Bersyukurlah Dipanggil ‘Guru’

khusnaOleh: Khusnatul Mawaddah

MEPNews.id – Langkah kaki sempat gontai, sambil membonceng anak dengan sepeda jengki, saat saya mengirim surat lamaran ke lembaga pendidikan untuk menawarkan ijazah sarjana yang tidak linier dengan profesi guru. Ada yang menanggapi sinis penuh keraguan, ada yang biasa-biasa saja, ada yang cuek ketika saya sodorkan surat lamaran itu. Akhirnya, ada panggilan tes mengajar di sebuah yayasan ponpes. Syaratnya, saya harus berbusana syar’i, menjaga nama baik lembaga, dan bla bla bla lainnya. Semua saya catat dalam hati.

Awalnya, saya merasa berdebar saat mendapatkan pengalaman pertama mengajar di TPQ atau taman pendidikan Al-Qur’an. Akhirnya, seiring berjalannya waktu, tak terasa saya sudah 14 tahun ikut menjadi bagian dari program pemerintah untuk mencerdaskan anak bangsa. Meski berstatus guru yayasan, namun pemerintah sudah menghargai jerih payah ini dengan bermacam-macam subsidi.

Bersyukur banyak yang sering mengingatkan saya saat bertatap muka dengan anak didik. Mengawali kegiatan dengan berdoa, mengakhiri kegiatan dengan berdoa. Proses pembelajaran yang fully happy membuat hati serasa jauh dari keruwetan hidup. Bagi saya, anak-anak didik ini ibarat menerangi jalan syurga. Tatkala  sedikit saja guru melakukan kekhilafan, anak didik berani menegur atau menanyakan.

Menjadi guru adalah menjalani profesi yang sangat mulia sepanjang hayat. Saat di jalan, di pasar, di mall, di warung, lalu bertemu anak didik bersama orang tuanya, pasti dengan nyaring anak-anak memanggil nama kita. Saat akhir semester, hadiah berdatangan sebagai wujud terima kasih ayah-bundanya. Meski guru tidak mengharap, tapi itu seperti sudah jadi rutinitas; ada saja benda-benda yang dihadiahkan pada guru. Saat acara lomba, betapa kuatnya harapan guru agar anak didiknya menjadi juara. Namun, saat ada murid yang pingin BAB atau BAK di tengah waktu pembelajaran pun, guru dengan rela layaknya melayani anak sendiri untuk mengantar murid itu ke kamar kecil.

Seluruh rangkaian kegiatan sekolah mempunyai tujuan untuk menyenangkan anak didik dan orang tuanya. Padahal, tidak sedikit guru yang justru lalai pada kondisi dirinya sendiri, sampai kecapekan dan akhirnya sakit, bisa jadi meninggal. Padahal, ada kesalahan sedikit saja dengan pelayanan di sekolah, protes bisa berdatangan, dan guru pun dengan ikhlas menerima kesalahan lalu meminta maaf.

Guru ibarat mata air yang selalu memberi, menyegarkan dan mencerahkan. Namun, masih ada ribuan guru yang hidupnya terlantar. Pemerintah punya tugas untuk mengentaskan mereka, karena mereka juga yang menerangi kegelapan. Di pelosok negeri, keberadaan guru masih diharapkan. Sejumlah guru berjuang di antara kondisi geografi yang berat, di pelosok desa yang jauh dari peradaban, di kawasan yang sulit akses jalan, di lembaga dengan sarana pendidikan seadanya, dan lain-lain. Mereka ini butuh perhatian para pemangku kekuasaan. Suksesnya pembangunan negeri kita salah satunya adalah keterlibatan guru di dalamnya; karena guru mengedukasi masyarakat untuk kemajuan bangsanya.

Bersyukurlah wahai insan yang berprofesi guru; harapan dan cita-cita anak negeri tergantung di pundakmu. Semoga keselamatan dan kesehatan selalu menyertai guru. Bahagialah saat nama kita terukir di hati anak didik semua. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.