyalah ‘daya tarik awal yang kuat’ yang dikira orang sebagai ‘cinta’ pada saat mereka langsung merasakannya atau saat dalam retrospeksi. Meskipun beberapa responden penelitian yang sudah terlibat ‘cinta’ dengan seseorang melaporkan mereka jatuh cinta pada pandangan pertama, sulit untuk mengatakan dengan pasti apakah itu terjadi seperti yang mereka ingat sebetulnya.

Para ilmuwan menuliskan, menjawab pertanyaan di atas akan memerlukan penyelidikan lebih lanjut mengenai hubungan romantic. Ini untuk melihat bagaimana perasaan cinta yang seketika dan kuat itu dimainkan dari waktu ke waktu.

Facebook Comments

POST A COMMENT.