Sarapan atau Tidak? Cek Berat Badan Dulu!

MEPNews.id – Di Bumi ini, ada banyak jenis pola makan. Ada yang makan sedikit tapi sering, ada yang melewatkan makan siang, ada yang banyak puasa, ada yang makan di antara jam-jam tertentu, bahkan ada orang-orang tertentu yang tidak makan sama sekali dalam waktu sangat lama. Pola makan ini ada yang terkait spiritualitas, tapi banyak diet yang demi penurunan berat badan.

Khusus untuk penurunan berat badan, makanan yang sering dilewatkan adalah sarapan. Padahal, sejumlah penelitian memiliki hasil bervariasi soal bagus atau tidaknya. Ada studi yang menyatakan tidak sarapan bisa meningkatkan risiko aterosklerosis (pengerasan arteri), pemicu serangan jantung atau stroke. Studi lain terhadap gadis usia 11-15 tahun menemukan, melewatkan sarapan tidak memiliki efek kesehatan yang buruk dan bahkan bermanfaat yakni mengasup lebih sedikit kalori. Lalu, ada studi yang diterbitkan Journal of Nutrition bahwa sarapan pagi membantu orang mengendalikan indeks massa tubuh (BMI) dengan lebih baik.

Maka, para ilmuwan di University of Bath di Inggris berfikir keras tentang semua penelitian laporan yang saling bertentangan ini. Maka, sebagaimana dikabarkan Philip Perry di BigThink edisi 6 Desember 2017, mereka memutuskan untuk menyelidiki sendiri. Mereka ingin tahu pasti bagaimana tidak sarapan bisa mempengaruhi penurunan berat badan, dan mekanisme metabolisme apa yang terjadi. Temuan mereka dipublikasikan di Journal of Physiology.

Javier Gonzalez PhD dan tim penelitian merekrut 49 orang responden. Berdasarkan hitungan BMI masing-masing, tercatat 29 langsing dan 20 gemuk. Responden kurus dan gemuk ini dicampur dan dimasukkan ke dalam dua kelompok. Yang pertama, menikmati sarapan setiap hari sebelum siang. Yang kedua, tidak sarapan dan baru makan siang hari. Saat studi enam minggu, periset juga meneliti kesehatan jantung, kesehatan metabolik, distribusi lemak tubuh, dan respon nafsu makan. Selain itu, mereka memantau 44 gen untuk sensitivitas insulin.

Setiap hari penelitian, para peserta menyumbangkan dua sampel jaringan adiposa abdomen subkutan (SCAT). Ini dilakukan sebelum dan sesudah puasa pagi atau sarapan pagi. SCAT adalah sejenis lemak perut. Sampel SCAT dievaluasi untuk mengetahui mekanisme metabolik. Gonzalez berkata, “Dengan lebih memahami bagaimana lemak itu merespons apa dan kapan kita makan, maka kami bisa lebih tepat menargetkan mekanisme tersebut.”

Apa yang mereka temukan? Tak jauh beda dengan penelitian sebelumnya. Yang membedakan adalah data bahwa melewatkan sarapan bisa menyehatkan orang kurus tapi tidak begitu bermanfaat untuk orang gemuk. Bagi orang kurus, tidak sarapan membantu mengaktifkan gen tertentu yang membakar lemak dan meningkatkan metabolisme. Untuk orang gemuk, ini tidak terjadi.

Melewatkan sarapan bahkan memiliki efek negatif pada kesehatan orang gemuk. Responden gemuk, yang melewatkan sarapan, ternyata lebih sedikit menyerap glukosa daripada yang kurus. Ini berarti, sel-sel lemak mereka mungkin menjadi lebih kebal insulin. Gonzalez dan tim menduga, ini mekanisme perlindungan yakni membantu sel-sel lemak menghindari mengambil glukosa lebih banyak daripada yang dibutuhkan, dan menyimpannya sebagai lemak.

Salah satu keterbatasan penelitian ini adalah jenis sarapan yang dikonsumsi responden penelitian. Sarapan itu ternyata berkarbohidrat tinggi. Pertanyaannya, akankah sarapan protein tinggi, misalnya, memberi respon yang sama? Gonzalez hanya menjawab, penelitian masih dilanutkan. Di masa mendatang, ia akan melakukan studi untuk melihat dampak olahraga dan sarapan pagi terhadap penyimpanan lemak.

Facebook Comments

POST A COMMENT.