Mengapa Tidak Bertanya Kapan Kamu Meninggal?

MEPNews.id —- Saat seorang menginjak usia 20 tahun ke atas, pertanyaan berseliweran soal kapan nikah? Apalagi sudah berinjak usia 30an, kekepoan orang untuk bertanya kapan menikah? Semakin banyak, dan memandang sinis para jomblo yang tidak kunjung-kunjung menikah. Dengan entengnya orang-orang itu bertanya? Dan memojokkan para jomblo kenapa kok belum menikah? “Jangan banyak milih…” saran tetangga sekaligus menuduh. “Cari yang seperti apa? Apa tidak ada to yang cocok?” pertanyaan yang lagi-lagi menuduh, “Salah apa dulu, sampai-sampai tidak dapat jodoh” nyinyir tetangga lagi.

Pertanyaan dan nyinyiran mereka yang tidak tahu atau tidak mau tahu tentang hakikat dan rahasia jodoh, membakar emosional orang tua yang putri atau putranya tidak kunjung menikah. Memarahi dan merasa tidak berguna karena tidak dapat menikahkan anaknya. Apa mereka tidak berpikir? Siapa orangnya yang mau lama menjomblo? Siapa orang yang mau tiap hari, tiap waktu bertemu orang ditanya kapan menikah? Siapa orang yang ingin-ingin sendiri? Dan siapa orang yang tidak ingin menyempurnakan dinnya?

Pertanyaan dan ungkapan nyinyir masyarakat itu seperti sembilu yang mengiris batin para jomblowan-jomblowati. Tidakkah melihat betapa dia sudah berikhtiyar pagi dan sore, mencari separuh jiwanya. Siang – malam berdoa untuk didekatkan dan disegerakan bertemu jodohnya. Bahkan sampai ikutan biro jodoh, itupun belum tentu jodohnya bertemu disana.

Setali tiga uang bagi pasangan yang sudah lama berumah tangga yang belum memiliki momongan, masyarakat lagi-lagi kepo berlebihan. Pertanyaan sederhana kapan punya anak? Itu sudah sangat menyakitkan bagi pasangan yang belum punya momongan. Apalagi dengan terang-terangan berkata “Jangan ditahan-tahan, kalau punya anak itu enak ada hiburan, nanti pas tua ada yang ngramut”, lebih tak berperasaan lagi berkata “mandul ya…gopok… benihnya gabuk…”. Mengapa tidak berpikir, siapa orangnya yang mau hidup tanpa anak? Siapa orangnya yang mau dikatakan mandul? Siapa orangnya yang mau dikatakan gagal membentuk rumah tangga?

Tidakkah kita berpikir, mereka yang belum punya momongan, ikhtiyarnya lebih besar daripada kita-kita yang diamanahi anak. Biaya berapapun, ikhtiyar model apapun rela mereka lakukan demi mendapatkan sebuah momongan. Terus mengapa mereka belum punya anak? Mengapa mereka belum menikah? Tanyakan kepada yang menjadikan benih menjadi janin, tanyakan kepada yang mengikatkan tali perjodohan? Kita punya hak apa sebagai manusia? Pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting itu menyakiti mereka. Mengapa tidak bertanya yang bisa digapai olehnya bukan hak perogratif Allah? Misal bertanya “kapan punya rumah? Kapan punya mobil?”

Jodoh, anak dan kematian adalah hak perogratif Allah, tidak ada yang mampu menjawab kapan datangnya, mengapa belum datang, mengapa tidak punya anak. Anehnya masyarakat kita tidak ada yang Tanya. “Kapan kamu meninggal?” padahal kematian adalah niscaya dan pasti. Ya.. jikapun ada yang bertanya seperti itu, siap-siaplah untuk dilempar sandal. Pertanyaan kematian sama sakitnya bahkan lebih sakit jika pertanyaan soal jodoh dan anak ditanyakan kepada orang yang belum memilikinya.

Renungilah bahwa apa nikmatnya mempunyai anak, jika anak kita tidak kita bekali dengan kebaikan dan ketakwaan. Anak dan pasangan adalah fitnah bagi manusia, jika amanah yang dititipkan kepada kita, tidak kita jaga dengan baik, tidak kita didik dengan baik, bisa jadi amanah itu menjadi boomerang bagi kita sendiri. Maka jangan bangga saat kita sudah mendapatkan jodoh. Jangan bangga jika rumah tangga kita dilengkapi dengan anak-anak yang menjadi amanah kita. Dan bukan hak kita menghakimi mereka yang belum mendapatkan amanah dari Allah. Karena Allah Maha Tahu, apa yang terbaik bagi hambanya. (Zida_Gym)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.