Nasi Kerabu, Beras Putih Jadi Biru

MEPNews.id – Kalau sedang jalan-jalan ke Malaysia, menyantap nasi lemak, nasi gurih, roti canai, dan teh tarik, sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah dan umum. Nah, bagaimana kalau mencoba makan nasi kerabu? Wow, namanya mungkin masih asing. Tapi, saya jamin, makanan khas negeri Terengganu dan Kelantan ini rasanya lebih bersahabat dengan lidah orang Indonesia.

Yang khas dari nasi kerabu adalah warnanya. Makanan dari kawasan pesisir pantai timur Semenanjung Malaya ini bewarna biru karena ditanak bersama kelopak bunga telang. Bunga telang direndam semalaman, lalu beras yang sudah dicuci dimasukkan ke dalamnya. Agar lebih berrasa, biasanya ada tambahan irisan bawang putih, bawang merah, serai, rempah, dan bumbu lain. Lalu, beras ditanak sampai matang.

Selain warnanya yang biru, nasi kerabu punya aroma khas rempah yang diiris halus. Antara lain dari bunga kecombrang, daun kesom, daun kadok, daun pegagan, daun kunyit, atau daun kencur. Rasanya, jika dimakan hanya nasinya, gurih dan hangat di perut.

Seperti umumnya makanan Indonesia, nasi kerabu berarti campuran daun-daunan mentah (ulam). Meski sama-sama berisi sayur dan daun mentah, bedanya nasi kerabu dengan nasi ulam adalah warnanya yang biru. Seperti nasi ulam, nasi kerabu biasanya juga dihidangkan dengan lauk seperti ikan asin, kelapa parut, ayam goreng, ayam percik, tauge, cumi-cumi, solok lada, telur asin, atau kerupuk.

kerabu kedaiDi Kuala Terengganu, saya bersama teman-teman mahasiswa UPN Veteran Jatim padaOktober 2017, dijamu teman-teman mahasiswa Universiti Sultan Zainal Abidin untuk menikmati makanan lokal. Nah, saya menikmati nasi kerabu ini di kedai Norraa Rich.

Nasi kerabu di kedai ini ada yang berwarna kuning karena berasnya ditanak dengan kunyit. Ada pula yang berwarna putih seperti nasi lemak. Nasinya disajikan di atas piring yang beralaskan kertas minyak atau daun pisang.

Saya sangat menikmati nasi kerabu ini karena komposisi di dalamnya terdapat banyak ulam yang menyegarkan. Banyaknya sayuran ini mirip nasi urap di tempat tinggal saya di Bali. Selain itu, saya tidak ‘eneg’ karena minimnya santan dalam makanan ini.

Yang istimewa, lauknya daging kambing bakar. (Stefanus Ari Wicaksono)

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.